Kenapa Kita Butuh Ruang untuk Mikir?

Pegiat Literasi, ASN UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Rizki Mulyarahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
“Banyak yang pintar, tapi nggak semuanya pakai nalar.”
Kita tumbuh di zaman yang nggak kasih kita waktu buat pause.
Buka HP —notifikasi masuk. Buka medsos —ada berita baru. Chat belum dibalas —ada yang curiga. Timeline rame —harus ikut komen. Bahkan, diam sebentar aja bisa dianggap aneh.
Semuanya ngajak kita buat terus nyambung, terus update, terus hadir. Tapi ironisnya, di tengah semua koneksi itu, kita jadi makin jauh dari pikiran sendiri.
Kita sibuk. Tapi nggak sadar lagi mikir apa.
Kita aktif. Tapi nggak pernah benar-benar hadir buat diri sendiri.
Dan lama-lama, kita kehilangan ruang untuk mikir.
Banyak orang salah kaprah. Dikira mikir itu berarti overthinking, muter-muter, bikin stres. Padahal bukan itu.
Mikir itu sehat. Mikir itu manusiawi. Bedanya, overthinking itu mikir yang nggak kemana-mana, sedangkan berpikir sehat itu punya arah, punya tujuan.
Tapi semua itu cuma bisa dilakukan kalau kita punya ruang.
Bukan cuma ruang fisik—kayak tempat tenang. Tapi juga ruang mental:
ruang tanpa distraksi, ruang tanpa tekanan, ruang tanpa tuntutan untuk langsung paham atau langsung benar.
Ruang itu bukan kemewahan. Itu kebutuhan.
Kamu nggak harus liburan ke pegunungan atau digital detox sebulan buat mikir jernih.
Kadang cukup matikan notifikasi 10 menit. Kadang cukup diam sebentar di warung kopi.
Kadang cukup berani bilang: "Gue butuh waktu buat mencerna ini."
Ruang itu bukan tempat mewah. Tapi keputusan sederhana untuk melambat. Dan saat kamu kasih ruang untuk mikir, pelan-pelan kamu akan tahu:
