Konten dari Pengguna

Sekolah Jadi Rumah Kedua: Cara Anak SD Menemukan Kebahagiaan di Kelas

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizka Awalianurrohmah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sekolah sering kali disebut sebagai rumah kedua bagi anak-anak. Ungkapan ini bukan sekadar kiasan, tetapi mencerminkan betapa pentingnya lingkungan sekolah dalam membentuk pengalaman belajar dan tumbuh kembang anak, khususnya mereka yang duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Bagi sebagian anak, sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu, melainkan juga ruang bermain, bersosialisasi, bahkan menemukan kenyamanan yang setara dengan rumah.

Pada masa usia SD, anak-anak berada dalam tahap perkembangan sosial dan emosional yang pesat. Mereka mulai belajar memahami perasaan sendiri dan orang lain, serta membangun hubungan pertemanan yang bermakna. Oleh karena itu, suasana kelas yang hangat, guru yang suportif, serta metode belajar yang menyenangkan sangat berpengaruh terhadap kenyamanan dan kebahagiaan mereka di sekolah.

Salah satu cara utama agar anak merasa betah di sekolah adalah pendekatan belajar yang interaktif dan menyenangkan. Pembelajaran yang terlalu menekan atau monoton justru bisa membuat anak cepat jenuh. Sebaliknya, jika guru menggabungkan permainan edukatif, diskusi kelompok, serta proyek kreatif, anak-anak akan lebih antusias dalam mengikuti pelajaran. Menurut Santrock (2011), anak-anak belajar lebih efektif melalui pengalaman langsung dan kegiatan yang melibatkan indera serta emosi mereka.

sumber foto : dokumen pribadi

Selain metode pengajaran, peran guru sebagai figur pengganti orang tua di sekolah juga tak bisa diabaikan. Guru yang sabar, ramah, dan memahami karakter tiap siswa dapat menciptakan hubungan emosional yang positif. Anak yang merasa dihargai dan dipahami cenderung lebih percaya diri dan nyaman berada di lingkungan kelas. Dalam buku Psikologi Pendidikan karya Muhibbin Syah (2010), dijelaskan bahwa iklim kelas yang positif berkontribusi besar terhadap motivasi belajar siswa.

sumber foto : dokumen pribadi

Fasilitas sekolah dan lingkungan fisik juga turut memengaruhi kenyamanan anak. Ruang kelas yang bersih, pencahayaan yang baik, serta adanya ruang terbuka seperti taman atau lapangan dapat menjadi nilai tambah. Tempat yang menyenangkan secara fisik akan mendukung suasana hati anak dan mempermudah mereka dalam menyerap materi pelajaran.

Tak kalah penting, keberadaan teman sebaya merupakan faktor utama yang membuat anak betah di sekolah. Melalui interaksi sosial, anak belajar tentang kerja sama, empati, dan penyelesaian konflik. Sekolah menjadi tempat latihan kehidupan sosial yang sangat berharga bagi anak-anak. Maka dari itu, penting bagi sekolah untuk memfasilitasi kegiatan yang membangun kekompakan, seperti kerja kelompok, permainan luar ruang, atau pentas seni.

Pada akhirnya, kebahagiaan anak di sekolah tidak hanya bergantung pada kurikulum atau nilai akademik, tetapi juga pada suasana yang diciptakan oleh seluruh ekosistem pendidikan: guru, teman, lingkungan fisik, dan pendekatan pembelajaran. Ketika anak merasa aman, dihargai, dan dilibatkan, sekolah benar-benar bisa menjadi rumah kedua yang menyenangkan.

Daftar Referensi:

Muhibbin Syah. (2010). Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Santrock, J. W. (2011). Educational Psychology (5th ed.). New York: McGraw-Hill.