Ketika KPR Sudah Tak Lagi Jadi Momok Menakutkan

Tulisan dari Rizaldy Febriyansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa bulan terakhir ini, intensitas diskusiku dengan Ibu sedikit meningkat. Ibu --yang sekaligus menjadi kepala dan tulang punggung keluarga-- sedang berada dalam kondisi yang cukup dilematis. Sebagai anak lelaki paling tua, peranku sangat Ibu butuhkan dalam mengambil keputusan dari persoalan yang kami hadapi.
Sebetulnya, masalah dilematis yang sedang dialami oleh Ibuku sangat mungkin juga dialami oleh banyak orang di luar sana. Seperti keluarga pada umumnya, masalah yang kerap muncul adalah terkait dengan salah satu kebutuhan pokok manusia yang paling penting, yaitu kebutuhan papan atau tempat tinggal.
Sebagai orang yang selalu memikirkan segala hal dengan sangat detil, Ibu tidak hanya ingin menetap di sebuah "rumah" saja. Namun, ia ingin menetap di rumah yang baik, layak, dan nyaman. Atau orang lain lebih sering menyebutnya dengan "rumah idaman".
Di era sekarang ini, memiliki rumah idaman sebetulnya bukanlah hal yang sulit. Kendala finansial sudah bisa dijadikan nomor dua, karena saat ini masalah tersebut bisa dilalui dengan adanya program cicilan Kredit Perumahan Rakyat (KPR) yang disediakan oleh seluruh perbankan yang ada di Indonesia, baik konvensional mau pun syariah.
Mengambil program cicilan KPR memang menggiurkan. Namun, salah satu jalan pintas untuk mendapatkan rumah tersebut juga tak terhindar dari berbagai persoalan yang cukup membuat dilema, di antaranya adalah proses yang cukup panjang, biaya dalam transaksi, dan juga tentang bunga yang kerap menjadi beban.
Tiga hal utama di atas juga menjadi salah satu faktor yang membuat ibuku ragu. Mengambil program KPR atau harus terus memutar uang hingga nanti bisa membeli rumah secara kontan? Itulah yang terus berputar di dalam diskusi kami.
Berbekal saran seorang kawan yang baru saja lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan di Bank Negara Indonesia (BNI) syariah, aku mencoba mendiskusikan salah satu program menarik yang ia tawarkan, yaitu Griya iB Hasanah.
Griya iB Hasanah adalah sebuah fasilitas pembiayaan konsumtif yang diberikan oleh pihak BNI Syariah kepada anggota masyarakat untuk membeli, membangun, merenovasi rumah (termasuk ruko, rusun, rukan, apartemen dan sejenisnya), dan membeli tanah kavling serta rumah indent, yang besarnya disesuaikan dengan kebutuhan pembiayaan dan kemampuan membayar kembali masing-masing calon.
Selain poin-poin di atas, masih ada beberapa poin menarik dari fasilitas yang diberikan oleh BNI Syariah melalui program KPR-nya ini. Di antaranya adalah proses yang lebih cepat dan sesuai dengan prinsip Syariah. Selain itu, uang muka ringan yang dikaitkan dengan penggunaan pembiayaan.
Hal lainnya yang ditawarkan dalam program KPR BNI Syariah ini adalah angsuran yang tetap hingga masa pelunasan. Lalu, maksimum pembiayaan yang diberikan oleh BNI Syariah sebesar 5 milyar rupiah. Jangka waktu cicilan maksimal 20 tahun untuk nasabah fixed-income. Pembayaran angsuran pun cukup mudah karena dapat langsung didebet dari rekening kita secara otomatis.
Segala keuntungan dan fasilitas yang diberikan oleh Griya iB Hasanah ini memang tak langsung membuat aku dan Ibu mengambil keputusan. Namun, setidaknya fasilitas ini sangat mempermudah kami untuk mengakhiri diskusi yang tak kunjung selesai dalam beberapa bulan terakhir ini. Metode Syariah dan proses yang cepat menjadi poin paling penting dalam membantu kami mengambil keputusan. Bagaimana menurutmu?
Bagi kalian yang juga tertarik dengan program besutan BNI Syariah ini, bisa langsung melihat rincian lengkapnya di http://www.bnisyariah.co.id/produk/bni-syariah-kpr-syariah.
