Konten dari Pengguna

Edukasi dan Aksi Bersama Lawan TBC

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizkiyatul Amalia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kolaborasi Poltekkes Kemenkes Semarang dengan Warga Sendangmulyo

Semarang – Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang serius di Indonesia. Menurut WHO, Indonesia menempati peringkat kedua dengan jumlah kasus TBC terbanyak di dunia. Di Kota Semarang sendiri, Kelurahan Sendangmulyo tercatat sebagai salah satu wilayah dengan kasus TBC cukup tinggi.

Melihat kondisi ini, tim dari Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan yang terdiri dari Rizkiyatul Amalia, S.ST.,M.Kes, Asharul Fahyudi dan Danny Ardianto Wibowo, A.Md.Kes melaksanakan program pengabdian masyarakat bertajuk “Edukasi Pencegahan TBC Paru dan Pendampingan Kepatuhan Minum Obat Keluarga”. Kegiatan ini diikuti oleh kader kesehatan, keluarga pasien, serta perwakilan masyarakat yang peduli pada isu kesehatan.

Tim Pengabdian Masyarakat Foto :Danny

Edukasi Pentingnya Pencegahan dan Kepatuhan Minum Obat

Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan edukasi seputar penyebab, cara penularan, gejala, serta langkah pencegahan TBC. Tidak hanya itu, mereka juga belajar tentang peran penting keluarga dalam mendampingi pasien agar tidak putus obat.

“Banyak pasien berhenti minum obat karena bosan atau takut efek samping. Padahal, pengobatan harus tuntas minimal enam bulan agar benar-benar sembuh dan tidak menularkan ke orang lain,” jelas salah satu narasumber.

Edukasi kepada kader kesehatan mengenai pencegahan TBC

Pengetahuan Warga Meningkat

Untuk mengukur keberhasilan kegiatan, tim melakukan pretest dan posttest kepada peserta. Hasilnya menggembirakan: rata-rata nilai peserta meningkat setelah mengikuti edukasi. Peserta lebih paham tentang cara mencegah penularan, pentingnya ventilasi rumah, hingga dukungan gizi bagi pasien TBC.

Seorang kader kesehatan, mengaku kegiatan ini membuatnya lebih percaya diri. “Sekarang saya bisa menjelaskan dengan mudah ke tetangga tentang TBC, bahkan ikut mendampingi pasien agar rajin minum obat,” ujarnya.

Menuju Kawasan Sadar TBC

Selain edukasi, kegiatan ini juga mendorong terbentuknya Kawasan Sadar TBC di Sendangmulyo. Warga diajak untuk saling mendukung, tidak memberi stigma negatif kepada pasien, serta aktif menjaga kesehatan lingkungan.

“Melawan TBC tidak bisa sendirian. Butuh dukungan keluarga, tetangga, hingga kader kesehatan. Dengan kebersamaan, kita bisa wujudkan lingkungan sehat bebas TBC,” ungkap tim pengabdi.

Harapan ke Depan

Program ini diharapkan menjadi titik awal gerakan bersama melawan TBC di tingkat komunitas. Jika berhasil, model kegiatan ini bisa diterapkan di wilayah lain yang juga memiliki angka kasus TBC tinggi.

Dengan pengetahuan yang lebih baik, dukungan keluarga yang kuat, serta peran aktif masyarakat, Kelurahan Sendangmulyo optimistis bisa menjadi contoh kawasan sehat bebas TBC.