Warga India Ajari Robot AI Pekerjaan Rumah Tangga: Dibayar 40 Ribu per Jam

Di masa depan, kita bakal hidup bersama robot yang bisa membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Mulai dari mengambil piring, menuang air, hingga merapikan tempat tidur.
Namun, untuk sampai ke sana, robot-robot tersebut perlu belajar banyak dari manusia. Proses belajar itu nyatanya tengah berlangsung saat ini. Orang-orang yang membantu mengajarkan robot dibayar sekitar Rp 40 ribu per jam.
Pekerjaan semacam itu ada di Karur, sebuah kota kecil di Tamil Nadu, India selatan. Mereka cukup mengikat ponsel di kepala, lalu merekam diri mereka sendiri memotong sayuran atau merapikan tempat tidur. Rekaman itu kemudian dikirim ke perusahaan teknologi, menjadi bahan untuk melatih robot humanoid mengurus rumah tangga sendiri.
The New York Times menerbitkan laporan soal fenomena ini pada 20 Agustus lalu. Dua jurnalisnya, Jeremy W. Peters dan Hari Kumar, sempat mendatangi langsung Karur pada Juli lalu untuk melihat sendiri bagaimana proses ini berjalan.
Dibayar Rp 40 Ribu per Jam
Upah Rp 40 ribuan per jam itu bukan gaji tetap. Tapi kerja lepas, dan cuma dibayar untuk rekaman yang dianggap layak pakai oleh perusahaan. Kalau videonya ditolak, entah karena sudut kamera kurang pas atau alasan teknis lainnya, jam kerja itu ya hangus begitu saja.
Karena sifatnya lepas, penghasilannya jelas tidak menentu. Kalau seseorang sempat merekam 5 jam dalam seminggu, penghasilannya sekitar Rp 860 ribuan sebulan. Kalau lebih rajin, katakanlah 10 jam seminggu, bisa dapat sekitar Rp 1,7 jutaan. Perusahaan tersebut juga punya pegawai kantoran, gajinya sekitar Rp 3,7 juta sampai Rp 4,6 juta sebulan.
Tapi buat sebagian warga Karur, terutama yang butuh penghasilan tambahan tanpa harus keluar rumah, upah segitu tetap lumayan. Toh yang mereka kerjakan memang aktivitas yang biasa mereka lakukan setiap hari.
Pekerjakan 2.600 Orang
Salah satu perusahaan yang menggerakkan industri ini bernama Objectways Technologies. Berbasis di Karur, kliennya kebanyakan perusahaan Amerika Serikat (AS) yang sedang mengembangkan produk berbasis AI.
Sekarang Objectways sudah mempekerjakan 2.600 orang. Bulan lalu saja, 300 orang direkrut. Salah satunya adalah Aiswarya Palaniswamy, perempuan berusia 25 tahun lulusan magister analitik data. Dia ini yang akan mengevaluasi pekerjaan para pekerja lepas tersebut.
Kerjaan Aiswarya adalah menonton rekaman video dari produk-produk AI fisik, robot humanoid, mobil otonom, lalu mencatat frame demi frame seberapa bagus si mesin menjalankan tugasnya. Dia yakin pekerjaannya tak akan gampang tergantikan, beda dari nasib pekerjaan payroll dan entri data yang sudah lebih dulu diambil alih mesin.
"Data akan selalu ada. Informasi akan selalu ada," katanya.
Objectways sendiri lahir dari niatan sederhana. Pendirinya, Ravi Rajalingam, awalnya bukan orang teknologi. Ia tertarik pada bidang ini setelah membantu sebuah perusahaan pembiayaan mengotomasi proses pengajuan pinjaman lewat AI. Dari situ ia melihat celah, lalu pada 2019 mendirikan Objectways di kampung halamannya. Dua puluh karyawan pertamanya bahkan direkrut langsung oleh istrinya.
"India bukan lagi sekadar menjadi back office bagi dunia," kata Ravi Rajalingam.
Belajar Ambil Piring dari Manusia
Menurut catatan The New York Times, hal menarik dari kerja Objectways ada di laboratoriumnya. Ada dapur uji coba lengkap dengan capit robotik berkamera. Pekerja mengoperasikan capit itu untuk mengambil piring, membuka tutup botol air, menuangkannya ke gelas, menata makanan. Semua direkam, dianalisis frame demi frame.
