Konten dari Pengguna

Bisnis Mengejar Viral, Lupa Mempertahankan Pelanggan

Rizka Nur Khasanah

Rizka Nur Khasanah

Mahasiswa Manajemen S-1 Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizka Nur Khasanah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Photo by Anna Shvets from Pexels: https://www.pexels.com/photo/woman-vlogging-about-makeup-6593783/
zoom-in-whitePerbesar
Photo by Anna Shvets from Pexels: https://www.pexels.com/photo/woman-vlogging-about-makeup-6593783/

Satu video pendek bisa mengubah nasib sebuah bisnis dalam semalam. Produk yang sebelumnya hanya dikenal di sekitar toko tiba-tiba dibicarakan banyak orang, masuk rekomendasi media sosial, lalu diburu pelanggan. Fenomena seperti ini semakin mudah ditemukan di tengah kuatnya budaya belanja dan promosi melalui media sosial.

Bahkan pada 2026, promosi melalui influencer menjadi bagian dari strategi untuk membuat UMKM semakin dikenal dan menarik pelanggan baru. Namun, ada satu hal yang sering terlupakan: ramainya perhatian tidak selalu berarti kuatnya hubungan dengan pelanggan. Viral bisa membuat orang datang sekali. Tantangan sebenarnya adalah membuat mereka mau datang lagi.

Ketika Viral Dianggap Sebagai Tujuan

Banyak bisnis melihat jumlah penonton, komentar, pengikut, dan pesanan sebagai tanda keberhasilan. Angka-angka tersebut memang penting. Masalahnya muncul ketika bisnis berhenti pada tahap mengejar angka tersebut.

Sebuah produk bisa viral karena kemasannya unik, harganya menarik, tempatnya estetik, atau kontennya dianggap lucu. Orang datang karena penasaran. Namun, rasa penasaran hanya membawa pelanggan sampai transaksi pertama.

Setelah itu, kualitas produk dan pengalaman pelanggan yang berbicara.

Jika pesanan datang terlambat, pelayanan mengecewakan, produk tidak sesuai ekspektasi, atau kualitas berubah ketika permintaan meningkat, pelanggan memiliki alasan untuk tidak kembali. Dalam kondisi seperti ini, viral justru menjadi tantangan baru bagi manajemen.

Bisnis harus siap ketika perhatian berubah menjadi lonjakan permintaan.

Pelanggan Lama Lebih dari Sekadar Angka

Mendatangkan pelanggan baru memang penting. Namun, mempertahankan pelanggan yang sudah pernah membeli juga tidak kalah penting.

Pelanggan yang kembali membeli menunjukkan bahwa bisnis berhasil memberikan pengalaman yang dianggap bernilai. Mereka bahkan berpotensi merekomendasikan produk kepada orang lain tanpa harus terus-menerus dibayar melalui iklan.

Riset mengenai UMKM di Indonesia pada 2026 menunjukkan bahwa penggunaan media sosial dan pengalaman pelanggan berkaitan dengan loyalitas merek. Artinya, interaksi di media sosial perlu diikuti pengalaman yang baik agar hubungan dengan pelanggan tidak berhenti pada sekadar melihat konten.

Di sinilah peran manajemen menjadi penting. Bisnis tidak cukup hanya memikirkan bagaimana membuat konten viral. Manajemen juga harus memastikan stok tersedia, pelayanan konsisten, keluhan ditangani, dan kualitas produk tetap terjaga.

Viral membawa pelanggan masuk. Manajemen menentukan apakah mereka akan bertahan.

Mengubah Viral Menjadi Hubungan Jangka Panjang

Setelah mendapatkan perhatian, bisnis perlu memiliki strategi lanjutan. Pelanggan yang baru membeli dapat diarahkan untuk mengenal produk lain, mengikuti kanal komunikasi bisnis, atau mendapatkan penawaran yang relevan untuk pembelian berikutnya.

Namun, mempertahankan pelanggan tidak selalu harus dilakukan melalui diskon. Pelayanan yang cepat, komunikasi yang baik, kualitas yang konsisten, dan kemampuan memahami kebutuhan pelanggan justru dapat menjadi alasan seseorang kembali.

Bisnis juga perlu mengevaluasi data setelah sebuah konten viral. Berapa banyak orang yang hanya melihat? Berapa yang membeli? Berapa yang melakukan pembelian ulang? Pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar berapa juta tayangan yang diperoleh.

Dengan begitu, viral tidak berhenti sebagai pencapaian sesaat. Perhatian publik dapat diubah menjadi penjualan, lalu berkembang menjadi kepercayaan dan loyalitas.

Viral Boleh, Loyalitas Jangan Dilupakan

Menurut saya, bisnis tidak perlu berhenti mengejar viral. Viral tetap berguna untuk memperkenalkan produk kepada pasar yang lebih luas. Namun, viral seharusnya diperlakukan sebagai awal perjalanan pelanggan, bukan garis akhir bisnis.

Bisnis yang hanya mengejar viral akan terus bergantung pada tren berikutnya. Sebaliknya, bisnis yang mampu mengubah pelanggan baru menjadi pelanggan tetap memiliki fondasi yang lebih kuat.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bisnis bukan hanya seberapa banyak orang membicarakannya hari ini, tetapi berapa banyak orang yang masih memilihnya ketika tren sudah berganti. Viral mendatangkan perhatian, tetapi pengalaman yang baik membuat pelanggan kembali.