Konten dari Pengguna

Tren Umrah Plus: Pelesir Suci di Era Pasar Bebas

Rizky Aditya

Rizky Aditya

Mahasiswa Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizky Aditya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi umrah. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi umrah. Foto: Shutterstock

Musim haji baru saja berlalu, meninggalkan rindu bagi jutaan umat Islam di Indonesia untuk bertamu ke Tanah Suci. Sayangnya, rindu ini sering kali harus tertahan oleh realitas antrean haji yang luar biasa panjang. Berdasarkan data dari Kementerian dan Haji RI 2026, kuota haji Indonesia sangat ketat, yakni berkisar di angka 221.000 per tahun dari jutaan pendaftar. Hal ini membuat daftar tunggu haji reguler memakan waktu puluhan tahun, bahkan bisa mencapai 47 tahun lamanya di beberapa daerah.

Hukum ekonomi dasar menyatakan bahwa keterbatasan suplai ini secara otomatis akan menggeser permintaan ke produk substitusi yang lebih mudah diakses, yakni umrah. Umrah menjadi alternatif rasional karena tidak terikat antrean kuota tahunan dan biayanya relatif lebih terjangkau, yakni sekitar Rp27 juta hingga Rp38 juta, dibandingkan Haji Plus yang bisa menembus angka di atas Rp120 juta.

Pergeseran minat yang masif ini tentu saja ditangkap dengan cerdas oleh para pelaku bisnis biro perjalanan. Persaingan bisnis di bidang perjalanan haji dan umrah kini menjadi semakin kompetitif dan sangat menarik bagi para pengusaha. Mereka berinovasi menawarkan berbagai produk paket wisata, salah satunya yang sedang sangat tren saat ini adalah "Umrah Plus", di mana ibadah suci umrah digabungkan dengan paket liburan wisata ke berbagai negara seperti Turki, Dubai, atau Mesir.

Dari kacamata perilaku konsumen, ibadah umrah bagi masyarakat kelas menengah kini telah berevolusi menjadi sebuah turisme spiritual yang memiliki dua dimensi utama yang tidak terpisahkan, yaitu dimensi akhirat (ibadah murni) dan dimensi duniawi (gaya hidup). Dalam hierarki kebutuhan berkonsumsi, umrah bahkan perlahan bergeser untuk memenuhi kebutuhan sekunder hingga tersier (tahsiniyyat), di mana pemenuhan kewajiban ibadah dilekatkan secara erat dengan pemenuhan hasrat rekreasi dan kenyamanan pariwisata.

Ilustrasi umrah. Foto: Shutterstock

Lalu, bagaimana kita membedah fenomena percampuran antara ibadah suci dan wisata komersial ini secara akademis? Jika kita meminjam kacamata antropologi budaya dari Daromir Rudnyckyj, fenomena populer ini dapat dijelaskan dengan sangat apik melalui teori Market Islam.

Konsep ini menyoroti sebuah fenomena unik di mana umat Islam masa kini memobilisasi praktik dan etika keagamaannya agar sejalan dengan prinsip pasar bebas dan logika kapitalis. Meledaknya paket "Umrah Plus" adalah wujud nyata dari konsep tersebut. Masyarakat modern tidak merespons globalisasi dengan memisahkan agama dari urusan duniawi, tetapi justru mengemas ibadah agar mampu beradaptasi dan beriringan dengan gaya hidup konsumtif (pariwisata).

Lebih jauh lagi, menjamurnya turisme spiritual ini berhasil "mendobrak batas" yang selama ini memisahkan antara kehidupan beragama dan perkembangan ekonomi. Jika di masa lalu kegiatan ibadah sering dipahami sebagai cara untuk mengekang hawa nafsu dan urusan duniawi secara ketat, kini aturan mainnya telah berubah.

Dalam Market Islam, pencarian keselamatan akhirat seperti tawaf mengelilingi Ka'bah dan sa'i dapat disandingkan secara harmonis dengan kesuksesan duniawi, seperti jalan-jalan ke luar negeri dan berswafoto di tempat wisata global.

Ilustrasi bisnis. Foto: Shutterstock

Bisnis wisata religi pada akhirnya menjadi sebuah sektor yang sangat unik, karena selain mengejar keuntungan materi, di dalamnya tetap menuntut nilai kejujuran, amanah, dan pelayanan spiritual bagi para jamaah. Kedua kutub ini tidak lagi dilihat sebagai suatu pertentangan, tetapi sesuatu yang saling menopang.

Pada akhirnya, fenomena Umrah Plus membuktikan bahwa budaya dan agama bukanlah sebuah monumen masa lampau yang kaku, melainkan sebuah praktik hidup sehari-hari yang sangat dinamis dan membumi.

Mempelajari antropologi budaya menyadarkan kita bahwa manusia terus membentuk makna-makna baru melalui kegiatan kontemporernya secara kolektif. Menjadikan ibadah sebagai bagian dari komersialisasi bisnis gaya hidup mungkin menuai perdebatan, tetapi hal ini tidak perlu dihakimi secara teologis.

Karena kenyataannya, bagi kelas menengah Muslim di Indonesia, ibadah suci dan gaya hidup global telah menemukan titik temu yang indah. Menjadi seorang yang religius sekaligus menjadi seorang konsumen turisme global kini dapat dinikmati bersamaan dalam satu tiket perjalanan yang sama.