Merasakan Eropa dengan Harga Murah

Tulisan dari Rizki Mubarok tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Eropa merupakan salah satu destinasi wisata bagi orang-orang berkantong tebal. Untuk menjelajahi dan merasakan Eropa dibutuhkan uang yang tidak sedikit, bisa puluhan juta. Bagi orang-orang biasa, berlibur dan merasakan Eropa bisa dibilang hanya angan kosong.
Namun, bagi kalian warga Jakarta, untuk merasanakan suasana Eropa, kalian tidak perlu merogoh kocek yang dalam, hanya cukup Rp. 5 ribu saja untuk merasakan suasana ala Eropa. Di daerah Tanah Abang, tepatnya di sebelah Kantor walikota Jakarta Pusat, terdapat sebuah museum yang cukup bagus dengan desain artistik bergaya Eropa yang bernama Museum Prasasti.
Ketika kita tiba di depan museum kita akan disambut dua buah dokar yang berisi peti mati. Menurut Andri selaku Kepala Satuan Pelayanan (Kasatpel) musim prasasti ketika ditemui oleh kumparan (kumparan.com) di Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Rabu (8/11) menuturkan bahwa fungsi dari kedua dokar tersebut pada zaman dahulu ialah untuk menjemput jenazah.

Dokar Kendaraan Penjemput Jenazah
"Ini dulu untuk menjemput jenazah orang belanda, karena dulu itu belum maksimal jalan daratnya, jadi pake ini," ucap Andri.
Ketika kami masuk ke areal musim, kami melihat areal pemakaman dan banyak sekali prasasti-prasasti yang bergaya Eropa. Namun, sayang sekali museum ini bisa dibilang sepi pengunjung. Ketika kami mencoba mengkonfirmasi kepada Andri, beliau mengakui bahwa pengunjung di museum tersebut memang sepi.
"Memang sepi, apalagi kalau hujan, terlalu panas, itu makin sepi," ujar Andri.
Frekuensi pengunjung paling banyak biasanya ada di hari sabtu dan minggu sedangkan untuk hari biasa tidak begitu ramai.
" Untuk pengunjung paling ramai hari sabtu dan minggu, itu sekitar 100-150. Kalau hari biasa sekitar 30-50," ungkap Andri.
Minimnya pengunjung yang datang di Musem ini sangat disayangkan, mengingat museum ini dari segi lokasi, kebersihan, dan harga bisa dibilang sangat baik. Bahkan banyak koleksi-koleksi yang sangat bagus yang bisa kita temui disini, seperti pusara Soe Hok Gie, pusara dari istri Stanford Raffles, peti mati dari dua proklamator, dan banyak sekali koleksi menarik yang dimiliki museum ini.

Peti Mati Dua Proklamator


Sebagian Koleksi Museum
Di museum ini selain kita bisa menikmati suasana ala-ala Eropa, disini kita juga akan disuguhi film-film dokumenter yang biasanya diputar pada tiap hari sabtu dan minggu.
Selain itu, Upacara militer tiap bulan September dilakukan oleh kedutaan Jepang di salah satu koleksi prasasti museum prasasti sebagai bentuk penghormatan terhadap 30 tentara jepang yang gugur melawan sekutu di sungai Ciantung, desa lieuwiliang, Bogor

Prasasti Penghormatan Tentara Jepang yang Gugur
Hal yang menarik ialah ketika Andri menuturkan bahwa ada kebiasaan unik orang-orang yang ingin mendaki gunung kerap datang ke museum untuk meminta izin.
"Banyak yang datang kesini kalau mau naik gunung, katanya mau izin dulu ke Soe Hok Gie, dia kan pendaki," ucap Andri.

Pusara Soe Hok Gie
Ketika kita hendak meninggalkan museum, kita akan kembali ke pintu depan museum. Disana akan ada tulisan dalam bahasa belanda, yang kurang lebih, "Seperti Anda sekarang, demikianlah aku sebelumnya. Seperti aku sekarang, demikianlah juga Anda kelak."
