Destructive Scanning, Cara Claude Hancurkan Jutaan Buku demi AI

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Anthropic Claude. Foto: daily_creativity/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Anthropic Claude. Foto: daily_creativity/Shutterstock

Di balik kecerdasan buatan (AI) Claude yang bisa menulis esai, brainstorming, hingga coding, ada jutaan buku yang harus dihancurkan. Sampulnya dilepas, jilidnya dipotong pakai mesin hidrolik, dan halaman-halamannya dilucuti satu per satu untuk kemudian discan atau dipindai.

Setelah itu, dalam hitungan detik, sebuah buku yang tadinya utuh berubah jadi tumpukan kertas tanpa bentuk. Lalu berubah menjadi bubur kertas daur ulang.

Selama bertahun-tahun, Anthropic (perusahaan di balik Claude) diam-diam menjalankan operasi besar-besaran memburu buku fisik dari seluruh penjuru dunia, memindai isinya, lalu menghancurkan bentuk aslinya. Tujuannya memberi makan model AI mereka dengan pengetahuan manusia.

Proyek penghancuran dan pemindaian jutaan buku itu bernama Project Panama. Proyek tersebut sudah berjalan sejak awal 2024 tanpa sepengetahuan publik. Barulah pada Juni 2025, praktik ini terbongkar lewat putusan Hakim Federal William Alsup. Hakim menyatakan pemindaian destruktif atas buku yang dibeli secara sah tergolong fair use (wajar). Hakim bahkan menganalogikan proses pelatihan AI dari buku ini mirip seorang guru yang melatih murid-muridnya menulis dengan baik.

Ilustrasi menggunakan layanan kecerdasan buatan (AI). Foto: Summit Art Creations/Shutterstock

Jadi, persidangan tersebut awalnya dipicu oleh Claude yang dilatih dari buku digital bajakan. Jauh sebelum ada Project Panama, Anthropic sudah lebih dulu mengunduh jutaan buku secara ilegal dari situs-situs bajakan untuk melatih model awal mereka. Gugatan class action dari para penulis dan penerbit inilah yang lantas membuka jalan bagi hakim untuk memeriksa seluruh praktik akuisisi data Anthropic. Dari sanalah Project Panama beserta penghancuran buku terbongkar.

Proyek ini terungkap lewat berkas pengadilan yang dibuka ke publik dan diulas Washington Post dalam laporan berjudul "Inside an AI start-up's plan to scan and dispose of millions of books". Laporan tersebut dipublikasikan pada 27 Januari 2026 lalu. Isunya kemudian viral baru-baru ini.

Dari Buku Digital Bajakan ke Penghancuran Buku

Pada Juni 2021, co-founder Anthropic, Ben Mann, secara pribadi mengunduh koleksi dari "perpustakaan bayangan" bernama LibGen selama 11 hari berturut-turut. Setahun berikutnya, pada Juli 2022, Mann kembali membagikan tautan situs Pirate Library Mirror ke rekan-rekan kerjanya dengan pesan singkat penuh semangat: "Here’s the link … just in time!!!"

Anthropic belakangan menyatakan lewat berkas hukum bahwa mereka tidak pernah melatih model AI komersial yang menghasilkan pendapatan menggunakan data dari LibGen, dan tidak pernah memakai Pirate Library Mirror untuk melatih model AI utuh mana pun. Namun total buku bajakan yang sempat diunduh dan disimpan dari kedua sumber itu mencapai lebih dari tujuh juta judul.

Ilustrasi Buku. Foto: Shutterstock

Pada awal 2024, bersamaan dengan dimulainya Panama Project, Anthropic merekrut Tom Turvey. Turvey merupakan eks eksekutif yang sebelumnya membantu menciptakan proyek digitalisasi Google Books. Kala itu, Turvey ditugaskan memburu buku sebanyak mungkin. Konon targetnya memburu semua buku di dunia.

Menurut laporan Washington Post, Anthropic awalnya mempertimbangkan membeli buku dari perpustakaan atau toko buku bekas seperti The Strand di New York City, yang terkenal dengan koleks buku baru dan bekas. Namun, toko buku itu pada akhirnya tidak pernah menjual buku kepada Anthropic.

Anthropic justru kemudian membeli jutaan buku, sering kali dalam jumlah puluhan ribu eksemplar sekaligus. Perusahaan bekerja sama dengan penjual buku bekas, termasuk Better World Books dan World of Books yang berbasis di Inggris. Jumlah pasti buku yang dipindai beserta total biayanya memang dirahasiakan dalam dokumen. Namun, proposal dari salah satu vendor yang bekerja sama dengan Anthropic menyebut perusahaan AI itu ingin mengonversi 500 ribu hingga 2 juta buku dalam waktu enam bulan.

