Konten dari Pengguna

Jangan Cela Atlet Bulu Tangkis Kita

Rizaldy Febriyansyah

Rizaldy Febriyansyah

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizaldy Febriyansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi bulu tangkis. (Foto: Getty Images)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bulu tangkis. (Foto: Getty Images)

Bulu tangkis Indonesia sedang mengalami penurunan prestasi. Hal ini tergambar dalam capaian prestasi di ajang SEA Games 2017, di mana Indonesia mencatatkan sejarah buruk di kompetisi olahraga Asia Tenggara tersebut. Indonesia untuk pertama kalinya gagal meraih predikat juara umum setelah hanya mampu meraih dua medali emas.

Entah siapa yang patut dipertanyakan dengan kegagalan ini. Perubahan jajaran pengurus Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) sudah dilakukan. Sejumlah program-program andalan pun sudah dijalankan. Namun, mengapa prestasi para atlet Indonesia masih kian stagnan.

Para atlet kerap menjadi “korban” atas kegagalan demi kegagalan ini. Tak jarang para penggemar bulu tangkis Indonesia justru terus melakukan aksi bullying kepada atlet-atlet Indonesia lewat sosial media.

Hujatan demi hujatan kian menghiasi kolom komentar sosial media para atlet apabila mereka kalah di suatu turnamen. Terutama apabila mereka kalah dari lawan yang notabene-nya berada di bawah pemain kita, baik segi pengalaman dan peringkat dunia.

Para atlet Indonesia memang membutuhkan kritikan. Namun, mereka hanya membutuhkan kritikan yang membangun, bukan celaan. Semestinya bisa membuat atlet semakin termotivasi untuk berprestasi, bully justru hanya akan menjatuhkan atlet yang bersangkutan.

Julukan “mentokers” karena prestasi yang stagnan dan cenderung kurang maksimal dalam setiap turnamen, sampai ke hujatan yang meminta si atlet untuk keluar dari Pelatnas (Pelatihan Nasional) adalah dua hal yang paling sering tampil di kolom komentar.

Ungkapan pembelaan dari para penggemar pun tak jarang malah membuat suasana semakin keruh. Justru perdebatan panjang yang akan didapatkan, bukan solusi tepat untuk peningkatan performa.

Bukan hal mudah memang untuk meminta para atlet bersikap tak acuh pada setiap hujatan yang ada. Namun, para atlet hanya perlu memilah dan memilih kritikan mana yang memang bisa digunakan untuk memacu diri.

Semanis apa pun buah apel, pasti masih ada orang-orang yang tidak menyukai apel. Begitu pun dengan para atlet, sehebat dan seberprestasi apa pun seorang atlet, pasti masih ada orang yang tidak menyukainya. Terutama saat mereka kalah.

Di sisi lain memang kita juga harus juga bermimpi agar para penggemar bulu tangkis Indonesia memiliki adab yang lebih baik, terutama saat memberikan masukan di sosial media. kebijaksanaan dan kedewasaan harus bisa menjadi landasan dalam memberikan komentar dan masukan.

Bullying tidak akan menyelesaikan masalah. Tiap hujatan yang dikeluarkan lewat kolom komentar di sosial media tidak akan meningkatkan performa para atlet bulu tangkis Indonesia. Namun, dengan memberikan masukan yang baik, setidaknya para atlet bisa berpikir bahwa di luar sana masih ada yang percaya mereka bisa lebih baik dari saat ini.