Makna Hari Raya Galungan dalam Tradisi Hindu Bali

Pengamat tren yang gemar membagikan insight seputar teknologi, hiburan, dan gaya hidup.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Rizky Ega Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap 210 hari sekali, masyarakat Hindu di Bali merayakan Galungan, salah satu hari raya terbesar yang memiliki makna spiritual mendalam. Perayaan ini bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan momentum untuk merenungkan kemenangan kebaikan atas kejahatan serta memperkuat ikatan dengan leluhur dan Sang Hyang Widhi.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Pengertian dan Waktu Pelaksanaan
Galungan berasal dari kata yang bermakna kemenangan, melambangkan dharma atau kebenaran yang mengalahkan adharma atau kejahatan. Menurut Eiseman dalam bukunya Bali: Sekala and Niskala, Essays on Religion, Ritual, and Art, Galungan merupakan perayaan kemenangan dharma yang menjadi bagian penting dari siklus ritual Hindu Bali.
Hari raya ini jatuh pada Rabu Kliwon Dungulan dalam kalender Pawukon yang bersiklus 210 hari, sehingga dirayakan dua kali dalam setahun Masehi. Sepuluh hari setelah Galungan, umat Hindu merayakan Kuningan sebagai penutup rangkaian upacara.
Makna Filosofis Galungan
Galungan mengandung tiga dimensi makna utama, yakni:
Perayaan ini mengingatkan bahwa kebaikan akan selalu menang meskipun melalui perjuangan panjang.
Dipercaya sebagai waktu turunnya roh leluhur ke dunia untuk memberkati keturunannya, sehingga umat menyiapkan berbagai persembahan khusus.
Galungan menjadi sarana mempererat hubungan vertikal dengan Sang Hyang Widhi melalui ritual dan persembahyangan sebagai ungkapan syukur.
Rangkaian Prosesi Perayaan Galungan
Persiapan dimulai dari Penyekeban, tiga hari sebelum Galungan, dengan menyiapkan bahan sesaji. Sehari sebelumnya adalah Penampahan, saat umat menyembelih hewan untuk sesaji.
Ciri khas Galungan adalah pemasangan penjor, bambu melengkung berhias janur dan buah-buahan yang dipasang di depan rumah sebagai simbol kemakmuran dan Gunung Agung tempat bersemayam para dewa.
Pada hari Galungan, umat bersembahyang di pura dan sanggah dengan pakaian adat lengkap. Perayaan ditutup dengan Kuningan yang menandai kepulangan roh leluhur ke alam nirwana.
Nilai Budaya dan Relevansi Galungan di Era Modern
Galungan menerapkan konsep Tri Hita Karana, yaitu keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Perayaan ini juga menjadi momentum introspeksi diri bagi umat Hindu untuk mengevaluasi perilaku dan memperbaiki kesalahan. Di era modern, generasi muda Bali tetap menjaga tradisi ini sebagai identitas budaya yang memperkuat jati diri masyarakat Bali di tengah arus globalisasi.