Ilustrasi Talenta Digital di bidang Artificial Intelligence (AI). Foto: Abid Raihan/kumparan

Dalam waktu sekitar satu tahun sejak proyek dimulai, Anthropic dilaporkan sudah menggelontorkan dana hingga puluhan juta dolar AS untuk keseluruhan operasi ini. Upaya konversi buku tersebut diserahkan ke vendor.

Nah, vendor ini sebetulnya menawarkan dua jenis layanan, yakni pemindaian non-destruktif (buku tetap utuh, dipindai lewat scanner overhead, flatbed, atau sistem pencitraan berbentuk V) dan pemindaian destruktif (buku dibongkar total). Anthropic memilih opsi kedua untuk sebagian besar koleksinya.

Mengapa Anthropic Memilih Menghancurkan Buku Setelah Dipindai?

Anthropic sebetulnya tidak pernah menjelaskan kenapa mereka memilih metode destruktif. Dokumen internal yang terungkap di pengadilan cuma menggambarkan apa yang mereka lakukan, bukan kenapa harus memilih metode destruktif.

Namun, menurut laporan berjudul 'Anthropic destroyed millions of print books to build its AI models' yang dimuat di Ars Technica, kecepatan yang lebih tinggi dan biaya yang lebih rendah dari proses destruktif dinilai lebih diutamakan Anthropic ketimbang upaya menjaga fisik bukunya.

Ilustrasi membaca di toko buku. Foto: Shutterstock

Dari sisi efisiensi, pemindaian destruktif rupanya jauh lebih cepat dan murah dibanding metode non-destruktif. Melepas jilid dan menyuapkan halaman lepas ke mesin berkecepatan tinggi jauh lebih efisien ketimbang memindai buku yang masih utuh lembar demi lembar menggunakan scanner overhead yang lebih lambat

Namun ada alasan lain yang justru lebih penting secara hukum. Menghancurkan buku fisik justru jadi strategi untuk membuat prosesnya tetap sah di mata hukum hak cipta. Prinsip first-sale doctrine di AS pada dasarnya mengizinkan pemilik salinan buku yang dibeli secara sah untuk melakukan apa saja dengan salinan itu, termasuk mengubah formatnya.

Tapi begitu hasil digitalnya disimpan sementara versi cetaknya masih ada, itu berarti Anthropic memegang dua salinan dari satu pembelian, yang berpotensi melanggar hukum. Dengan memusnahkan wujud fisik buku setelah dipindai, Anthropic secara teknis hanya memegang satu salinan yang sah yaitu yang digital.

Logo Meta, rebranding perusahaan Facebook. Foto: Dado Ruvic/Reuters

Anthropic bukan satu-satunya yang mengejar buku secara agresif. Dokumen yang sama juga membongkar pola serupa di perusahaan AI raksasa lain. Di Meta, misalnya, keputusan mengunduh koleksi bajakan LibGen untuk melatih model Llama 3 disebut baru disetujui setelah proses eskalasi ke tingkat CEO Mark Zuckerberg pada Desember 2023. Bahkan ada karyawan Meta yang sempat mempertanyakan kepatutan tindakan itu lewat pesan internal, sebelum akhirnya proses pengunduhan tetap dijalankan pada April 2024

Kena Denda Rp 27 Triliun

Meski proses beli buku bekas, memindainya, dan menghancurkannya dianggap legal, Anthropic tetap kena denda. Ini terkait dengan buku-buku digital bajakan yang jadi modal awal kecerdasan Claude.

Jadi, pengadilan menarik garis tegas antara dua hal. Melatih AI menggunakan tbuku, kata hakim, memang tergolong wajar. Tapi menyimpan salinan bajakan itu sendiri, terlepas dari tujuannya, tetap pelanggaran hak cipta terhadap penulis dan penerbit.

Perbedaan tipis inilah yang membuat Anthropic memilih tidak menghadapi persidangan penuh, dan sepakat membayar 1,5 miliar dolar AS (sekitar Rp 27 triliun) pada Agustus 2025 kepada para penulis dan penerbit. Nilainya memang fantastis, tapi kalau dibagi rata ke jutaan judul buku yang terdampak, kompensasi yang diterima tiap penulis dan penerbit diperkirakan cuma sekitar 3.000 dolar AS (sekitar Rp 54 juta) per judul.