Konten dari Pengguna

Pencatatan Keuangan yang Terabaikan: Mengapa UMKM Gagal Meningkatkan Kinerja?

Rizki Nurhidayah

Rizki Nurhidayah

Mahasiswa FEBI, UIN Raden Mas Said Surakarta

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizki Nurhidayah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber gambar : Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Sumber gambar : Pixabay

UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) adalah usaha ekonomi produktif yang dimiliki oleh individu atau badan usaha kecil tertentu. UMKM memiliki peran strategis dalam perekonomian Indonesia karena mencakup sebagian besar pelaku ekonomi dan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Data terakhir yang diterbitkan oleh Kementerian Koperasi dan UMKM pada tahun 2023 menunjukkan bahwa jumlah UMKM di Indonesia telah mencapai lebih dari 65 juta, yang menjadikannya sebagai mayoritas, yaitu 99% dari total unit usaha yang ada di Indonesia. Kontribusi UMKM terhadap perekonomian sangat signifikan, yaitu sebesar 60,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Selain itu, sektor UMKM juga menyerap sekitar 96,9% tenaga kerja, sehingga menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia.

Walaupun begitu, faktanya masih banyak UMKM yang tidak melakukan pembukuan keuangan dengan benar, terlebih pada usaha mikro. Dalam sebuah penelitian yang dikutip oleh Kementrian Koperasi dan UMKM tahun 2022, sebanyak 77,5% UMKM tidak memiliki sistem pembukuan yang baik, sehingga sulit untuk mengelola keuangan perusahaan dengan benar.

Pembukuan keuangan sangat penting dilakukan untuk mencatat dan melaporkan transaksi keuangan secara sistematis. Sehingga dapat menghasilkan laporan posisi kinerja keuangan perusahaan. Dari pembukuan ini kemudian dapat digunakan oleh manajemen atau pemilik usaha dalam mengambil keputusan internal seperti penganggaran, pengendalian biaya serta evaluasi kinerja operasional, atau bisa disebut akuntansi manajemen.

Fakta real-nya, banyak UMKM yang masih melakukan pencatatan keuangan dengan metode sederhana, tidak struktur, dan seringkali hanya berdasarkan transaksi harian.

Salah satu contoh bagaimana pencatatan transaksi pada UMKM Sehati Food, Ibu Andika selaku founder menyatakan,

"Pencatatanya per projek, hari ini produknya apa, ouhh hari ini produksi nya katsu, sama dimsum, yaudah dimsum berapa kilo, katsu berapa kilo, di hitung kira-kira pengeluarannya, dihitung kira-kira pendapatannya, marginya sekian, gitu".

Begitu juga diungkapkan oleh founder Roti 88 bapak Ego

”kami gak ada catatan perbulan, atau pertahun, ya hanya catatan waktu kulak’an (membeli bahan baku) setiap hari”.

Faktor-faktor yang menyebabkan UMKM tidak melakukan pencatatan keuangan dengan benar, apalagi pencatatan keuangan sebagai dasar dari akuntansi manajemen adalah sebagai berikut:

  1. Kurangnya pengetahuan dan edukasi

    Banyak pelaku usaha UMKM tidak memahami akan pentingnya pembukuan keuangan. Mereka menganggap, pembukuan sebagai sesuatu hal yang sulit, membutuhkan keterampilan khusus seperti akuntansi dan skill menggunakan teknologi. Banyak pelaku usaha UMKM merasa tidak memiliki kemampuan untuk mencatat pemasukan dan pengeluaran dengan sistematis.

    Hal ini disadari juga oleh Ibu Andika "Kendalanya ya kurangnya ilmu manajemen, saya itu juga tidak tahu akuntansi, saya sadar diri, ya pingin belajar , cuman bingung mau mulai dari mana dulu".

  2. Fokus pada operasional harian

    Pelaku usaha UMKM sering kali lebih fokus pada aktivitas harian, seperti menjual produk dan melayani pelanggan. Sehingga, menganggap pembukuan keuangan perusahaan sebagai hal yang kurang mendesak dan sering di abaikan.

  3. Pola keuangan yang bercampur dengan uang pribadi

    Banyak pelaku usaha UMKM mencampur keuangan usaha dengan keuangan pribadi mereka. Dampaknya adalah sulit mengukur kinerja usaha, apakah usaha menghasilkan keuntungan atau justru mengalami kerugian. Karena susahnya mengidentifikasi biaya-biaya overhead pabrik atau tidak terlihatnya alokasi dana yang membuat laba bersih tidak akurat. Selain itu, dapat terjadi resiko kehabisan modal usaha karena penggunaan uang usaha untuk kebutuhan pribadi.

Akuntansi manajemen memiliki peran yang sangat vital dalam mendukung pengambilan keputusan finansial perusahaan, dan berperan penting dalam peningkatan kinerja perusahaan. Yang mana pencatatan keuangan menjadi dasar yang akurat untuk pengambilan keputusan bisnis yang strategis. Itulah gunanya pencatatan keuangan perusahaan secara sistematis.

