Konten dari Pengguna

Pengobatan Suku Ammatoa Kajang dengan Kearifan Lokal

Rizka Rahmaida Arifah

Rizka Rahmaida Arifah

Mahasiswa Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizka Rahmaida Arifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber : https://jadesta.kemenparekraf.go.id/imgpost/27109.jpg
zoom-in-whitePerbesar
sumber : https://jadesta.kemenparekraf.go.id/imgpost/27109.jpg

Suku Ammatoa Kajang, yang terletak di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, memiliki sistem pengobatan tradisional yang kuat dan berakar pada kepercayaan budaya dan spiritual mereka. Salah satu hal yang unik dari suku ini adalah banyak obat herbal yang mereka buat berasal dari daun – daunan atau tumbuhan.

Pengobatan Tradisional dan Penyakit Nonmedis

Masyarakat Ammatoa Kajang percaya bahwa banyak penyakit yang mereka alami tidak dapat disembuhkan dengan pengobatan medis modern. Mereka mengklasifikasikan penyakit menjadi dua kategori, yaitu medis dan nonmedis. Penyakit nonmedis sering kali dianggap sebagai akibat dari gangguan gaib, seperti kemasukan roh leluhur atau setan. Beberapa jenis penyakit nonmedis yang dikenal dalam masyarakat ini meliputi:

  • Kajakkalang: Penyakit yang dianggap disebabkan oleh arwah leluhur.

  • Kasamperoan: Penyakit yang dianggap berasal dari penghuni kampung.

  • Pappitaba: Penyakit yang disebabkan oleh guna-guna.

  • Pangngisengang: Penyakit yang berkaitan dengan pekasih atau cinta.

Pengobatan untuk penyakit-penyakit ini biasanya dilakukan oleh seorang dukun atau sanro, yang memiliki pengetahuan tentang cara mengatasi masalah-masalah tersebut melalui ritual dan ramuan tradisional.

Metode Pengobatan

  • Ritual dan Doa: Pengobatan sering kali melibatkan ritual tertentu dan doa yang dipimpin oleh sanro untuk memanggil kekuatan spiritual dalam penyembuhan.

  • Ramuan Herbal: Masyarakat juga menggunakan ramuan herbal dari tanaman lokal untuk mengobati berbagai penyakit. Pengetahuan tentang tanaman obat diwariskan secara turun-temurun.

  • Terapi Spiritual: Selain ramuan fisik, aspek spiritual juga sangat penting dalam proses penyembuhan, di mana pasien diajak untuk berdoa dan melakukan refleksi diri.

Penggunaan Tumbuhan untuk Obat

Masyarakat suku Ammatoa Kajang memiliki pengetahuan yang kaya tentang penggunaan tumbuhan untuk pengobatan tradisional. Dikutip dari beberapa jurnal penelitian berikut adalah beberapa jenis daun dan tumbuhan yang digunakan dalam praktik pengobatan mereka.

Daun Nangka Muda

  • Penggunaan: Daun nangka muda sering digunakan untuk perawatan payudara, terutama bagi ibu yang baru melahirkan. Rebusan daun ini dipercaya dapat memperlancar aliran susu.

  • Metode: Daun direbus dan ditempelkan pada payudara untuk membantu proses menyusui.

Daun Tarung (Hibiscus tiliaceus)

  • Penggunaan: Selain digunakan sebagai pewarna alami untuk sarung, daun tarung juga memiliki khasiat dalam pengobatan tradisional.

  • Metode: Daun ini diproses menjadi ekstrak yang dapat digunakan dalam berbagai ritual dan pengobatan.

Daun Sirih

  • Penggunaan: Daun sirih sering digunakan dalam berbagai ritual adat dan juga memiliki sifat antiseptik, sehingga dapat digunakan untuk mengobati luka atau infeksi.

  • Metode: Daun sirih biasanya dikunyah atau direbus untuk diambil ekstraknya.

Daun Pandan Wangi

  • Penggunaan: Selain memberikan aroma pada makanan, daun pandan wangi juga digunakan dalam ritual adat dan dipercaya memiliki manfaat kesehatan.

  • Metode: Daun ini bisa direbus atau digunakan sebagai bahan tambahan dalam ramuan herbal.

Daun Cocor Bebek

  • Penggunaan: Daun ini dikenal memiliki sifat penyembuhan dan sering digunakan untuk mengatasi masalah kulit.

  • Metode: Biasanya dihaluskan dan dioleskan pada area yang terkena masalah kulit.

Upaya Pencegahan

Masyarakat suku Ammatoa juga melakukan beberapa upaya pencegahan terhadap penyakit, terutama hipertensi. Upaya tersebut meliputi:

  • Mengurangi konsumsi makanan tinggi garam (A’ling).

  • Menggunakan obat herbal dari daun (raung) sebagai bagian dari pengobatan tradisional.

  • Melakukan praktik sauna tradisional (Sahatu) dan tradisi berjalan tanpa alas kaki (A’dakka Bangkeng) untuk menjaga kesehatan.

Pengobatan tradisional suku Ammatoa Kajang mencerminkan kearifan lokal yang kaya dan hubungan erat antara budaya, kesehatan, dan spiritualitas. Masyarakat ini tetap mempertahankan praktik-praktik pengobatan tradisional meskipun ada pengaruh modernisasi. Memahami sistem pengobatan mereka memberikan wawasan berharga tentang bagaimana budaya mempengaruhi persepsi dan praktik kesehatan di masyarakat.

Referensi

1. [Pengobatan Tradisional Penyakit Nonmedis pada Masyarakat Adat Kajang](https://www.neliti.com/publications/340589/pengobatan-tradisional-penyakit-nonmedis-pada-masyarakat-adat-kajang-kabupaten-b)

2. [Jurnal Pangadereng - Pengobatan Tradisional Penyakit Nonmedis](https://jurnalpangadereng.kemdikbud.go.id/index.php/pangadereng/article/view/37)

3. Sukmawati, B., Nildawati, & Ansyar, D.I. (2022). Kajian Sosio Antropologi Kesehatan Mengenai Penyakit Hipertensi pada Masyarakat Kawasan Adat Suku Ammatoa Kajang. Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.

4. [BRWA - Masyarakat Adat Ammatoa Kajang](https://brwa.or.id/wa/view/clpRWmgzd2VqLVk)

5. [Dewi Kartika, Inventarisasi Tumbuhan yang Digunakan pada Ritual Adat Ammatoa](http://repositori.uin-alauddin.ac.id/12787/1/Dewi%20Kartika.pdf)

6. Pemanfaatan Etnobotani Masyarakat Suku Kajang](https://digilibadmin.unismuh.ac.id/upload/6703-Full_Text.pdf)

7. [Budaya Perawatan Payudara Ibu Nifas pada Suku Ammatoa](https://e-journal.aktabe.ac.id/index.php/jmns/article/download/85/68)