Konten dari Pengguna

Satu Buku, Dua Pembaca, Dua Pemahaman

Rizka Anindita

Rizka Anindita

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizka Anindita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dua orang bisa membaca buku yang sama, pada waktu yang sama, tetapi belum tentu mendapatkan pemahaman yang sama. Bukan karena isi bukunya berubah, melainkan karena setiap pembaca datang dengan pengalaman dan cara berpikirnya sendiri.

Sumber: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Shutterstock

Misalnya ada sebuah novel yang menceritakan tentang seorang anak yang meninggalkan rumah. Bagi seorang pembaca, cerita itu mungkin terasa seperti kisah tentang keberanian untuk mencari kehidupan baru. Namun, bagi pembaca lain, cerita yang sama bisa terasa seperti kisah tentang kehilangan keluarga. Ceritanya tetap sama, tetapi bagian yang paling terasa bagi keduanya bisa berbeda.

Hal seperti ini cukup sering terjadi ketika kita membaca karya sastra. Setiap orang memiliki pengalaman hidup yang berbeda. Apa yang pernah kita alami dapat memengaruhi cara kita memahami sebuah cerita. Pembaca yang pernah mengalami kehilangan mungkin akan memberikan perhatian lebih pada cerita tentang perpisahan. Lalu pembaca yang memiliki pengalaman berbeda mungkin justru lebih tertarik pada hubungan antar tokohnya.

Usia juga dapat memengaruhi cara seseorang memahami sebuah karya. Sebuah novel yang dibaca ketika masih remaja mungkin memberikan kesan yang berbeda ketika dibaca kembali beberapa tahun kemudian. Ceritanya tidak berubah, tetapi pembacanya sudah berubah. Hal yang dahulu dianggap biasa mungkin terasa lebih berarti ketika dibaca kembali setelah memiliki lebih banyak pengalaman. Atau bahkan novel remaja yang dulu dibaca saat remaja lalu dibaca lagi saat dewasa mungkin akan berbeda juga cara pandang kita.

Suasana hati juga dapat ikut memengaruhi pengalaman membaca. Ketika sedang bahagia, kita mungkin membaca sebuah cerita dengan perasaan yang berbeda dibandingkan ketika sedang sedih atau memiliki masalah. Karena itu, tidak mengherankan jika satu buku dapat meninggalkan kesan yang berbeda pada waktu yang berbeda.

Perbedaan pemahaman ini bukan berarti salah satu pembaca pasti lebih benar. Selama masih memiliki dasar dari cerita yang dibaca, perbedaan penafsiran merupakan hal yang wajar dalam sastra. Justru, keberagaman pemahaman membuat sebuah karya dapat terus dibicarakan.

Itulah salah satu hal menarik dari membaca. Kita tidak hanya menemukan cerita yang dibuat oleh orang lain, tetapi juga dapat menemukan cara baru untuk melihat sesuatu melalui diri kita sendiri.

Pada akhirnya mungkin tidak ada satu cara untuk merasakan sebuah buku. Satu cerita dapat memiliki banyak kesan, karena pembacanya juga memiliki banyak pengalaman. Buku yang sama bisa berada di tangan yang berbeda, lalu meninggalkan cerita yang berbeda pula.