Membaca Propaganda Soft Power Amerika melalui Industri Film Hollywood

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Jember
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rizkitori tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah tidak, selesai nonton film hollywood terus diam-diam merasa Amerika itu keren banget? Tentaranya keren, teknologinya canggih, dan kotanya gemerlap. Perasaan itu terasa seolah murni selera kita sendiri. Tetapi, perasaan itu tidak sepenuhnya muncul dengan sendirinya.
Dalam ilmu hubungan internasional, pengaruh seperti ini disebut soft power atau kemampuan suatu negara membuat pihak lain tertarik tanpa paksaan, senjata, dan ancaman. Salah satu jalurnya adalah diplomasi publik, yaitu upaya memengaruhi publik di negara lain secara positif agar pandangan mereka terhadap suatu negara berubah (Hennida, 2009). Dalam artikel ini, kita akan memfokuskan pengaruh negara melalui soft power terutama Amerika dalam menggunakan kekuatannya melalui industri hollywood. Industri hollywood sendiri merupakan pusat industri perfilman dan hiburan di Amerika Serikat yang berpusat di Los Angeles, California. Hollywood sudah memenangkan berbagai karya film terbaik dan terpopuler di dunia, serta menjadikannya sebuah industri perfilman terbesar di dunia.
Bagian ini yang membuat pembaca sedikit terkejut. Hubungan film dan negara ternyata bukan hal yang baru. Sejak Perang Dunia 1, pemerintah Amerika Serikat sudah memakai film sebagai alat propaganda. Mereka membentuk komite informasi publik yang merumuskan pedoman bagi media, supaya rakyat Amerika mau mendukung pasukan yang sedang bertempur (Putra, 2013). Artinya sejak awal abad ke-20 film sudah dipandang sebagai alat, bukan hanya tontonan.
Pengaruhnya tidak berhenti di layar. Dengan hollywood, Amerika bisa memamerkan keunggulannya di bidang militer, teknologi, ekonomi, sampai gaya hidup masyaraktnya kepada dunia. Contohnya, seperti film geostorm, yang menampilkan Amerika sebagai negara dengan ilmuwan luar angkasa dan teknologi luar biasa. Cerita semacam itu bisa membuat penonton sedikit percaya pada gambaran tersebut. Karena hollywood sudah mendunia, gambaran yang terbentuk ikut membantu Amerika memerika kebijakan luar negerinya di mata internasional (Ikram, 2019).
Akibatnya muncul dalam bentuk yang familiar, yaitu westernisasi atau cara berpakaian, bergaul, sampai selera makan mulai mengikuti gaya hidup barat. Selain itu, ada juga efek ekonominya. Penonton tertarik ingin berkunjung ke Amerika, dan itu menguntungkan sektor pariwisata mereka. Produk-produk yang sengaja ditampilkan dalam adegan film, mulai dari ponsel, aksesori, sampai makanan, ikut menjadi daya tarik (Herningtyas & IP, n.d.; Putra, 2013).
Menariknya, pelakunya bukan hanya pemerintah. Industri film dan aktornya bergerak sebagai aktor non-pemerintah yang ikut membawa gambaran positif Amerika ke dunia. Film seperti Marvel, yang laris di banyak negara, memperlihatkan bagaimana kesuksesan industri film dan kesuksesan diplomasi bisa berjalan bersamaan, walau tidak selalu disengaja oleh pembuatnya. Dari sini bisa dilihat bahwa hollywood bukan hanya industri hiburan. Ia juga menjadi bukti bahwa sebuah karya budaya bisa berperan besar dalam mendorong diplomasi negaranya.
Oleh karena itu, hollywood bukan hanya berperan sebagai industri perfilman, tetapi di sisi lain bisa dijadikan sebagai objek keberhasilan Amerika Serikat dalam menerapkan soft power di dunia internasional. Dalam hal ini, kita bisa melihat suatu karya yang dimiliki negara bisa menjadi peranan penting dalam mendorong diplomasi negaranya.
