Sleep Paralysis :Tidur Tertindih Setan, Apa Benar Adanya?

Psychology of Brawijaya University
Konten dari Pengguna
25 November 2022 21:23
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Amalya Rizki Yusfitanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi " Sleep paralysis". Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi " Sleep paralysis". Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
Pada kehidupan ini, tidak sedikit individu pernah mengalami kondisi tertindih saat tidur. Sebagian beranggapan bahwa fenomena tertindih merupakan perbuatan setan atau makhluk halus yang ada di area kamar tidur. Bahkan tidak sedikit orang memercayai bahwa gangguan dari makhluk halus ini dapat berupa rasa yang panas, menekan, meremas, menindih di bagian dada, sampai terasa sesak bahkan sampai seolah-olah melihat sosok bayangan hitam besar. Fenomena tertindih atau lebih dikenal sebagai fenomena sleep paralysis menyebabkan individu tidak dapat melakukan apa pun, mulai dari bicara, menggerakan tangan bahkan dapat membuat seluruh badan lumpuh saat tidur.
ADVERTISEMENT
Nah, apakah kalian pernah merasakan fenomena tertindih saat tidur? Lalu sebenarnya fenomena tertindih yang terjadi ketika tidur itu apa, sih? Bagaimana cara mengatasinya? Simak penjelasan berikut ini.
Ketindihan dalam disiplin ilmu disebut dengan sleep paralysis. Menurut epistemologi, sleep paralysis berasal dari kata “sleep” yang artinya tidur dan “paralysis” yang artinya kelumpuhan. Sleep paralysis merupakan kondisi kelumpuhan yang dirasakan oleh manusia saat tertidur dimana seluruh indra aktif, namun tidak mampu menggerakan otot dan fisik. Menurut Sadock (2010), Sleep paralysis merupakan gangguan tidur dimana terdapat suatu keadaan individu yang mengalami kesulitan untuk bergerak ketika tidur ataupun ketika bangun. Sleep paralysis dapat terjadi karena beberapa faktor penyebab diantaranya lelah yang berlebihan, kurang tidur, tidur telentang, penyalahgunaan zat kimia dan stres (Culebras, 2011).
ADVERTISEMENT
Tidur merupakan cara untuk melepaskan stres dan kelelahan, baik jasmani maupun mental. Dalam tidur terdapat 2 tahapan, yakni Non Rapid Eye Movement (NREM) dan Rapid Eye Movement (REM). Pada saat tidur akan mengalami NREM yang merupakan fase awal dan akan dikuti oleh REM. Saat NREM akan mengalami 4 tahapan tidur, yaitu:
1. Tidur fase pertama (N1), yakni dimana tidur berada antara fase terjaga dan fase awal tidur yang ditandai dengan kelopak mata tertutup, tonus otot berkurang, bola mata masih bergerak, mudah dibangunkan yang berlangsung antara 3-5 menit.
2. Tidur fase kedua (N2) atau menuju tidur pulas yang ditandai dengan bola mata yang berhenti bergerak, setengah sadar (tidur lebih dalam dari fase pertama), otot, otak dan nadi mulai melemah.
ADVERTISEMENT
3. Tidur fase ketiga (N3) atau tidur pulas adalah kondisi tidur yang lebih dalam dari fase kedua, aktivitas organ mulai melemah dan rileks.
4. Tidur fase keempat (N4) adalah kondisi sukar untuk dibangunkan (deep sleep). Tidur fase NREM ini akan berlangsung dalam jangka waktu 70-100 menit yang akan dilanjutkan dengan fase REM.
5. Pada saat memasuki tahapan REM akan berlangsung lebih cepat, bola mata mulai bergerak, terjadi peningkatan pada nadi, napas dan tekanan darah. Pada fase ini otak bekerja lebih aktif dan akan memunculkan mimpi dan terkadang akan memunculkan halusinasi.
