Belajar Sambil Bermain: Rahasia Anak SD Betah di Sekolah

mahasiswi universitas islam negri raden fatah palembang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rizka Awalianurrohmah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
“Aku senang ke sekolah soalnya banyak mainnya!”
Kalimat itu keluar dari seorang anak SD yang kutemui saat magang di sebuah sekolah dasar swasta di pinggiran kota. Ia berkata dengan mata berbinar, sambil memamerkan hasil gambar warnanya. Dari raut wajahnya, jelas sekali bahwa sekolah bukan tempat yang menegangkan, melainkan ruang aman yang penuh canda dan tawa. Saat itulah aku mulai berpikir: mungkinkah kunci agar anak-anak betah di sekolah adalah belajar sambil bermain?
Pendekatan ini sebenarnya bukan hal baru dalam dunia pendidikan. Sejak lama, para ahli sudah menekankan pentingnya permainan dalam proses belajar anak. Jean Piaget (1951), seorang psikolog perkembangan, menyebutkan bahwa bermain adalah bagian alami dari cara anak memahami dunia. Saat bermain, anak tak hanya bersenang-senang, tapi juga mengembangkan logika, kreativitas, dan keterampilan sosialnya.
Di sekolah dasar, metode ini bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk. Misalnya, guru membuat permainan angka sederhana untuk mengenalkan operasi hitung. Pelajaran bahasa bisa disampaikan lewat dongeng interaktif atau bermain peran. Bahkan sains pun bisa diajarkan lewat eksperimen kecil yang menyenangkan, seperti membuat gunung berapi mini dari cuka dan soda kue. Semua kegiatan ini membuat anak tidak sadar bahwa mereka sedang belajar.
Belajar sambil bermain juga berdampak besar pada kenyamanan anak di sekolah. Lingkungan belajar yang santai dan menyenangkan membantu mengurangi stres, meningkatkan fokus, dan membuat anak lebih terlibat dalam pembelajaran. Anak-anak merasa sekolah bukan tempat yang “menakutkan” dengan hafalan dan tugas berat, melainkan tempat yang menyenangkan untuk tumbuh dan berteman.
Lebih dari itu, pendekatan ini juga melatih keterampilan sosial. Saat bermain kelompok, anak belajar antri, bergiliran, bekerja sama, dan menyelesaikan konflik secara sehat. Nilai-nilai ini tak kalah penting dibanding kemampuan akademik. Bahkan dalam Kurikulum Merdeka, pembelajaran yang menyenangkan, relevan, dan berbasis kebutuhan anak menjadi salah satu kunci keberhasilannya.
Namun tentu saja, bermain bukan berarti pembelajaran kehilangan arah. Guru tetap perlu merancang aktivitas dengan tujuan yang jelas. Permainan harus dipilih secara cermat, agar tetap mendukung capaian belajar yang diharapkan. Di sinilah kreativitas guru diuji: bagaimana menyisipkan nilai edukatif dalam permainan yang tampaknya sederhana.
Sebagai calon pendidik, aku percaya bahwa tugas kita bukan sekadar mengajar, tetapi juga menciptakan suasana belajar yang membuat anak-anak ingin kembali ke sekolah esok hari. Belajar sambil bermain bukan hanya strategi, tetapi juga bentuk cinta pada masa kanak-kanak yang seharusnya penuh warna. Karena di balik tawa kecil anak-anak itu, sedang tumbuh generasi masa depan yang sehat, cerdas, dan bahagia.
Referensi:
Piaget, J. (1951). Play, Dreams and Imitation in Childhood. New York: Norton.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2022). Panduan Implementasi Kurikulum Merdeka. Jakarta: Kemendikbud.
Santrock, J. W. (2011). Educational Psychology. New York: McGraw-Hill.
Suparno, P. (2013). Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.
