Konten dari Pengguna

Selalu Memikirkan Perasaan Orang Lain, Kapan Giliran Diri Sendiri?

Rizky Widi Pratama

Rizky Widi Pratama

Mahasiswa universitas pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizky Widi Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Seseorang yang meluangkan waktu untuk memahami dirinya sendiri di tengah berbagai tuntutan kehidupan. (sumber:pexels.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Seseorang yang meluangkan waktu untuk memahami dirinya sendiri di tengah berbagai tuntutan kehidupan. (sumber:pexels.com)

Saya pernah berpikir bahwa menjadi orang baik berarti harus selalu berusaha memahami orang lain. Menjaga ucapan, tidak ingin membuat orang kecewa, dan berusaha ada ketika seseorang membutuhkan bantuan. Namun, semakin saya menjalani kehidupan, semakin saya menyadari bahwa terlalu memikirkan perasaan orang lain terkadang membuat saya lupa memperhatikan diri sendiri.

Ada kalanya saya berusaha memahami keadaan seseorang meskipun sebenarnya saya juga sedang menghadapi masalah. Saya mencoba memaklumi sikap orang lain, mencari alasan di balik tindakan mereka, dan menghindari pertengkaran yang menurut saya tidak perlu. Bagi saya, membuat orang lain merasa nyaman adalah hal yang baik. Akan tetapi, saya jarang memikirkan apakah diri saya sendiri juga merasa nyaman dengan keadaan tersebut.

Sebagai mahasiswa yang juga bekerja sebagai driver ShopeeFood, saya belajar bahwa kehidupan sehari-hari membutuhkan banyak tenaga dan pikiran. Ada waktu yang harus digunakan untuk bekerja, ada kuliah yang perlu dijalani, dan ada tugas yang tetap harus diselesaikan. Ketika aktivitas sedang padat, terkadang saya hanya ingin beristirahat tanpa harus memikirkan hal lain.

Namun, kehidupan tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Ada hari ketika pekerjaan terasa melelahkan, ada tugas yang belum selesai, dan ada pikiran yang sulit dijelaskan kepada orang lain. Dalam keadaan seperti itu, saya terkadang memilih menyimpan semuanya sendiri karena merasa masih ada banyak hal yang harus diselesaikan.

Saya mulai menyadari bahwa selama ini saya sering berusaha mengerti keadaan orang lain, tetapi belum tentu memberikan pengertian yang sama kepada diri sendiri. Ketika orang lain sedang mengalami kesulitan, saya bisa memahami bahwa mereka membutuhkan waktu. Namun, ketika saya sendiri merasa lelah, terkadang saya justru memaksa diri untuk tetap berjalan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Ada kalanya saya ingin berhenti sejenak, tetapi pikiran tentang pekerjaan, kuliah, dan tanggung jawab membuat saya merasa harus terus bergerak. Saya ingin semuanya berjalan dengan baik, meskipun kenyataannya tidak semua hal bisa diselesaikan dalam satu waktu.

Dari situ, saya mulai memahami bahwa menjadi kuat bukan berarti harus memendam semua masalah sendirian. Saya juga manusia biasa yang bisa merasa lelah, kecewa, dan membutuhkan waktu untuk menenangkan pikiran. Tidak ada salahnya mengakui bahwa ada hari-hari ketika saya tidak memiliki cukup tenaga untuk menghadapi semuanya.

Saya juga belajar bahwa tidak semua keinginan orang lain harus selalu dipenuhi. Membantu seseorang memang baik, tetapi saya tetap perlu mengetahui batas kemampuan diri sendiri. Saya tidak bisa terus mengatakan iya jika keadaan saya sebenarnya sedang tidak memungkinkan. Mengutamakan kebutuhan sendiri sesekali bukan berarti saya berubah menjadi orang yang egois.

Perjalanan ini membuat saya belajar mengatur waktu, tenaga, dan pikiran dengan lebih baik. Saya mulai memahami bahwa kuliah, pekerjaan, dan kehidupan pribadi sama-sama membutuhkan perhatian. Meskipun belum selalu bisa menjalankannya dengan sempurna, saya ingin belajar agar tidak terus-menerus mengabaikan keadaan diri sendiri demi memenuhi berbagai tuntutan.

Bagi saya, kehidupan bukan hanya tentang seberapa banyak tanggung jawab yang bisa diselesaikan atau seberapa sering kita membantu orang lain. Ada hal lain yang tidak kalah penting, yaitu bagaimana kita menjaga diri sendiri agar tetap mampu menjalani semua tanggung jawab tersebut.

Saya tidak ingin berhenti menjadi orang yang peduli. Saya hanya ingin belajar bahwa kepedulian tidak harus selalu membuat saya mengesampingkan perasaan sendiri. Saya juga ingin bisa bercerita ketika sedang menghadapi kesulitan, beristirahat ketika lelah, dan menerima kenyataan bahwa tidak semua hal harus berjalan sempurna.

Sekarang, saya mencoba memahami bahwa setiap orang memiliki perjuangannya masing-masing, termasuk diri saya sendiri. Saya mungkin belum memiliki semua jawaban atas persoalan yang sedang dihadapi, tetapi setidaknya saya mulai belajar untuk tidak terlalu keras terhadap diri sendiri.

Pada akhirnya, saya menyadari satu hal: selama ini saya sering memikirkan bagaimana cara menjaga perasaan orang lain, tetapi terkadang lupa bertanya apakah diri saya sendiri baik-baik saja.

Mungkin, mulai sekarang saya perlu belajar memberikan perhatian yang sama kepada diri sendiri. Sebab, menjadi orang yang baik bukan berarti harus selalu mengorbankan perasaan sendiri. Saya tetap bisa peduli kepada orang lain tanpa melupakan bahwa saya juga berhak merasa tenang, bahagia, dan dihargai.