Tumbal Kemanusiaan di Balik Algoritma AI: Kisah Kelam dari India hingga Kenya

Mahasiswi yang sedang menempuh jenjang perguruan tinggi Kampus Telkom University Purwokerto Jurusan S1 Teknik Informatika
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Rizkina Azizah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tahukah kamu bahwa di balik "pintarnya" Artificial Intelligence (AI), ada ribuan manusia yang bekerja keras di belakangnya?
Sebagian besar dari kita mungkin sudah tahu bahwa AI adalah teknologi cerdas yang belajar dari data yang diberikan manusia. Kita bahkan menyadari bahwa setiap interaksi digital yang kita lakukan sehari-hari secara tidak langsung ikut membantu AI menjadi lebih pintar. Namun, tidak banyak yang benar-benar memahami bahwa sebelum teknologi ini sampai ke tangan kita, AI harus terlebih dahulu "dilatih" oleh para pekerja di balik layar.
Bukan hanya satu atau dua orang, melainkan ribuan pekerja yang secara terus-menerus memberi asupan data, melabeli informasi, dan memperbaiki sistem agar AI mampu memahami serta merespons dunia dengan baik. Fenomena inilah yang oleh Mary L. Gray dan Siddharth Suri dalam buku mereka disebut sebagai "Ghost Work" atau "Pekerjaan Bayangan".
Para pekerja ini memegang peranan krusial: mereka melatih algoritma melalui tugas-tugas yang membutuhkan kemampuan intuitif, kreatif, dan kognitif manusia. Tugas mereka sangat beragam, mulai dari hal sederhana hingga kompleks, seperti mengategorikan gambar, mengklasifikasi iklan, melakukan transkripsi audio dan video, hingga memoderasi konten sensitif di media sosial agar lingkungan digital kita tetap aman. Mereka juga melakukan digitalisasi dokumen hingga memberi label pada titik-titik anatomi manusia untuk keperluan medis.
Bentuk pekerjaan ini sering disebut sebagai pekerjaan mikro (microwork), sebuah tren yang mulai populer sejak pertengahan tahun 2000-an—seperti Vili Lehdonvirta dan Otto Kässi. Dalam dunia teknologi, proses ini juga dikenal sebagai "Human-in-the-Loop", yaitu kondisi di mana manusia tetap terlibat langsung dalam proses “belajar” AI untuk memastikan hasilnya tetap akurat dan tidak menimbulkan kesalahan.
Namun, hal ini juga memunculkan pertanyaan lain: Siapa sebenarnya orang-orang yang berada di balik proses tersebut? Apakah mereka para profesional dengan gelar tinggi, atau justru pekerja yang jarang kita lihat dan kenal?
Human-in-the-Loop
Konsep Human-in-the-Loop (HITL) merujuk pada keterlibatan manusia dalam proses pengembangan AI. Dalam pendekatan ini, manusia tidak hanya membuat sistem, tetapi juga ikut melatih, mengevaluasi, dan memperbaiki hasil yang dihasilkan oleh AI.
Secara sederhana, HITL adalah metode di mana manusia membantu AI “belajar” agar mampu memahami dunia dengan lebih akurat. Peran ini biasanya dilakukan oleh pekerja pelabel data, yang bertugas memberikan penilaian, mengklasifikasikan informasi, dan mengoreksi kesalahan model selama proses pelatihan.
Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Future Generation Computer Systems, keterlibatan manusia tetap menjadi bagian penting karena pengetahuan mesin belum mampu sepenuhnya menggantikan pemahaman dan intuisi manusia, terutama dalam konteks yang kompleks.
Apa Itu Pelabelan Data?
Pelabelan data (data labeling), menurut IBM, merupakan proses pemberian label pada data mentah seperti teks, gambar, atau video untuk memberikan konteks, sehingga dapat digunakan dalam pelatihan model machine learning. Proses ini menjadi bagian penting dalam tahap pra-pemrosesan data dan berperan dalam meningkatkan akurasi model AI.
Secara sederhana, pelabelan data dapat dipahami sebagai proses memberikan kategori atau “arti” pada data mentah agar dapat dipahami oleh sistem AI. Tanpa proses ini, AI tidak akan mampu mengenali atau membedakan informasi. Misalnya, AI tidak akan mengetahui apakah suatu gambar adalah kucing, manusia, atau mengandung kekerasan sebelum data tersebut diberi label terlebih dahulu.
Sisi Gelap di Balik Layar: Kisah India hingga Kenya
Setelah membaca penjelasan sebelumnya, mungkin kamu berpikir bahwa para pekerja pelabel data adalah profesional dengan jabatan tinggi atau ahli teknologi yang bekerja di kantor mewah.
Sayangnya, kenyataannya tidak sesederhana itu.
Lalu, siapa sebenarnya orang-orang di balik “kepintaran” AI ini?
Berdasarkan riset dari Matheus Viana Braz dan Antonio Casili, para pekerja ini justru berasal dari berbagai belahan dunia, terutama negara berkembang. Mereka bukan pejabat, bukan juga insinyur elite, melainkan jutaan pekerja biasa yang bekerja di balik layar.
Lantas, apa saja yang mereka lakukan?
Sebenarnya, pekerjaan mereka sudah kita singgung sebelumnya, yaitu pelabelan data. Namun jika dijabarkan lebih dekat, tugas mereka antara lain:
Menyaring konten (moderasi): Mereka memastikan media sosial tetap “bersih” dari kekerasan dan ujaran kebencian.
