Konten dari Pengguna

Aplikasi Merdeka Mengajar, Membantu atau Membelenggu?

Rizki Dewantoro

Rizki Dewantoro

Anggota Pusat Perkumpulan Rumah Produktif Indonesia (RPI)

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizki Dewantoro tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto Dok Tangkapan Layar Youtube Kemendikbudristek
zoom-in-whitePerbesar
Foto Dok Tangkapan Layar Youtube Kemendikbudristek

Selain mengenalkan Kurikulum Merdeka, Kemendikbudristek pada Merdeka Belajar Episode ke-15 juga meluncurkan Platform Merdeka Mengajar. Dengan berkembangnya teknologi informasi, sepertinya Kemendikbudristek tidak ingin ketinggalan menggarap ranah digital ini. Apalagi Sang Mas Menteri Nadiem Makarim awalnya lebih dikenal sebagai ‘bos’ perusahaan start-up yang berkecimpung bertahun-tahun membangun aplikasi yang sudah jadi decacorn itu.

Fenomena pembelajaran daring sebenarnya telah dilirik oleh beberapa penyedia aplikasi di antaranya Ruang Guru dan Genius. Pembelajaran model ini dikenal juga dengan e-learning. Bahkan penggunaan e-learning telah diperkenalkan di Indonesia sejak tahun 2002 oleh Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (Pustekkom) Departemen Pendidikan Nasional yang diberi nama E-dukasi.net (Esty, 2019).

Perkembangan pembelajaran menggunakan media internet awalnya hanya sebagai pendamping atau pelengkap untuk mengakses pelajaran-pelajaran. Terutama para pelajar yang akan mengikuti tes ujian masuk perguruan tinggi atau yang lebih dikenal dengan Bimbingan Belajar (Bimbel). Namun dengan tren penggunaan gawai yang terus meningkat disertai pemilihan tutor yang lebih fleksibel, e-learning menjadi pilihan utama di samping pembelajaran melalui video-video tutorial yang marak di internet.

Puncaknya dengan terpaan pandemi yang mengharuskan Belajar Dari Rumah (BDR). Pembelajaran daring sempat membuat dunia pendidikan kelimpungan. Keterbatasan perangkat, akses jaringan yang belum merata, hingga kurang siapnya pendidik dan siswa mengakibatkan learning loss (hilangnya pembelajaran).

Maka, dengan hadirnya Platform Merdeka Mengajar diharapkan mempermudah guru mengajar sesuai kemampuan siswa, menyediakan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi, serta berkarya untuk menginspirasi rekan sejawat. Melalui platform teknologi ini seyogyanya dapat membantu guru agar bisa mengajar lebih baik, meningkatkan kompetensi, dan berkembang secara karier.

Pada tahap perintisannya, Kemendikbudristek menerapkan Platform Merdeka Mengajar kepada semua guru juga kepala sekolah pada program Sekolah Penggerak dan SMK Pusat Keunggulan. Kemudian, secara bertahap Platform Merdeka Mengajar akan terus berkembang dan mengalami peningkatan agar bisa diakses publik.

Fitur yang tersedia dalam Platform Merdeka Mengajar di antaranya adalah Produk Perangkat Ajar. Guru dapat mengakses fitur-fitur terkait modul ajar hingga buku teks di dalamnya. Fitur Perangkat yaitu kumpulan materi pengajaran sesuai dengan mata pelajaran dan fase belajar yang diinginkan. Di sini, Guru dapat menemukan modul ajar dan buku teks yang bisa dimodifikasi sesuai kebutuhan serta karakteristik murid.

Fitur lainnya yaitu ada pelatihan mandiri, yaitu program pelatihan yang dibuat oleh para ahli dan terdiri dari beragam topik dan materi. Relevan serta praktikal yang dapat dipelajari di mana pun dan kapan pun. Selain itu, ada juga Bukti Karya yang menampilkan kumpulan rekam jejak kinerja serta kompetensi dari pendidik yang dapat dibagikan ke sesama rekan sejawatnya agar dapat saling menginspirasi dan bertukar pikiran.

Seperti diungkapkan Nadiem Makarim, Platform Merdeka Mengajar adalah aplikasi untuk menerapkan kurikulum merdeka dan belajar untuk menjadi pengajar yang dimiliki guru, dari guru, untuk guru.

Memang sudah saatnya penggunaan teknologi aplikasi dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk pembelajaran dan memajukan pendidikan nasional. Di dalamnya juga terdapat toolkit asesmen untuk mengukur capaian belajar siswa. Data itu dapat dimanfaatkan untuk menganalisis kompetensi murid-murid di setiap kelas.

Merdeka mengajar mendorong guru dalam berkarya dan berbagi metode pembelajaran. Merdeka Mengajar diharapkan menjadi suatu referensi bagi guru mengembangkan praktik mengajar. Membantu guru berinovasi menciptakan pembelajaran sesuai tantangan zaman.

Hanya saja dalam penggunaan Platform Merdeka Mengajar perlu pendampingan yang intensif. Serta tentunya perlu kesadaran kolektif dari pendidik untuk memanfaatkan teknologi informasi ini agar jangan menjadi belenggu pendidikan kita.

Apalagi beban sebagai pengajar sudah sangat berat dengan berbagai administrasi-administrasi yang kurang perlu. Adanya apresiasi dari pemangku kepentingan sudah menjadi keharusan agar program Platform Merdeka Mengajar tidak layu sebelum berkembang.

Rizki Putra Dewantoro, Alumni Pascasarjana Kajian Ketahanan Nasional Universitas Indonesia, Penggiat Iqro Movement