Ibu Andika, Founder dari UMKM Sehati Food, menyampaikan,

"Mungkin itu (kurangnya keahlian dalam akuntansi manajemen) yang bikin usaha saya belum berkembang pesat, soalnya saya lihat barengan usaha saya, kayak kalian semua tahu Bolo Sego (Yogyakarta) itu kayaknya start-nya sama kayak kita di Jogja, tapi sekarang dia sudah besar banget gitu ya. karena memang mungkin, mbaknya pinter manajemen. padahal kita sama-sama dari FISIP (UNS)".

Pernyataan Ibu Andika menggambarkan pentingnya pengelolaan manajemen yang baik, termasuk dalam bidang akuntansi manajemen, untuk keberhasilan dan perkembangan kinerja usaha. Tanpa sebuah sistem yang tepat, meskipun memulai usaha dengan potensi yang sama, waktu start yang sama, kesulitan dalam pengambilan keputusan finansial dapat menghambat pertumbuhan bisnis.

Perusahaan yang tumbuh dapat dilihat dari kesehatan dan pertumbuhan keuangannya. Dapat dilihat dari peningkatan pendapatan (revenue growth), peningakatan laba bersih (net profit growth), efisiensi pengelolaan biaya (cos efficiency), arus kas (cash flow), rasio profitabilitas, dan likuditas. Dan itu semua butuh pembukuan keuangan, butuh pemahaman akuntansi. Jika perusahaan ingin tumbuh, pencatatan keuangan harus sangat diperhatikan. Yang mana dari catatan itu menunjukkan dimana posisi perusahan berada.

Pencatatan keuangan memiliki peran yang sangat penting dalam akuntansi manajemen karena menjadi landasan yang akurat bagi pengambilan keputusan yang efektif. Dengan pencatatan yang tepat, manajemen atau pemilik usaha dapat memantau arus kas, mengelola biaya, dan mengevaluasi kinerja perusahaan secara menyeluruh. Yang dapat memudahkan dalam merencanakan anggaran, mengelola investasi, serta meningkatkan efisiensi operasional.

Tanpa pencatatan yang terstruktur dengan baik, akuntansi manajemen tidak akan mampu menyediakan informasi yang diperlukan untuk mengoptimalkan sumber daya dan mencapai keberhasilan perusahaan.

Berikut adalah beberapa solusi yang dapat membantu UMKM mengatasi masalah pencatatan keuangan yang akan berpengeruh terhadap pengambilan keputusan finansial perusahaan.

  1. Pendidikan dan pelatihan keuangan

    UMKM perlu diberikan edukasi tentang pentingnya pencatatan keuangan yang benar dan sistematis. Program pendampingan dan pelatihan yang dapat mencakup dasar-dasar akuntansi, cara pencatatan, dan pengelolaan arus kas yang bisa membantu para pemilik UMKM memahami pentingnya pencatatan keuangan yang akurat.

  2. Penggunaan aplikasi keuangan

    Menggunakan aplikasi keuangan atau software akuntansi yang sederhana dan mudah digunakan bisa menjadi solusi praktis bagi UMKM. Banyak aplikasi yang dirancang khusus untuk UMKM, yang memungkinkan pemilik usaha mencatat pemasukan, pengeluaran, dan memantau arus kas secara real-time tanpa harus memiliki keahlian akuntansi yang tinggi.

  3. Membuat sistem pencatatan sederhana

    Bagi UMKM yang belum siap menggunakan software, pencatatan keuangan manual dengan sistem yang sederhana seperti menggunakan buku kas atau pembukuan berbasis spreadsheet (Excel atau Google Sheets) bisa menjadi solusi awal. Buku kas yang sederhana,bisa digunakan untuk mencatat pendapatan dan pengeluaran harian, sehingga memudahkan pemilik usaha dalam mengontrol keuangan.

  4. Menyewa Jasa Akuntan atau Konsultan Keuangan

    Apabila UMKM kesulitan mengelola keuangan, menyewa jasa akuntan atau konsultan keuangan bisa menjadi langkah yang baik. Mereka dapat membantu merancang sistem pencatatan keuangan yang tepat, memberikan saran terkait pengelolaan arus kas, serta membuat laporan keuangan yang dapat digunakan untuk analisis dan pengambilan keputus

Pencatatan keuangan yang sistematis dan akurat merupakan aspek krusial bagi pertumbuhan UMKM. Dengan menerapkan solusi-solusi yang telah disebutkan, seperti pendidikan keuangan, penggunaan aplikasi, sistem pencatatan sederhana, serta bantuan dari akuntan atau konsultan, UMKM dapat mengatasi hambatan maupun ketidak tahuan dalam pengelolaan keuangan mereka.

Harapannya, UMKM di Indonesia semakin sadar akan pentingnya keuangan yang baik, sehingga mereka dapat mengambil keputusan bisnis yang lebih tepat, meningkatkan efisiensi operasional, dan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan dalam manajemen jangka panjang. Pemerintah dan pihak terkait diharapkan dapat terus mendukung melalui program pelatihan dan pendampingan agar UMKM dapat terus tumbuh dan meningkatkan perekonomian negara.