Konten dari Pengguna

Ketika Data Desil Tak Sejalan dengan Realitas Kesejahteraan Masyarakat

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizka Maharani Safitri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi data kesejahteraan masyarakat dan pembagian desil sebagai dasar penentuan sasaran bantuan sosial. Ketepatan data menjadi hal penting agar bantuan dapat disalurkan kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Sumber: Ilustrasi AI, dibuat menggunakan ChatGPT
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi data kesejahteraan masyarakat dan pembagian desil sebagai dasar penentuan sasaran bantuan sosial. Ketepatan data menjadi hal penting agar bantuan dapat disalurkan kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Sumber: Ilustrasi AI, dibuat menggunakan ChatGPT

lakangan ini, persoal desil menjadi perhatian oleh masyarakat, terutama yang berkaitan dengan penentuan penerima bantuan sosial. Sejumlah masyarakat mengaku masih mengalami kesulitan ekonomi, tetapi tercatat dalam kelompok desil yang lebih tinggi. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan yang mengenai ketepatan data yang digunakan oleh pemerintah dalam menentukan sasaran penerima bantuan sosial. Sebab, tidak sedikit masyarakat yang merasa kondisi kehidupannya itu belum sepenuhnya tercermin dalam data yang digunakan.

Desil juga merupakan pembagian masyarakat ke dalam sepuluh kelompok yang berdasarkan tingkat kesejahteraan, mulai dari kelompok dengan tingkat kesejahteraan terendah hingga yang tertinggi. Dalam data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSN), data sosial ekonomi juga menjadi salah satu dasar dalam menentukan sasaran berbagai program bantuan sosial. Melalui pengelompokan tersebut, pemerintah diharapkan dapat mengidentifikasi masyarakat yang membutuhkan bantuan yang sesuai dengan kondisi sosial dan juga ekonominya.

Namun, peringkat desil tidak selalu dapat menggambarkan seluruh kondisi kehidupan seseorang secara menyeluruh. Tingkat kesejahteraan masyarakat tidak hanya dapat dilihat dari satu aspek, seperti kepemilikan rumah atau aset yang lain. Ada berbagai keadaan yang perlu diperhatikan, termasuk penghasilan, pekerjaan, jumlah tanggung keluarga, serta kemampuan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sebagai contoh, seseorang mungkin memiliki rumah peninggalan orang tua, akan tetapi juga tidak mempunyai pengahasilan tetap. Secara kepemilikan aset, orang tersebut terlihat memiliki sesuatu yang bernilai. Namun, hal ini belum tentu menunjukkan bahwa kehidupannya sudah berkecukupan. Rumah yang dimiliki tidak selalu dapat menghasilkan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan, seseorang yang memiliki tempat tinggal sendiri tetap bisa mengalami kesulitan ekonomi apabila tidak Mempunyai pekerjaan atau sumber penghasilan yang memadai.

Selain itu, kondisi ekonomi masyarakat juga dapat berubah sewaktu-waktu. Seseorang yang sebelumnya memiliki pekerjaan dan penghasilan cukup juga bisa saja kehilangan pekerjaan. Ada pula keluarga yang mengalami penurunan pendapatan karena kondisi usaha yang tidak stabil, bertambahnya jumlah tanggungan atau kebutuhan yang mendesak lainnya. Perubahan tersebut dapat memengaruhi kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Persoalan juga dapat muncul apabila data yang digunakan itu belum diperbarui sesuai dengan keadaan terbaru. Ketika kondisi ekonomi seseorang berubah, tetapi informasi yang tercatat itu masih menggunakan keadaan sebelumnya, penilaian terhadap tingkat kesejahteraannya berpotensi tidak lagi sesuai. Akibatnya, masyarakat yang sebenarnya sangat membutuhkan bantuan bisa saja tidak masuk dalam kelompok sasaran yang diprioritaskan.

Oleh karena itu, pemerintah juga perlu memastikan bahwa proses pendataan dan verifikasi dilakukan secara dilakukan secara berkala. Pembaruan data juga menjadi penting agar informasi yang digunakan itu benar-benar mendekati kondisi masyarakat yang saat ini. Proses tersebut juga perlu memperhatikan berbagai aspek dari kehidupan, bukan hanya berdasarkan kepemilikan aset atau keadaan ekonomi pada saat waktu tertentu.

Di sisi lain, masyarakat juga perlu mendapatkan akses yang jelas untuk menyampaikan keberatan atau mengajukan perbaikan apabila menemukan ketidaksuaian data. Mekanisme pengaduan yang mudah dipahami akan membantu masyarakat menyampaikan perubahan kondisi ekonominya. Keterlibatan pemerintah desa atau kelurahan juga dapat membantu proses pemeriksaan karena pihak setempat lebih dekat dengan kehidupan masyarakat di lingkungannya. Meski demikian, proses verifikasi tetap perlu dilakukan dengan cara objektif dan sesuai ketentuan yang berlaku.

Ketepatan data juga bukan hanya menjadi persoalan administrasi, melainkan juga berkaitan dengan keadilan dalam penyaluran bantuan sosial. Bantuan yang diberikan itu berdasarkan data yang kurang sesuai berisiko tidak menjangkau masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Sebaliknya data yang diperbarui dan diverifikasi dengan baik dapat membantu pemerintah menentukan sasaran progam secara lebih tepat.

Pada akhirnya, data memang memiliki peran yang penting dalam menentukan sasaran bantuan sosial. Namun, ketepatan data juga harus tetap menjadi perhatian agar masyarakat yang masih membutuhkan tidak kehilangan kesempatan untuk memperoleh bantuan akibat informasi yang kurang sesuai. Pemerintah juga perlu terus memperbaiki sistem pendataan, sementara masyarakat juga perlu beneran aktif dalam memastikan informasi mengenai kondisi kehidupannya tercatat dengan benar.

Sebab, dibalik angka dalam sistem pendataan juga terdapat kondisi kehidupan masyarakat yang perlu dipahami. Setiap angka juga mewakili keluarga dengan kebutuhan dan keadaan ekonomi yang berbeda-beda. Data seharusnya menjadi alat untuk mewujudkan kebijakan yang adil dan membantu masyarakat yang membutuhkan, bukan sekedar angka yang menentukan kesempatan seseorang untuk memperoleh bantuan.