Hubungan Kerajaan Bali dengan Majapahit beserta Jejak Warisannya

Pengamat tren yang gemar membagikan insight seputar teknologi, hiburan, dan gaya hidup.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rizky Ega Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Bermula dari penaklukan militer, interaksi antara Bali dan Majapahit berkembang menjadi pertukaran budaya. Kondisi ini tak hanya mengubah struktur politik, tetapi juga meninggalkan warisan yang membentuk identitas Bali sampai saat ini. Memahami hubungan kerajaan Bali dengan Majapahit bisa membantu Anda melihat bagaimana kebudayaan Jawa kuno dilestarikan di pulau tersebut.
Awal Mula Hubungan: Ekspedisi Gajah Mada ke Bali
Ekspedisi militer yang dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada pada abad ke-14 menjadi titik balik dalam sejarah Bali. Penaklukan ini bukan sekadar ekspansi teritorial, melainkan bagian dari visi politik besar untuk menyatukan Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit.
Latar Belakang Penaklukan Bali Tahun 1343
Penaklukan Bali merupakan implementasi dari Sumpah Palapa yang diikrarkan oleh Gajah Mada. Menurut Bernard H.M. Vlekke dalam buku Nusantara: Sejarah Indonesia (2008), ekspedisi ini bertujuan untuk mengamankan pengaruh Majapahit di kawasan timur nusantara. Bali saat itu dipandang sebagai kerajaan strategis yang perlu ditundukkan.
Runtuhnya Kekuasaan Dinasti Warmadewa di Bali
Serangan Majapahit pada tahun 1343 mengakhiri kekuasaan Dinasti Warmadewa yang telah berkuasa di Bali selama berabad-abad. Perlawanan dari kerajaan Bali kuno akhirnya dapat dipatahkan oleh pasukan Majapahit, kemudian menandai berakhirnya sebuah era dan dimulainya babak baru dalam sejarah pulau ini.
Penunjukan Penguasa Bali di Bawah Otoritas Majapahit
Setelah penaklukan, Majapahit menempatkan Sri Kresna Kepakisan, seorang bangsawan dari Jawa, sebagai penguasa (Dalem) di Bali. Penunjukan ini memastikan loyalitas Bali terhadap pemerintah pusat Majapahit dan menjadi awal mula penyebaran pengaruh politik serta budaya Jawa secara sistematis.
Pengaruh Besar Majapahit yang Membentuk Wajah Bali
Hegemoni Majapahit membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Bali. Pengaruh ini meresap ke dalam sistem keagamaan, struktur sosial, hingga ekspresi seni, yang sebagian besar masih dapat dilihat hingga sekarang.
Bidang Agama dan Sistem Kepercayaan
Majapahit memperkenalkan sinkretisme Hindu Siwa-Buddha yang menjadi ciri khasnya. Konsep ini kemudian berakulturasi dengan kepercayaan lokal Bali, serta turut mengembangkan konsep Pura Kahyangan Tiga (Pura Desa, Pura Puseh, dan Pura Dalem) sebagai pusat ritual di setiap desa adat.
Bidang Sosial dan Pemerintahan
Struktur sosial masyarakat Bali modern banyak dipengaruhi oleh sistem yang dibawa Majapahit. Klan-klan bangsawan (soroh) di Bali, termasuk klan Arya, merupakan keturunan dari klan-klan Ksatria Majapahit, dan sistem ini merupakan warisan tidak langsung yang lebih terpengaruh oleh evolusi lokal dan pengaruh agama Hindu di Bali.
Jejak dan Warisan Majapahit yang Bertahan Hingga Kini
Warisan Majapahit tidak hilang seiring waktu, melainkan terus hidup dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kebudayaan Bali. Jejaknya dapat ditemukan pada institusi kerajaan, julukan pulau, hingga peninggalan fisik yang masih berdiri kokoh.
Kerajaan Gelgel: Penerus Langsung Tradisi Majapahit
Setelah Majapahit runtuh, Kerajaan Gelgel yang didirikan oleh keturunan Sri Kresna Kepakisan menjadi pusat kekuasaan baru di Bali. Menurut I Wayan Ardika dalam buku Sejarah Bali: Dari Prasejarah Hingga Modern (2015), Gelgel berperan sebagai penerus dan pelestari tradisi politik, agama, dan budaya Majapahit.
Mengapa Bali Sering Disebut sebagai "Majapahit Kecil"
Julukan ini muncul karena Bali dianggap sebagai tempat "mengungsinya" kebudayaan Majapahit setelah kerajaan tersebut mengalami kemunduran di Jawa. Para bangsawan, seniman, dan pendeta Majapahit yang pindah ke Bali membawa serta tradisi mereka, yang kemudian dijaga dan dikembangkan hingga kini.
Peninggalan Fisik: Pura dengan Arsitektur Khas Majapahit
Salah satu bukti fisik paling nyata dari pengaruh ini adalah Pura Maospahit di Denpasar. Pura ini dibangun menggunakan batu bata merah dengan arsitektur yang sangat mirip dengan candi-candi peninggalan Majapahit di Trowulan, Jawa Timur.
Penaklukan oleh Majapahit pada akhirnya tidak hanya menjadi kisah dominasi politik, tetapi juga proses integrasi budaya yang kaya. Peristiwa ini menjadikan Bali sebagai pewaris utama yang menjaga agar api peradaban Majapahit tidak pernah padam.
