Konten dari Pengguna

Ciri-Ciri Bioteknologi Konvensional dan Contoh Penerapannya

Rizky Ega Pratama

Rizky Ega Pratama

Pengamat tren yang gemar membagikan insight seputar teknologi, hiburan, dan gaya hidup.

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizky Ega Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi bioteknologi. Foto: FOTO AFP / Juan Mabromata
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bioteknologi. Foto: FOTO AFP / Juan Mabromata

Bioteknologi konvensional sudah dikenal manusia sejak ribuan tahun lalu untuk mengolah makanan dan minuman. Teknik ini memanfaatkan mikroorganisme secara alami tanpa melibatkan rekayasa genetika yang rumit.

Daftar isi

Pengertian Bioteknologi Konvensional

Bioteknologi konvensional adalah teknik pengolahan bahan dengan bantuan mikroorganisme yang dilakukan secara tradisional. Proses ini sudah diterapkan sejak zaman dahulu dan diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi. Metode ini mengandalkan proses fermentasi dengan teknologi sederhana.

Ciri-Ciri Bioteknologi Konvensional

Bioteknologi konvensional memiliki karakteristik khusus yang membedakannya dari bioteknologi modern. Berikut beberapa ciri yang paling menonjol dan mudah dikenali dalam penerapannya.

1. Menggunakan Mikroorganisme Alami

Proses ini memanfaatkan bakteri, jamur, atau khamir yang ada di alam tanpa modifikasi genetik. Mikroorganisme bekerja secara alami untuk mengubah bahan baku menjadi produk baru yang lebih bermanfaat.

2. Menerapkan Proses Fermentasi

Fermentasi menjadi inti dari bioteknologi konvensional yang mengubah substrat menjadi produk akhir. Proses ini berlangsung dalam kondisi anaerob atau aerob tergantung jenis mikroorganisme yang digunakan.

3. Menggunakan Teknologi Sederhana

Peralatan yang dibutuhkan tidak rumit dan bisa ditemukan di rumah tangga biasa. Anda hanya memerlukan wadah, pengatur suhu sederhana, dan bahan-bahan tertentu yang mudah didapat.

Perbedaan Bioteknologi Konvensional dan Modern

Perbedaan mendasar terletak pada tingkat kompleksitas teknologi yang digunakan. Bioteknologi konvensional mengandalkan proses alamiah mikroorganisme tanpa manipulasi DNA, sedangkan bioteknologi modern melibatkan rekayasa genetika dan peralatan laboratorium canggih. Hasilnya, produk konvensional lebih sederhana namun tetap bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari.

Contoh Penerapan Bioteknologi Konvensional

Beberapa produk hasil bioteknologi konvensional yang sering Anda jumpai:

  1. Tempe dari fermentasi kedelai menggunakan jamur Rhizopus oligosporus

  2. Tape singkong atau ketan dengan bantuan ragi

  3. Yogurt dari fermentasi susu oleh bakteri Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus.

  4. Keju yang dihasilkan dari proses fermentasi susu dengan berbagai jenis bakteri

  5. Kecap dari fermentasi kedelai hitam

Ciri-ciri bioteknologi konvensional menunjukkan bahwa teknologi sederhana bisa menghasilkan produk bergizi tinggi. Metode ini tetap relevan hingga kini karena mudah diterapkan dan ramah lingkungan.