Konten dari Pengguna

LDKM: Lebih dari Sekadar Latihan Kepemimpinan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizka Maharani Safitri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

SumberSumber: Dokumentasi Pribadi Penulis
zoom-in-whitePerbesar
SumberSumber: Dokumentasi Pribadi Penulis

Bagi saya, LDKM atau Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa bukan hanya tentang belajar bagaimana menjadi seorang pemimpin. Awalnya saya berpikir kegiatan ini mungkin hanya akan berisi materi tentang kepemimpinan, kerja sama, atau bagaimana cara mengatur sebuah kelompok. Namun, setelah menjalaninya, ternyata ada banyak hal yang saya dapatkan, bahkan beberapa di antaranya baru saya sadari setelah kegiatan selesai.

Selama mengikuti LDKM, saya belajar bahwa menjadi pemimpin tidak selalu berarti harus berada di depan atau menjadi orang yang paling banyak berbicara. Menjadi pemimpin juga berarti mampu mendengarkan, memahami keadaan, bertanggung jawab, dan bisa mengambil keputusan dengan mempertimbangkan orang lain.

Salah satu hal yang paling saya rasakan adalah keberanian untuk berbicara. Berbicara di depan banyak orang bukan sesuatu yang selalu mudah bagi saya. Ada rasa gugup, takut salah, atau terkadang bingung bagaimana menyampaikan apa yang ada di pikiran. Namun, melalui berbagai kegiatan di LDKM, saya belajar untuk lebih berani menyampaikan pendapat dan berbicara dengan orang lain.

Dari situ saya menyadari bahwa kemampuan berbicara bukan hanya tentang bagaimana kita menyampaikan kata-kata. Ada cara berkomunikasi, cara mendengarkan, ekspresi, dan bagaimana kita membuat orang lain memahami apa yang ingin kita sampaikan. Hal-hal sederhana seperti itu ternyata menjadi bagian dari proses belajar menjadi seorang pemimpin.

Selain public speaking, saya juga belajar tentang empati. Berada dalam satu kelompok dengan banyak orang membuat saya sadar bahwa setiap orang mempunyai cara berpikir, karakter, kemampuan, dan keadaan yang berbeda. Tidak semua orang bisa melakukan sesuatu dengan cara atau kecepatan yang sama. Karena itu, saya belajar untuk tidak hanya memikirkan apa yang saya inginkan, tetapi juga mencoba memahami posisi orang lain.

Menurut saya, empati menjadi salah satu hal penting dalam kepemimpinan. Bagaimana mungkin kita bisa memimpin orang lain kalau kita sendiri tidak mau memahami mereka?

SumberSumber: Dokumentasi Pribadi Penulis

LDKM juga mengajarkan saya tentang kesabaran. Selama kegiatan, ada berbagai situasi yang mungkin tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan. Ada rasa lelah, ada perbedaan pendapat, ada tugas yang harus diselesaikan, dan ada kondisi yang mengharuskan kita tetap menjalankan tanggung jawab meskipun sedang tidak dalam keadaan terbaik.

Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa sabar bukan berarti selalu diam atau menerima semuanya begitu saja. Bagi saya, sabar adalah kemampuan untuk menahan diri, berpikir terlebih dahulu, kemudian menentukan bagaimana harus bersikap.

Hal tersebut juga membuat saya sedikit melihat kembali diri saya sendiri. Saya menyadari bahwa dalam kehidupan sehari-hari pun masih banyak hal yang perlu saya perbaiki. Terkadang saya bisa terbawa emosi, terlalu memikirkan sesuatu, atau ingin semuanya berjalan sesuai dengan apa yang saya harapkan. LDKM membuat saya belajar bahwa tidak semua hal harus dihadapi dengan reaksi cepat. Ada kalanya kita perlu berhenti sebentar, berpikir, kemudian menentukan tindakan yang tepat.

Saya juga mendapatkan pelajaran tentang kejujuran dan tanggung jawab. Menurut saya, dua hal tersebut merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kepemimpinan. Seorang pemimpin mungkin bisa terlihat hebat di depan orang lain, tetapi tanpa kejujuran dan tanggung jawab, kepercayaan orang lain akan sulit didapatkan.

Bagi saya, tanggung jawab juga tidak selalu berbentuk sesuatu yang besar. Menyelesaikan tugas yang diberikan, menjalankan peran dalam kelompok, menjaga kepercayaan, dan berani mengakui kesalahan ketika melakukan sesuatu yang kurang tepat juga merupakan bentuk tanggung jawab.

Tidak hanya itu, LDKM juga membuat saya lebih banyak menggunakan cara berpikir dan kemampuan memecahkan masalah. Ada kegiatan yang mengharuskan kami berdiskusi, menentukan pilihan, mencari solusi, dan bekerja sama. Dari sana saya belajar bahwa ketika menghadapi sebuah masalah, kita tidak bisa hanya mengandalkan satu cara berpikir. Kita perlu melihat keadaan dari berbagai sisi sebelum menentukan keputusan.

Namun, di balik berbagai pelajaran tersebut, LDKM juga menjadi pengalaman yang menyenangkan. Tiga hari bersama teman-teman, mengikuti kegiatan, berdiskusi, bekerja sama, bercanda di sela-sela kegiatan, sampai sama-sama merasakan lelah membuat pengalaman ini terasa berbeda.

Justru dari kebersamaan itu saya mendapatkan pelajaran lain. Saya belajar bahwa proses belajar tidak selalu harus berada di dalam ruang kelas atau melalui buku. Terkadang, kita justru belajar banyak ketika berhadapan langsung dengan orang lain, menghadapi situasi yang tidak terduga, dan mencoba menyelesaikan sesuatu bersama-sama.

Bagi saya, LDKM akhirnya menjadi sebuah proses untuk mengenal diri sendiri. Saya jadi tahu bahwa masih ada banyak hal yang perlu saya kembangkan, mulai dari keberanian berbicara, cara berkomunikasi, kemampuan berpikir, kesabaran, empati, kejujuran, sampai rasa tanggung jawab.

Saya juga menyadari bahwa kepemimpinan bukanlah sesuatu yang langsung dimiliki seseorang hanya karena ia mendapatkan sebuah jabatan. Kepemimpinan adalah kemampuan yang terus dibentuk melalui pengalaman dan proses. Kita belajar dari kesalahan, belajar dari orang lain, belajar mengendalikan diri, dan belajar untuk bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan.

Mungkin LDKM hanya berlangsung selama beberapa hari, tetapi pelajaran yang saya dapatkan tidak harus berhenti ketika kegiatannya selesai. Justru setelah LDKM selesai, tantangan sebenarnya adalah bagaimana saya menerapkan apa yang sudah dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi saya, LDKM bukan hanya tentang bagaimana menjadi pemimpin bagi orang lain, tetapi juga tentang bagaimana belajar memimpin diri sendiri. Karena sebelum mampu mengarahkan orang lain, mungkin kita perlu belajar memahami, mengendalikan, dan bertanggung jawab atas diri kita sendiri terlebih dahulu.