Konten dari Pengguna

Film Bergman Island: Tersesat di Pulau Sinema

Rizal Nurhadiansyah

Rizal Nurhadiansyah

Saya adalah penulis ulasan film yang aktif di blog dan media online, serta tertarik dengan berbagai genre dan aspek film. Saya juga menulis konten edukasi di Teras Politik, dan sedang menempuh pendidikan di Universitas Brawijaya.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizal Nurhadiansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar oleh Nikola Johnny Mirkovic di Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Gambar oleh Nikola Johnny Mirkovic di Unsplash

Saya adalah penggemar film-film Ingmar Bergman. Saya suka bagaimana Bergman menyediakan tempat untuk bermeditasi dalam setiap karyanya, setidaknya untuk saya. Beliau kerap membicarakan tema-tema iman, moral, kematian, cinta, dan kompleksitas manusia dengan realistis dan intim. Bagi saya, film The Seventh Seal (1957) dan Persona (1966) adalah yang paling berkesan dari semua karyanya.

Saya sebenarnya ingin sekali mengoceh tentang film-film Bergman, sayangnya waktu saya tidak mungkin cukup. Tentu, suatu hari saya akan menulis esai apresiasi untuk karya-karya beliau, terutama dua film di atas. Tetapi sebelum itu, saya ingin mengulas sebuah film yang berhubungan dengan Bergman, yaitu Bergman Island (2021).

Film ini mengikuti sepasang filmmaker, Chris (Vicky Krieps) dan Tony (Tim Roth), yang bepergian ke Fårö, tepatnya pulau fiksi bernama Pulau Bergman. Tujuan mereka adalah mengerjakan proyek mereka masing-masing sambil healing. Sementara Tony fokus menyerap budaya dan sejarah di sana, Chris justru kesulitan menemukan “suara” dan arah dalam proses menulisnya – dan kehidupan pribadinya yang hampa. Dalam naskah yang sedang Chris tulis, dia berusaha menceritakan tentang seorang perempuan muda (Mia Wasikowska) yang mengunjungi kembali cinta pertamanya di Pulau Bergman. Bagi Chris, cerita ini terasa begitu nyata sampai membuatnya tersesat dan kesulitan menentukan kelanjutan ceritanya.

Bergman Island adalah film garapan Mia Hansen-Løve, yang merupakan karya tribute untuk sang legenda sinema. Melalui film ini, Mia berusaha membicarakan tentang kreativitas dalam pembuatan film, hingga kompleksitas perasaan manusia. Mia juga mengajak penonton untuk merenungkan sifat dari inspirasi artistik, dan tantangan dalam menyeimbangkan kehidupan personal dan profesional. Dalam menuturkan ceritanya, Mia menggunakan narasi metafictional yang berlapis-lapis, sehingga memberi efek kabur pada batas antara realitas dan fiksi, serta antara masa lalu dan masa kini.

Gambar oleh Jeremy Yap di Unsplash

Film ini juga memadukan dari berbagai genre dan gaya, mulai dari komedi hingga drama, dari romansa hingga thriller, dari realisme hingga fantasi. Seiring berjalannya cerita, Bergman Island terus berganti perspektif dan timeline – menciptakan narasi yang misterius penuh dengan permainan imajinasi, yang menantang kepala penonton. Dengan Bergman Island, Mia benar-benar menghadirkan penghormatan yang indah dan mendalam untuk Bergman. Film ini menyelipkan berbagai elemen dari karya-karya Bergman – baik secara subtil maupun gamblang – mulai dari adegan, dialog, gambar, hingga ide-ide. Mia juga mampu menangkap nuansa dan atmosfer dari film-film Bergman, yang sering kali menggali topik-topik seperti eksistensialisme, memori manusia, hubungan spiritual dengan Tuhan, dosa-dosa, kematian, dan cinta.

Sebagai film yang memiliki pacing lambat dan minimalis, Bergman Island banyak bertumpu pada kemampuan aktor dalam mentransfer teks dan subteks dari naskahnya. Dalam hal ini, saya harus akui, Mia memilih orang-orang yang tepat. Semua aktor di film ini mampu menambahkan rasa yang melengkapi setiap adegan. Vicky Krieps yang berperan sebagai Chris, dengan brilian menampilkan sosok penulis yang tersesat saat mencari jati dirinya. Tim Roth di sisi lain, sukses memukau sebagai Tony, sutradara terkenal yang congkak dan tidak peka. Tidak lupa, saya juga sangat mengapresiasi penampilan Mia Wasikowska yang menghidupkan karakternya dengan aura misterius sekaligus menawan. Tanpa mereka, film ini akan terasa seperti cerita halu yang membosankan.

video youtube embed

Bagi saya, Bergman Island tidak hanya memberikan penghormatan kepada karya-karya Bergman, tetapi juga menunjukkan keunikan gaya Mia Hansen-Løve yang tenang dan reflektif. Dia tidak membiarkan kebesaran karya Bergman membatasi dirinya dalam mengeksplorasi gaya berceritanya yang juga tak kalah unik. Secara keseluruhan, film ini memang dibuat seolah hanya untuk pencinta karya Bergman dan sinema Eropa pada umumnya. Namun, film ini tetap bisa dijangkau oleh penonton film konvensional, terutama yang tertarik dengan pembahasan tentang kreativitas.

Film Bergman Island dapat kamu saksikan di KlikFilm.