Konten dari Pengguna

Edukasi Pencegahan Penyalahgunaan Narkotika Jenis Sinte pada Generasi Muda

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizal Holifatul azmi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai mahasiswa, saya melihat bahwa pembahasan mengenai narkotika masih sering dianggap sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan anak muda. Padahal, informasi mengenai narkotika sangat mudah ditemukan di media sosial dan lingkungan pergaulan. Karena itu, menurut saya, edukasi mengenai bahaya narkotika perlu lebih sering dibicarakan dengan cara yang mudah dipahami oleh generasi muda.

Salah satu yang perlu mendapat perhatian adalah narkotika jenis sinte. Istilah sinte cukup sering digunakan untuk menyebut narkotika sintetis, khususnya synthetic cannabinoids atau zat sintetis yang memiliki efek menyerupai senyawa tertentu pada ganja. Masalahnya, sebagian orang mungkin masih menganggap sinte sebagai sesuatu yang tidak terlalu berbahaya karena bentuknya bisa menyerupai tembakau atau bahan yang dapat dibakar dan dihisap.

Padahal, produk ilegal yang mengandung zat sintetis dapat memiliki kandungan dan kekuatan yang berbeda-beda. Hal tersebut membuat efek yang ditimbulkan sulit diprediksi. Menurut saya, kurangnya pemahaman seperti ini justru menjadi salah satu alasan mengapa edukasi mengenai sinte perlu diberikan kepada anak muda.

Ilustrasi dibuat menggunakan AI (ChatGPT), 2026

Generasi Muda Perlu Mendapat Informasi yang Benar

Berdasarkan penelitian nasional yang dilakukan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama BRIN dan BPS pada 2025, prevalensi penyalahgunaan narkoba pada penduduk usia 15–64 tahun mencapai 2,11 persen atau sekitar 4,15 juta orang. Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun 2023 yang berada pada 1,73 persen.

Pada kelompok usia 15–24 tahun, prevalensinya tercatat sebesar 2,53 persen. Data tersebut merupakan angka penyalahgunaan narkoba secara umum dan bukan khusus pengguna sinte. Namun, menurut saya, angka tersebut tetap menunjukkan bahwa kelompok usia muda perlu menjadi salah satu perhatian dalam upaya pencegahan.

Saya tidak melihat edukasi sebagai sekadar kegiatan untuk menakut-nakuti anak muda agar menjauhi narkotika. Justru sebaliknya, edukasi harus membuat mereka memahami alasan mengapa narkotika berbahaya dan apa yang harus dilakukan ketika mendapatkan ajakan dari lingkungan sekitar.

Sinte Bukan Sesuatu yang Bisa Dianggap Sepele

Salah satu hal yang menurut saya perlu diluruskan adalah anggapan bahwa sinte aman karena berbeda dengan narkotika yang selama ini lebih dikenal masyarakat.

Sinte yang beredar secara ilegal dapat mengandung zat psikoaktif dengan efek yang berbeda-beda. Berdasarkan tinjauan sistematis yang diterbitkan pada 2025, penggunaan synthetic cannabinoids dapat berkaitan dengan gangguan pada sistem saraf dan kardiovaskular. Beberapa dampak yang dilaporkan antara lain kejang, perubahan kesadaran, peningkatan denyut jantung, dan tekanan darah tinggi.

Risikonya juga tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik. Penyalahgunaan narkotika dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari, pendidikan, hubungan sosial, dan kehidupan seseorang.

Menurut saya, informasi seperti ini penting untuk diketahui generasi muda. Bukan supaya mereka merasa takut, tetapi supaya mereka tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan informasi dari teman atau media sosial yang belum tentu benar.

Edukasi Tidak Cukup Hanya dengan Larangan

Menurut saya, kalimat seperti jangan menggunakan narkoba memang penting, tetapi belum cukup. Anak muda juga perlu mengetahui alasan di balik larangan tersebut.

Misalnya, ketika seseorang mendapatkan ajakan dari teman, bagaimana cara menolaknya? Apa yang harus dilakukan ketika menemukan informasi mengenai narkotika di media sosial? Kepada siapa harus meminta bantuan ketika ada teman yang mulai menunjukkan perilaku berisiko?

Hal-hal seperti ini seharusnya juga menjadi bagian dari edukasi.

Sekolah dan perguruan tinggi dapat memberikan edukasi melalui seminar, diskusi, kegiatan organisasi, maupun kampanye di media sosial. Namun, penyampaiannya menurut saya perlu dibuat lebih dekat dengan kehidupan anak muda. Jangan sampai edukasi hanya berupa ceramah satu arah yang akhirnya mudah dilupakan.

Di perguruan tinggi, mahasiswa juga bisa dilibatkan sebagai bagian dari pencegahan. Mahasiswa dapat membantu menyebarkan informasi yang benar kepada teman dan lingkungan sekitarnya.

Menurut saya, pencegahan narkotika seharusnya tidak hanya berisi larangan. Generasi muda perlu dibekali pengetahuan agar mampu memahami risikonya, menolak ajakan dari lingkungan, dan mengetahui tempat untuk mencari bantuan ketika menghadapi masalah.

Sebagai mahasiswa, saya melihat bahwa edukasi yang dilakukan secara terbuka dan tidak menghakimi akan lebih membantu anak muda memahami persoalan ini. Generasi muda bukan hanya pihak yang harus dijauhkan dari narkotika, tetapi juga bisa menjadi bagian dari upaya menyebarkan informasi yang benar.

Pada akhirnya, mencegah penyalahgunaan narkotika bukan hanya tentang mengatakan jangan mencoba, tetapi juga memberikan alasan yang jelas agar generasi muda memahami mengapa mereka perlu menjaga diri dan lingkungan di sekitarnya.