Melabeli gambar: Mereka membantu AI mengenali objek—mulai dari jalanan hingga wajah manusia.
Menyalin suara (transkripsi audio): Mereka mendengarkan rekaman dan mengetiknya ulang, agar asisten virtual seperti Siri bisa memahami bahasa manusia.
Anotasi medis: Bahkan, ada yang mengerjakan tugas sangat detail, seperti menandai bagian tubuh pada gambar medis untuk melatih AI di bidang kesehatan.
Namun, di balik daftar pekerjaan tersebut, ada realita yang jauh lebih berat daripada sekadar melabeli gambar atau mengetik teks. Di balik layar monitor yang berkilau, ada luka psikologis yang jarang terungkap ke publik. Di India, sebuah laporan dari The Guardian (2026) mengungkap sisi paling traumatis dari industri ini di India, di mana ribuan pekerja perempuan menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk menonton konten video yang sangat abusif dan penuh kekerasan demi melatih AI.
Tugas mereka pada dasarnya adalah menjadi penyaring konten digital. Mereka harus memelototi rekaman kekerasan ekstrem hingga pelecehan agar algoritma AI bisa belajar mengenali dan menghapus konten tersebut sebelum sampai ke layar ponsel kita. Salah satu pekerja dalam laporan tersebut memberikan pengakuan yang sangat menyayat hati: ia mengaku bahwa pada akhirnya, ia merasa 'hampa' (feel blank). Mereka adalah benteng pertama yang menjaga kebersihan ekosistem digital kita, tapi mereka harus membayarnya dengan kesehatan mental yang dipertaruhkan tanpa adanya dukungan psikologis yang memadai dari perusahaan teknologi besar.
Kenyataan pahit ini ternyata tidak hanya berhenti di India. Di benua Afrika, tepatnya di Kenya, ribuan pekerja juga mengalami nasib serupa demi memoles kecanggihan teknologi yang kita puja saat ini. Investigasi dari majalah TIME mengungkapkan bahwa OpenAI—perusahaan di balik ChatGPT—menggunakan jasa pekerja di Kenya melalui perusahaan pihak ketiga bernama Sama untuk melabeli puluhan ribu baris teks yang mengandung konten sangat sensitif.
Para pekerja di Kenya ini dipaksa membaca dan melabeli teks yang mendeskripsikan kekerasan seksual, penyiksaan, hingga hal-hal mengerikan lainnya agar AI bisa belajar untuk tidak menampilkan konten tersebut kepada kita. Ironisnya, untuk pekerjaan yang mempertaruhkan kesehatan mental tersebut, mereka hanya dibayar sangat rendah, yakni sekitar $1.32 hingga $2 per jam.
Fakta ini semakin mempertegas ketimpangan global yang ada; di mana perusahaan raksasa di negara maju meraup keuntungan miliaran dolar, sementara 'buruh data' di negara berkembang seperti Kenya harus menanggung beban trauma psikologis demi upah yang sangat minim. Mereka adalah benteng pertahanan yang menjaga agar ChatGPT tidak menjadi 'toxic', tapi mereka sendiri harus terpapar racun digital tersebut setiap hari tanpa dukungan kesehatan mental yang memadai.
Kisah dari India dan Kenya ini menjadi salah satu gambaran bahwa kemajuan AI tidak sepenuhnya bebas dari konsekuensi sosial. Di balik perkembangannya, terdapat pekerja yang berkontribusi dalam kondisi yang sering kali kurang terlihat oleh publik. Sebagaimana disampaikan oleh Matheus Viana Braz dan Antonio Casilli, para pekerja ini kerap bekerja dalam kesunyian, dengan perlindungan terbatas, serta minim jaminan sosial.
Masa Depan AI: Peluang atau Sekadar Pengalihan Isu?
Melihat sisi gelap di balik layar AI, muncul pertanyaan sederhana: Apakah ini benar-benar kemajuan, atau kita hanya sedang menutup mata terhadap dampaknya?
AI memang membuka banyak peluang baru. Profesi seperti prompt engineer dan analis data mulai bermunculan. Namun, ada satu peran yang semakin penting: mereka yang memastikan teknologi ini tetap manusiawi—sering disebut sebagai AI ethicist (Spesialis Etika AI). Tugas mereka tidak sekadar teknis, tetapi juga memastikan bahwa tidak ada lagi "tumbal" kesehatan mental dalam proses pelabelan data, seperti yang terjadi di India atau Kenya.
Manfaat AI hanya akan benar-benar "aman" jika profesi-profesi baru ini lahir dari kesadaran untuk memanusiakan manusia. Kita butuh para ahli yang berani menuntut upah layak dan jaminan kesehatan mental bagi mereka yang bekerja di balik layar.
Karena pada akhirnya, masalahnya bukan di teknologinya, melainkan pada cara kita menggunakannya. Jika sistemnya tetap sama, kisah di India dan Kenya bisa terus terulang, hanya dengan wajah yang berbeda.
AI seharusnya tidak dibangun di atas kelelahan, trauma, atau keterpaksaan yang tidak terlihat. Kita perlu mulai mempertanyakan: Siapa yang sebenarnya membayar harga dari “kecanggihan” ini?
Pada akhirnya, masa depan AI bukan tentang seberapa pintar mesin yang kita ciptakan, melainkan tentang seberapa adil kita memperlakukan manusia di baliknya. Karena teknologi yang benar-benar maju tidak hanya yang canggih, tetapi juga yang berempati.
