Konten dari Pengguna

Perebutan Festival Songkran Antara Thailand dan Myanmar

Rizki Maulana Firdaus

Rizki Maulana Firdaus

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Kristen Indonesia

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizki Maulana Firdaus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Orang-orang bermain air saat merayakan liburan Songkran yang menandai Tahun Baru Thailand, di Bangkok, Thailand, Rabu (13/4/2022). Foto: Chalinee Thirasupa/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Orang-orang bermain air saat merayakan liburan Songkran yang menandai Tahun Baru Thailand, di Bangkok, Thailand, Rabu (13/4/2022). Foto: Chalinee Thirasupa/REUTERS

Thailand dan Myanmar (dahulu Burma) memiliki hubungan yang panjang dan kompleks dalam sejarah mereka. Kedua negara memiliki sejarah dan budaya yang kaya, dengan pengaruh budaya yang saling mempengaruhi.

Sebagai tetangga, kedua negara tersebut memiliki banyak kesamaan dalam hal kebiasaan dan tradisi, meskipun terdapat juga perbedaan signifikan dalam budaya mereka.

Sebagai contoh, makanan di kedua negara tersebut memiliki beberapa kesamaan, seperti penggunaan bumbu yang kuat dan beragam, serta konsumsi nasi sebagai makanan pokok. Namun, makanan di Myanmar memiliki pengaruh India dan China yang lebih kuat, sedangkan makanan Thailand lebih diwarnai oleh pengaruh Laos dan Kamboja.

Seorang biksu Buddha memercikkan air saat seorang pria menuangkan air saat liburan Songkran yang menandai Tahun Baru Thailand, di Bangkok, Thailand, Rabu (13/4/2022). Foto: Chalinee Thirasupa/REUTERS

Di bidang agama, kedua negara tersebut memiliki sejarah pengaruh agama Buddha yang kuat, namun terdapat perbedaan dalam praktik keagamaan yang berbeda di kedua negara tersebut.

Di Myanmar, terdapat tradisi pembangunan stupa yang besar dan penting dalam budaya mereka, sementara di Thailand, kegiatan keagamaan seringkali lebih terpusat pada kuil dan festival.

Perbedaan budaya yang signifikan lainnya termasuk bahasa yang berbeda, sistem pemerintahan yang berbeda, dan sejarah politik yang berbeda. Terdapat pula perbedaan dalam adat istiadat dan tradisi, seperti tarian dan pakaian tradisional.

Perebutan Festival Songkran Antara Thailand dan Myanmar

Orang-orang bermain air saat merayakan liburan Songkran yang menandai Tahun Baru Thailand, di Bangkok, Thailand, Rabu (13/4/2022). Foto: Chalinee Thirasupa/REUTERS

Festival Songkran adalah perayaan tahunan di Thailand yang dirayakan pada tanggal 13-15 April setiap tahunnya untuk menyambut Tahun Baru. Perayaan ini biasanya diisi dengan pertunjukan seni, tarian tradisional, dan festival air yang menjadi ciri khas songkran itu sendiri.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, festival songkran telah menjadi sumber perselisihan antara Thailand dan Myanmar, terutama dalam hal klaim atas warisan budaya.

Dalam sudut pandang konstruktivisme budaya, perbedaan dalam pandangan dan nilai budaya antara Thailand dan Myanmar dapat menjadi faktor penting dalam perebutan festival songkran.

Konstruktivisme budaya mengacu pada pemikiran bahwa identitas budaya tidaklah tetap, melainkan dibangun secara sosial melalui proses interaksi sosial melalui proses interaksi sosial dan politik.

Ilustrasi tarian Thailand. Foto by: pixabay.com

Thailand telah lama menjadi pusat kebudayaan dan pariwisata di Asia Tenggara, sementara Myanmar memiliki warisan budaya yang kaya dan beragam.

Dalam hal festival songkran, Thailand telah mempromosikan acara tersebut sebagai bagian dari identitas nasional mereka dan menjadi daya tarik wisata internasional. Sementara itu, Myanmar juga memiliki songkran versi mereka yang biasa disebut sebagai festival thingyan.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Myanmar telah mencoba memperkuat klaim mereka atas festival songkran dengan mengumumkan bahwa festival thingyan Myanmar adalah sumber dari festival songkran Thailand.

Hal ini menciptakan ketidaksepakatan dan perselisihan antara kedua negara, terutama karena Thailand tidak setuju dengan klaim tersebut. Dalam perspektif konstruktivisme budaya, perdebatan antara Thailand dan Myanmar terkait festival songkran dapat dianggap sebagai sebuah konstruksi sosial.

Artinya, perebutan festival songkran sebenarnya merupakan sebuah produk dari interaksi sosial antara dua negara dengan identitas budaya yang berbeda. Identitas budaya dari masing-masing negara dibangun melalui proses politik dan sosial yang berbeda, dan oleh karena itu pandangan mereka terhadap festival songkran juga berbeda.

Seorang anak laki-laki bermain air saat merayakan liburan Songkran yang menandai Tahun Baru Thailand, di Bangkok, Thailand, Rabu (13/4/2022). Foto: Chalinee Thirasupa/REUTERS

Dalam hal ini, masing-masing negara harus menghargai dan menghormati identitas budaya satu sama lain. Kedua negara seharusnya berusaha untuk menciptakan kerja sama dan saling pengertian untuk mempromosikan budaya masing-masing, bukan saling bersaing atau menuntut klaim yang tidak tepat.

Dalam kesimpulannya, perebutan festival songkran antara Thailand dan Myanmar dapat dilihat dari sudut pandang konstruktivisme budaya. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan pandangan dan nilai budaya antara kedua negara dapat menjadi faktor penting dalam perselisihan terkait klaim warisan budaya.

Oleh karena itu, penting bagi masing-masing negara untuk menghargai dan menghormati identitas budaya satu sama lain dan menciptakan kerja sama yang saling menguntungkan.