Konten dari Pengguna

Belajar Ngerem: Pentingnya Jeda dan Mikir Pelan-pelan

Rizki Mulyarahman

Rizki Mulyarahman

Pegiat Literasi, ASN UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizki Mulyarahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di dunia yang serba cepat, semua orang kayak lagi kebut-kebutan dan balap liar. Informasi masuk kayak peluru —datang bertubi-tubi, notifikasi terus berdering, dan opini datang silih berganti kayak banjir bandang, bahkan opini muncul lebih cepat dari proses berpikir. Rasanya, kalua kita nggak buru-buru nanggepin, kita bakal ketinggalan kereta.

“Jeda itu bukan kelemahan. Ngerem, bukan juga berarti berhenti. Itu cara kita memastkan kalau kita masih di jalur yang benar, biar tiap langkahmu punya arah”

Kita jadi terbiasa nge-gas terus: ‘lihat, reaksi, dan lanjut.’ Padahal otak kita nggak didesain buat terus-terusan di kecepatan tinggi.

Tapi, coba deeeh jujur sebentar: ‘Kapan terakhir kali kamu benar-benar buat mikir sebelum ngomong atau nge-post sesuatu?”

‘Nalar’ itu butuh rem. Tanpa rem, kita cuma reaktif: ‘lihat, klik, komen, dan selesai.’ Padahal seringkali yang kita butuhkan adalah Cuma jeda sejenak buat mikir, “Bener nggak sih gue ngerti ini?” atau “Perlu nggak sih gue respon sekarang?”

Belajar ‘ngerem’ itu penting. ‘Nalar’ butuh waktu buat mencerna, nge-cek fakta, dan mikirin dampak dari setiap langkah. Tanpa jeda, kita gampang kejebak reaksi spontan.

Belajar ‘ngerem’ itu bukan berarti jadi orang yang selalu lambat. Justru dengan ngerem, kita bisa memastikan setiap langkah punya arah.

Masalahnya, banyak dari kita keburu dan terbiasa injek gas doing. Lihat satu potong berita, langsung percaya, langsung sebar. Belum sempet nanya ke diri sendiri:

“Ini bener nggak siih?” “Gue ngerti nggak, atau cuma kebawa emosi aja?”

‘Jeda’ itu penting, bukan berarti malas atau ketinggalan. Itu ruang buat otak kamu ngolah informasi biar nggak asal telan. Kayak bikin kopi: “Kalau buru-buru diseruput, yang kena lidah cuma pahit dan ampasnya doang.” Tapi, kalau sabar, aroma dan rasanya bisa keluar sempurna.

.. “Jeda itu bukan kelemahan. Ngerem, bukan juga berarti berhenti. Itu cara kita memastkan kalau kita masih di jalur yang benar, biar tiap langkahmu punya arah” (Dok. Pribadi, Diskusi ringan seputar Literasi Digital, bersama Warga)

Di dunia yang menghargai kecepatan, jeda jadi seni yang terlupakan. Kemampuan buat pelan-pelan itu jadi skill yang superpower dan langka. Kita kelihatan keren, bukan seberapa cepat kita jawab, tapi seberapa tepat kita mikir sebelum ngomong. Karena nggak semua hal butuh jawaban sekarang juga. Kadang yang paling bijak justru yang tahu kapan harus diem dulu.

Padahal, banyak keputusan penting lahir dari mereka yang berani berhenti sejenak.

“Jeda itu bukan berhenti. Itu cara kita memastikan setiap langkah punya arah dan makna”