Konten dari Pengguna

Keputusan Keuangan Perusahaan, Antara Logika dan Psikologi

Rizka Nur Khasanah

Rizka Nur Khasanah

Mahasiswa Manajemen S-1 Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizka Nur Khasanah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi keputusan keuangan. Foto: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi keputusan keuangan. Foto: Pexels.

Dalam menjalankan sebuah perusahaan, keputusan keuangan merupakan salah satu hal yang penting. Setiap keputusan yang diambil, seperti keputusan investasi, pendanaan, maupun pengelolaan risiko, dapat memberikan pengaruh terhadap kondisi perusahaan. Pada dasarnya, keputusan tersebut diharapkan dibuat secara rasional berdasarkan data dan informasi yang tersedia.

Namun, dalam kenyataannya keputusan keuangan tidak selalu berjalan berdasarkan perhitungan angka saja. Ada faktor manusia yang ikut berperan di dalamnya. Cara berpikir, pengalaman, emosi, dan keyakinan seorang manajer dapat memengaruhi keputusan yang diambil oleh perusahaan.

Hal tersebut berkaitan dengan konsep behavioral corporate finance. Behavioral corporate finance merupakan pendekatan yang membahas bagaimana faktor psikologis dan perilaku manusia dapat memengaruhi keputusan keuangan perusahaan. Konsep ini menunjukkan bahwa pengambil keputusan tidak selalu bertindak secara sepenuhnya rasional.

Salah satu contoh yang dapat terjadi adalah rasa terlalu percaya diri atau overconfidence. Seorang manajer yang terlalu yakin dengan kemampuan dan perkiraannya dapat mengambil keputusan investasi yang cukup besar. Manajer tersebut mungkin merasa bahwa investasi yang dilakukan akan memberikan keuntungan, meskipun sebenarnya terdapat risiko yang perlu dipertimbangkan.

Selain itu, kondisi emosional juga dapat memengaruhi keputusan. Ketika perusahaan sedang mengalami penurunan penjualan atau laba, manajemen bisa merasa tertekan dan ingin segera mengambil tindakan. Jika tidak dipertimbangkan dengan baik, keputusan tersebut justru dapat menimbulkan masalah baru bagi perusahaan.

Menurut saya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan keuangan perusahaan tidak cukup hanya melihat laporan keuangan dan angka-angka yang ada. Faktor psikologis dari orang yang mengambil keputusan juga perlu diperhatikan. Kesalahan dalam mengambil keputusan tidak selalu terjadi karena kurangnya informasi, tetapi bisa juga karena adanya bias dalam melihat dan menilai suatu kondisi.

Untuk mengurangi hal tersebut, perusahaan dapat melibatkan beberapa pihak dalam proses pengambilan keputusan. Adanya diskusi dan sudut pandang yang berbeda dapat membantu manajemen melihat suatu masalah dengan lebih objektif. Selain itu, perusahaan juga perlu melakukan analisis risiko sebelum mengambil keputusan yang berkaitan dengan penggunaan dana dalam jumlah besar.

Pada akhirnya, keuangan perusahaan memang tidak dapat dipisahkan dari angka dan perhitungan. Namun, di balik angka tersebut terdapat manusia yang membuat keputusan. Oleh karena itu, memahami aspek psikologis dalam keuangan menjadi hal yang penting agar keputusan yang diambil tidak hanya berdasarkan keyakinan pribadi, tetapi juga berdasarkan pertimbangan yang matang.

Behavioral corporate finance mengingatkan bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam mengambil keputusan. Dengan memahami berbagai faktor psikologis dan bias yang dapat muncul, perusahaan dapat lebih berhati-hati dalam menentukan keputusan keuangan dan menjaga agar keputusan tersebut tetap sesuai dengan tujuan perusahaan.