Ketindihan ini berlangsung pada tahap REM, dimana penderita langsung mengalami tidur yang dalam (deep sleep) dan melewati tahapan tidur sebelumnya. Hal ini akan menyebabkan kurang stabilnya kerja otak karena terdapat gerakan atau tahapan yang berbeda antara tubuh dan otak secara bersamaan yang mengakibatkan adanya halusinasi. Halusinasi yang muncul pada saat terjadi sleep paralysis, baik pendengaran maupun penglihatan, karena saat sleep paralysis, otak terus memproduksi mimpi meski tubuh sudah terbangun dan menyebabkan kelumpuhan (Schulz, 2008).
ADVERTISEMENT
Halusinasi dari perspektif kedokteran konvensional. Menurut Sharpless dan Doghramji (2015) sekitar 80% dari pengalaman sleep paralysis terdapat 4 macam halusinasi, yakni:
1. Halusinasi auditif yakni halusinasi yang berkaitan dengan indra pendengaran yang membuat individu seolah-olah mendengar senandung, desis, suara aneh, jeritan, garukan, tangisan.
2. Persepsi kehadiran yakni halusinasi yang berkaitan dengan kehadiran yang dirasakan, seperti perasaan intens akan kehadiran sesuatu di dalam ruangan, kebanyakan dianggap ganas dengan perasaan cemas akan keamanan diri sendiri.
3. Halusinasi taktil dan kinestetik yakni halusinasi berkaitan dengan persepsi. Seolah-olah akan merasakan panas atau dingin, tekanan atau berat pada dada dan di bagian tubuh lainnya, timbulnya perasaan disentuh, bahkan terkadang dicekik, jatuh, melayang, atau berputar.
4. Halusinasi visual yakni halusinasi yang berkaitan dengan persepsi objek seperti binatang, setan, hantu, alien, bayangan.
ADVERTISEMENT
Nah, dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa fenomena tertindih bukan karena tertindih setan melainkan gangguan tidur yang disebut sleep paralysis yang membuat kelumpuhan dan sebuah halusinasi. Fenomena ini merupakan hal normal dan bukan hal yang membahayakan jika individu dapat tidur cukup. Ketika terjadi sleep paralysis hal yang dapat dilakukan adalah tetap tenang agar tidak makin merasakan sesak, berusaha untuk menggerakan jari kaki dan tangan dengan perlahan sehingga sampai dengan kondisi sadar. Ketindihan dapat dicegah dengan istirahat yang cukup, lebih rileks, posisi tidur yang nyaman, serta tidak membuat jasmani dan rohani terlalu lelah.
Referensi:
Ambarwati, R. (2017). Tidur, irama sirkardian dan metabolisme tubuh. Jurnal pengeluaran , 10 (1), 42-46.
DIANA, A. (2022). FENOMENA KETINDIHAN PERSPEKTIF MEDIS DAN AGAMA ISLAM. NIHAIYYAT: Jurnal Studi Interdisipliner Islam , 1 (2), 153-162.
ADVERTISEMENT
Jalal, B., & Ramachandran, V. S. (2017). sleep paralysis,"the ghostly bedroom intruder” and out-of-body experiences: the role of mirror neurons. Frontiers in human neuroscience, 11, 92.
Mayer, G., & Fuhrmann, M. (2022). Sleep Paralysis and Extraordinary Experiences. Journal of Anomalous Experience and Cognition, 2(1), 111-143. https://doi.org/10.31156/jaex.23534
Sadock, B.J. Buku ajar psikiatri klinis. 2nd rev.ed. Terjemahan oleh Profitasari. 2010. Jakarta:EGC.
Schulz, H. (2008). Rethinking sleep analysis. Comment on the AASM Manual for the Scoring of Sleep and Associated Events. Journal of Clinical Sleep Medicine, 4(2), 99-103
Sharpless, B. A., & Doghramji, K. (2015). Sleep paralysis: Historical, psychological, and medical perspectives. Oxford University Press
Tjang, YS, & Arista, M. (2017). Pengaruh Stres Terhadap Kejadian Sleep Paralysis Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran. Jurnal Psikologi Pendidikan dan Konseling: Jurnal Kajian Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Konseling .
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·