Konten dari Pengguna

Tidak Takut Salah: Mendorong Keberanian Anak SD untuk Berkembang

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizka Awalianurrohmah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belajar bukan hanya tentang benar dan salah. Bagi anak Sekolah Dasar (SD), proses belajar seharusnya menjadi momen berani mencoba, bukan ajang untuk merasa takut salah. Sayangnya, tidak sedikit anak yang merasa cemas saat menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas karena takut dimarahi atau ditertawakan. Padahal, kesalahan adalah bagian penting dari proses belajar.

Anak SD berada pada tahap perkembangan di mana mereka sangat sensitif terhadap penerimaan sosial. Ketika mereka melakukan kesalahan, lalu mendapat respons negatif, rasa percaya diri mereka bisa menurun. Oleh karena itu, penting bagi lingkungan sekolah untuk membangun budaya yang mendukung keberanian, bukan sekadar ketepatan.

sumber foto : dokumen pribadi
zoom-in-whitePerbesar
sumber foto : dokumen pribadi

Guru memiliki peran utama dalam hal ini. Guru yang memberi ruang untuk bertanya, mengapresiasi usaha, dan tidak langsung menghakimi saat anak keliru, akan mendorong rasa aman dalam belajar. Misalnya, saat seorang murid salah menjawab, guru bisa berkata, "Ide bagus! Yuk kita cari tahu bersama jawabannya." Pendekatan seperti ini membuat anak merasa dihargai dan mau mencoba lagi.

Orang tua pun berperan penting. Daripada menuntut nilai sempurna, lebih baik menumbuhkan rasa ingin tahu, membangun rutinitas belajar yang menyenangkan, serta memberi pujian atas proses, bukan hanya hasil. Dengan begitu, anak tidak hanya belajar akademik, tetapi juga belajar mentalitas tangguh dan terbuka.

Anak-anak yang tidak takut salah cenderung lebih kreatif, lebih aktif, dan lebih mudah berkembang. Mereka akan berani mencoba hal baru, berpikir di luar kotak, dan tumbuh sebagai pembelajar sejati. Di situlah esensi pendidikan dasar yang sesungguhnya—bukan mencetak anak yang sempurna, tetapi anak yang terus ingin belajar.

Dweck, C. S. (2006). Mindset: The New Psychology of Success. New York: Random House.

Santrock, J. W. (2011). Educational Psychology. New York: McGraw-Hill.

Hurlock, E. B. (1991). Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga.