Ketika Melepaskan Lebih Sulit daripada Mencintai

Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rizkia Mardhatillah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak semua hubungan berakhir karena hilangnya rasa. Ada kalanya seseorang masih mencintai, tetapi keadaan memaksanya untuk belajar melepaskan. Perasaan semacam inilah yang coba dibawa Fiersa Besari dalam Garis Waktu, sebuah novel yang mengajak pembaca mengikuti perjalanan cinta, kehilangan, hingga proses berdamai dengan masa lalu.
Judul Buku: Garis Waktu
Penulis: Fiersa Besari
Penerbit: MediaKita
Tahun Terbit: 2016
Halaman: 211 halaman
Garis Waktu menceritakan perjalanan seorang laki-laki dalam mengenal, mencintai, hingga akhirnya harus melepaskan seseorang yang berarti dalam hidupnya. Cerita disampaikan melalui tokoh “Aku” yang mengungkapkan perasaan dan pikirannya kepada “Kau” melalui serangkaian surat dari tahun pertama hingga tahun kelima. Awalnya, “Aku” hanya memendam rasa kagum kepada “Kau”, sampai akhirnya ia berani mengungkapkan perasaannya dan mereka menjalin hubungan.
Namun, hubungan mereka tidak berjalan selamanya. “Aku” harus menghadapi kenyataan bahwa perempuan yang dicintainya memilih orang lain, sehingga ia merasakan kecewa dan kehilangan. Meski masih menyimpan kenangan tentang hubungan tersebut, “Aku” perlahan belajar menerima bahwa tidak semua yang dicintai bisa dipertahankan. Pada akhirnya, ia mencoba berdamai dengan masa lalu dan melanjutkan hidupnya.
Kelebihan Novel Garis Waktu terletak pada cara penulis menyampaikan emosi melalui bahasa yang sederhana tetapi tetap puitis. Rangkaian surat yang menjadi bentuk utama cerita juga membuat perjalanan tokoh “Aku” terasa seperti catatan dari berbagai fase kehidupan. Pembaca dapat melihat perubahan perasaan tokoh, mulai dari rasa kagum dan bahagia ketika jatuh cinta hingga rasa kecewa dan kehilangan ketika hubungan tersebut berakhir.
Selain itu, penggunaan majas dan kalimat-kalimat reflektif menjadi salah satu ciri khas dalam novel ini. Bahasa yang digunakan tidak terlalu sulit untuk dipahami, tetapi tetap mampu memberikan kesan emosional. Hal tersebut membuat beberapa bagian cerita terasa dekat dengan pengalaman pembaca, terutama bagi mereka yang pernah merasakan kehilangan atau harus merelakan seseorang.
Namun, novel ini juga memiliki beberapa kekurangan. Penyajian cerita melalui rangkaian surat dan tulisan dari sudut pandang tokoh “Aku” mungkin terasa kurang menarik bagi pembaca yang terbiasa dengan novel dengan alur, dialog, dan konflik yang lebih kompleks. Sebagian besar cerita juga berfokus pada perasaan dan pemikiran tokoh utama sehingga beberapa bagian dapat terasa repetitif. Selain itu, karena cerita sangat menonjolkan sisi emosional tokoh “Aku”, pembaca yang mengharapkan perkembangan karakter dan interaksi antartokoh yang lebih mendalam mungkin akan merasa kurang mendapatkan hal tersebut.
Secara keseluruhan, Garis Waktu merupakan novel yang tidak hanya bercerita tentang percintaan, tetapi juga tentang proses menerima kehilangan. Fiersa Besari menunjukkan bahwa mencintai seseorang tidak selalu berarti harus terus mempertahankannya. Ada kalanya seseorang harus belajar melepaskan meskipun prosesnya menyakitkan. Melalui perjalanan tokoh “Aku”, pembaca diajak memahami bahwa waktu tidak selalu menghapus luka, tetapi dapat membantu seseorang belajar berdamai dengan apa yang telah terjadi.