Aktivitas serupa juga dilakukan di kamar mandi dan kamar tidur tiruan yang sengaja dibangun di kantor. Tujuannya satu, mengajari robot humanoid cara mengurus rumah tangga, persis seperti manusia melakukannya.
"Kami memberikan data kepada robot dan memintanya belajar dari data tersebut," kata Ravi Rajalingam
Ada juga proyek lain, mengembangkan alat bantu bagi penyandang tunanetra yang bisa mendeskripsikan lingkungan sekitar secara otomatis.
Hari Prasad, karyawan berusia 25 tahun lulusan teknik, mengatakan semua ini terasa seperti keluar dari film fiksi ilmiah.
"Kalau 10 tahun lalu ada yang bilang bahwa suatu hari robot akan membawakan kopi untukmu, saya tidak akan percaya," katanya sambil tersenyum.
Namun, kini justru dia yang membantu memastikan skenario tersebut benar-benar terwujud.
"Kami membutuhkan manusia untuk melatih robot," ujarnya.
Atasi Pengangguran di India
Cerita dari Karur ini tidak lepas dari situasi ekonomi yang melanda India. Setiap bulan, sekitar 2 juta warga India genap berusia 18 tahun, dan pemerintahan PM Narendra Modi dikejar untuk menyediakan lapangan kerja.
Bulan lalu, minimnya lapangan kerja bagi lulusan baru bahkan memicu gelombang protes bertajuk "kecoa" yang berujung pergantian menteri pendidikan.
Menteri Teknologi Informasi India, S. Krishnan, melihat peluang India ada di sektor-sektor ekonomi AI yang butuh sentuhan khas manusia, semacam penerjemahan bahasa daerah atau pemantauan pasien di ruang ICU.
Tapi ia juga mewanti-wanti, jangan sampai India terlalu bergantung pada jenis pekerjaan AI yang gampang tergerus zaman, seperti nasib pekerjaan back-office sebelumnya. Sebuah laporan lembaga think tank pemerintah tahun 2025 memperkirakan 1,5 juta pekerjaan di sektor teknologi informasi India bisa hilang karena disrupsi AI.
Meski begitu, para analis memproyeksikan industri data annotation bisa menyumbang sampai 10 miliar dolar AS bagi perekonomian India pada akhir dekade ini, setara sekitar Rp 177 triliun.
Ironi dan Sisi Gelap
Di balik cerita soal lapangan kerja baru, ada sisi lain yang tak kalah penting untuk diceritakan. The Guardian menurunkan laporan investigasi pada 24 Juni 2026 yang menyoroti bagaimana ribuan pekerja pabrik di India direkam tanpa kompensasi layak, bahkan tanpa benar-benar memahami untuk apa rekaman mereka digunakan.
Salah satu pekerja yang diwawancarai, penjahit garmen bernama Lalita (nama disamarkan), pertama kali tertawa saat atasannya memasangkan kamera kecil di kepalanya. Perusahaan yang mengekstraksi data dari pabrik tempat Lalita bekerja bernama EgoLab. Salah satu kliennya adalah Tesla.
"Seperti orang memasang CCTV di dinding, begitu juga mereka memasangnya di kami," katanya.
Tapi suasana di lantai pabrik lambat laun berubah. Lalita dan rekan-rekannya jadi lebih sadar diri terhadap setiap gerakan mereka, khawatir produktivitas mereka sedang diawasi. Obrolan yang biasanya mengalir bebas di antara mesin jahit jadi lebih pelan.
Adapun rekaman semacam ini disebut data egosentris, alias rekaman sudut pandang orang pertama dari gerakan dan interaksi manusia. The Guardian mencatat bahwa ada ironi di sini. Sebab, mereka yang melatih robot kelak berpotensi menggantikan tugas mereka itu sendiri.
Perusahaan-perusahaan yang mengumpulkan data semacam ini memperkirakan di masa depan mereka akan butuh ratusan juta, bahkan miliaran jam rekaman aktivitas manusia dari pabrik, gudang, toko, sampai rumah tangga. Bila semua itu sudah dilakukan, robot bisa diandalkan bernavigasi di dunia nyata.
