Membedah Hubungan Politik Kerajaan Majapahit dan Daerah Taklukan

Pengamat tren yang gemar membagikan insight seputar teknologi, hiburan, dan gaya hidup.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Rizky Ega Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Majapahit sering digambarkan sebagai kerajaan besar yang sukses menguasai Nusantara. Namun, model kekuasaan kerajaan ini sangat berbeda dari konsep penjajahan modern yang melibatkan aneksasi langsung.
Memahami hubungan politik Kerajaan Majapahit dengan daerah taklukannya dapat membuka wawasan tentang jejaring kekuasaan kompleks yang dibangun di atas hegemoni, diplomasi, dan aliansi strategis.
Konsep Hegemoni Majapahit di Nusantara
Model hubungan politik Kerajaan Majapahit dengan daerah taklukan tidak didasarkan pada penaklukan militer semata. Majapahit menerapkan sebuah konsep hegemoni yang canggih dan berlapis.
Struktur ini memungkinkan pengaruh Trowulan sebagai pusat kekuasaan terasa hingga ke wilayah-wilayah yang jauh tanpa harus menempatkan pasukan secara permanen. Pengakuan kedaulatan menjadi kunci utama dalam sistem ini.
Struktur Mancanagara dan Pengakuan Kedaulatan
Majapahit membagi wilayah pengaruhnya ke dalam beberapa lingkaran, salah satunya adalah mancanagara atau negara-negara bawahan di Nusantara. Dalam buku Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuno karya Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto (2008), dijelaskan bahwa hubungan ini tidak selalu berupa aneksasi militer.
Relasi tersebut lebih sering berbentuk pengakuan kedaulatan melalui upeti dan aliansi strategis yang diawasi pejabat pusat. Upeti bukan sekadar pajak, melainkan simbol politik tanda tunduk pada hegemoni Majapahit.
Filosofi Mitreka Satata sebagai Landasan Diplomasi
Di balik hubungan yang terlihat seperti atasan-bawahan, Majapahit memiliki landasan diplomasi yang unik. Menurut Prof. Dr. Slamet Muljana dalam bukunya Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit (2005), konsep ini dikenal sebagai "Mitreka Satata" yang berarti "bersahabat dalam kesetaraan".
Melalui filosofi ini, daerah bawahan dianggap sebagai mitra yang wajib mengirimkan upeti sebagai tanda persahabatan dan pengakuan, bukan sebagai jajahan dalam arti modern.
Mekanisme Pengawasan dan Loyalitas Daerah Taklukan
Setelah memahami konsepnya, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana hubungan politik Kerajaan Majapahit dengan daerah taklukan ini dipertahankan secara praktis.
Kerajaan mengandalkan kombinasi kekuatan maritim untuk proyeksi kekuasaan dan stabilitas internal pemerintah pusat sebagai penjamin loyalitas. Tanpa kedua elemen ini, jejaring kekuasaan Majapahit yang luas akan mudah rapuh dan terpecah.
Peran Kekuatan Maritim dalam Menjaga Hegemoni
Sebagai negara maritim, kekuatan laut adalah tulang punggung kekuasaan Majapahit. Kekuatan laut Majapahit menjadi instrumen utama untuk mempertahankan hegemoni. Armada laut ini tidak hanya berfungsi sebagai kekuatan tempur, tetapi juga bertugas memastikan jalur perdagangan aman dan pengiriman upeti dari daerah bawahan tetap lancar.
Dinamika Loyalitas yang Bergantung pada Pusat
Loyalitas daerah taklukan ternyata tidak bersifat mutlak. Hubungan ini sangat dinamis dan bergantung pada kondisi politik di Trowulan. Analisis dalam buku Masa Akhir Majapahit karya Hasan Djafar (2013) menyoroti bahwa loyalitas daerah taklukan sangat bergantung pada kekuatan dan stabilitas pemerintah pusat.
Ketika kekuasaan pusat melemah akibat konflik internal atau suksesi, banyak daerah bawahan yang segera melepaskan diri atau mengalihkan loyalitasnya.
