Konten dari Pengguna

Makna Tradisi Bau Nyale Bagi Masyarakat Sasak Lombok

Rizky Ega Pratama

Rizky Ega Pratama

Pengamat tren yang gemar membagikan insight seputar teknologi, hiburan, dan gaya hidup.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizky Ega Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Warga dan wisatawan mengumpulkan Nyale atau cacing laut warna-warni pada Festival Pesona Bau Nyale 2024 di Pantai Seger Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika yang dikelola oleh Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), Kuta, Praya, Lombok. Foto: ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi
zoom-in-whitePerbesar
Warga dan wisatawan mengumpulkan Nyale atau cacing laut warna-warni pada Festival Pesona Bau Nyale 2024 di Pantai Seger Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika yang dikelola oleh Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), Kuta, Praya, Lombok. Foto: ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi

Setiap tahun, masyarakat Sasak berkumpul di pantai selatan Lombok untuk menangkap nyale, sejenis cacing laut yang muncul di permukaan air. Tradisi Bau Nyale ini bukan sekadar kegiatan menangkap biota laut, melainkan ritual budaya yang sarat makna filosofis, spiritual, dan sosial bagi masyarakat Sasak.

Daftar isi

Pengertian dan Sejarah Tradisi Bau Nyale

Dalam bahasa Sasak, "bau" berarti menangkap, sedangkan "nyale" merujuk pada cacing laut berwarna hijau kecokelatan atau kemerahan. Tradisi ini telah berlangsung lama dan terkait erat dengan legenda Putri Mandalika.

Dikisahkan Putri Mandalika menceburkan diri ke laut untuk menghindari konflik antar kerajaan yang memperebutkannya. Nah, masyarakat meyakini nyale sebagai penjelmaan sang putri.

Pelaksanaan Bau Nyale mengikuti penanggalan Sasak, yakni pada bulan kesepuluh kalender tradisional, biasanya jatuh sekitar Februari atau Maret. Pantai Seger di Kuta Lombok menjadi lokasi utama, meski beberapa pantai lain di wilayah selatan juga digunakan. Tradisi ini mencerminkan sistem pengetahuan lokal tentang ekologi laut dan siklus alam yang dihormati masyarakat.

Makna Filosofis dan Spiritual Tradisi Bau Nyale

Kemunculan nyale dianggap sebagai berkah dari Sang Pencipta. Proses menangkap nyale diiringi doa dan rasa syukur atas limpahan rezeki dari laut. Masyarakat percaya bahwa nyale yang ditangkap membawa kesuburan bagi lahan pertanian.

Nyale yang telah dikeringkan sering ditaburkan di sawah sebagai pupuk alami. Jumlah nyale yang didapat juga dipercaya sebagai pertanda hasil panen mendatang.

Nilai kearifan lokal sangat kental dalam tradisi ini. Tradisi ini juga mengajarkan gotong royong, menghormati leluhur, dan menjaga kelestarian alam.

Rangkaian Ritual dan Fungsi Sosial Tradisi Bau Nyale

Sebelum pelaksanaan, pemuka adat melakukan perhitungan untuk menentukan waktu tepat kemunculan nyale berdasarkan fase bulan. Menjelang subuh, orang-orang berkumpul di pantai dengan tangan kosong atau alat sederhana seperti serok dan ember.

Acara dimeriahkan dengan ritual pembacaan legenda Putri Mandalika, peresean atau adu tongkat rotan, serta pertunjukan gendang beleq. Bau Nyale menjadi ajang silaturahmi masyarakat Sasak dari berbagai daerah. Tradisi ini juga memberikan dampak ekonomi signifikan melalui kunjungan wisatawan dan aktivitas perdagangan lokal.

Bau Nyale kini telah menjadi ikon wisata budaya Lombok yang menarik perhatian domestik dan mancanegara. Pelestarian tradisi ini penting untuk menjaga identitas budaya Sasak sekaligus mengajarkan nilai kearifan lokal kepada generasi muda.