Konten dari Pengguna

Makna ‘Nalar’ di Era Serba Cepat dan Serba Online

Rizki Mulyarahman
Pegiat Literasi, ASN UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
17 Juli 2025 9:44 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Makna ‘Nalar’ di Era Serba Cepat dan Serba Online
Di zaman di mana informasi begitu mudah diakses, kita justru menghadapi krisis baru: krisis nalar. Kita tahu banyak, tapi sering gagal memahami. Kita terlibat dalam debat, tapi minim logika.
Rizki Mulyarahman
Tulisan dari Rizki Mulyarahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Hari ini, hampir semua orang punya akses ke informasi serba online. Mau belajar filsafat, psikologi, sejarah, sampai sains —semua ada di internet dan dapat diakses secara online.
ADVERTISEMENT
Tinggal ketik di Google, tonton YouTube, atau baca thread Twitter yang berseri-seri. Tapi anehnya, walaupun informasi gampang banget diakses, kenapa kita masih sering salah paham?

Kenapa debat di kolom komentar makin panas tapi makin nggak nyambung?

Mungkin karena kita tahu banyak, tapi lupa pakai nalar. 'Nalar' bukan cuma soal “berpikir”.
'Nalar' itu cara kita menghubungkan titik-titik, memilah mana yang masuk akal, mana yang cuma asumsi, dan mana yang cuma emosi dibungkus opini yang dapat akses ke informasi serba online.
"Era serba cepat dan serba online, Nalar memiliki nilai penting" Dok: Mahasiswa UIN Jakarta
Nalar itu ketika kamu bertanya,
Dengan nalar, kita nggak dapat langsung percaya. Tapi juga nggak langsung nge-judge.
Kita dikasih jeda. Kita telaah. Kita pertimbangkan. Namun sayangnya, kemampuan ini makin langka di zaman digital.
ADVERTISEMENT
Internet itu memang luar biasa. Tapi juga semakin dibikin untuk malas mikir. Kita suka yang cepat, lucu, relatable, dan bikin emosi naik. Kalau bisa dibungkus jadi konten satu menit, ngapain baca artikel panjang?
Akibatnya, cara berpikir kita ikut ketarik; Kita suka yang bombastis, Kita mudah percaya karena viral, Kita setuju karena "kelompok kita juga setuju".
Dan akhirnya, nalar pelan-pelan disingkirkan. Diganti sama validasi emosional. Asal sesuai dengan perasaan kita —kita anggap itu kebenaran. Padahal nalar itu justru penting banget pas emosi lagi tinggi.
Bayangin kamu lagi di tengah hutan, bawa peta tapi nggak bawa kompas. Kamu tahu jalannya, tapi nggak tahu arah.
Nah, nalar itu kompasnya pikiran kita. Nalar bantu kita tahu mana informasi yang layak dipercaya, mana opini yang perlu diuji, kapan harus diam, dan kapan bicara serta kapan harus mikir sendiri, bukan karena cuma ikut-ikutan.
ADVERTISEMENT
Kalau kita nggak pakai nalar, kita gampang tersesat. Bukan menemukan jalan, melainkan dengan nalar cara kita dapat melihat hidup, bahkan memahami diri sendiri.
Nalar bukan barang elit, apalagi barang mewah. Nggak harus jadi filsuf atau bahkan jadi akademisi agar kita bisa menggunakan nalar.
Yang terpenting adalah keberanian buat bisa mikir pelan-pelan, dan kerendahan hati buat bilang: "Aku belum tentu benar."
Di tengah dunia yang serba cepat dan serba online, nalar adalah bentuk keberanian baru. Dan setiap kali kamu kasih ruang buat nalar, itu artinya kamu lagi berinteraksi bareng pikiranmu sendiri. Maka dari itu, gunakan Nalar untuk dapat mencerna informasi di zaman serba cepat dan serca online.