Konten dari Pengguna

Mengenal Tradisi Dugderan Masyarakat Semarang Saat Menyambut Ramadan

Rizky Ega Pratama

Rizky Ega Pratama

Pengamat tren yang gemar membagikan insight seputar teknologi, hiburan, dan gaya hidup.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizky Ega Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Warga melihat pentas tarian kuda lumping dalam tradisi Dugderan di Aloon-Aloon Masjid Agung Semarang, Jawa Tengah, Kamis (31/3/2022). Foto: Aji Styawan/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Warga melihat pentas tarian kuda lumping dalam tradisi Dugderan di Aloon-Aloon Masjid Agung Semarang, Jawa Tengah, Kamis (31/3/2022). Foto: Aji Styawan/ANTARA FOTO

Setiap menjelang Ramadan, kota Semarang dipenuhi keramaian khas yang menandai dimulainya tradisi Dugderan. Perayaan ini menjadi momen istimewa yang dinanti-nanti warga Semarang dan wisatawan dari berbagai daerah.

Daftar isi

Pengertian dan Sejarah Tradisi Dugderan

Tradisi Dugderan merupakan perayaan budaya yang dilaksanakan masyarakat Semarang sebelum Ramadan tiba. Acara ini memadukan unsur ritual keagamaan dengan kemeriahan pasar malam yang berlangsung di sekitar Masjid Agung Semarang. Tradisi ini telah berkembang menjadi bagian penting dari identitas budaya Kota Semarang.

Asal Usul Nama Dugderan

Nama Dugderan berasal dari dua bunyi khas yang terdengar saat perayaan berlangsung. "Dug" melambangkan suara bedug yang ditabuh, sedangkan "der" menggambarkan dentuman meriam atau bedil bambu. Gabungan kedua bunyi ini menciptakan atmosfer meriah yang menjadi ciri khas perayaan penyambutan bulan suci.

Sejarah Tradisi Dugderan

Merujuk buku Menggali Nilai- Nilai Multikultural Berbasis Kearifan Lokal Nusantara susunan Bunga Hidayati dkk, Dugderan pertama kali digelar pada masa pemerintahan Bupati Purbaningrat sekitar tahun 1881. Tradisi ini dilatarbelakangi oleh perbedaan pendapat dalam menentukan awal Ramadan pada masyarakat Semarang di masa itu. Karena khawatir terjadi perselisihan, akhirnya bupati menentukan waktu dimulainya Ramadan lewat tradisi ini.

Makna dan Filosofi Dugderan bagi Masyarakat Semarang

Perayaan Dugderan memiliki nilai filosofis yang mendalam bagi masyarakat Semarang. Tradisi ini menjadi medium untuk mempererat hubungan sosial antarwarga sekaligus mengingatkan kedatangan bulan Ramadan. Semangat kebersamaan tercermin dalam berbagai rangkaian acara yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Simbol Penyambutan Bulan Ramadan

Dugderan menjadi penanda resmi dimulainya persiapan menyambut Ramadan di Semarang. Masyarakat memanfaatkan momen ini untuk berbelanja kebutuhan puasa, mulai dari kuliner khas hingga perlengkapan ibadah.

Nilai Kebersamaan dalam Tradisi Lokal

Tradisi Dugderan menghapus sekat sosial dan ekonomi dalam masyarakat. Semua kalangan berbaur dalam satu perayaan yang sama, menciptakan suasana harmonis dan penuh toleransi.

Rangkaian Acara dalam Perayaan Dugderan

Perayaan Dugderan menghadirkan berbagai acara menarik yang berlangsung selama beberapa hari. Pawai budaya, pasar malam, hingga pertunjukan seni tradisional menjadi daya tarik utama yang mengundang ribuan pengunjung.

Pawai Warak Ngendog sebagai Ikon Utama

Warak Ngendog, hewan mitologi berkepala naga, menjadi maskot utama Dugderan. Pawai raksasa berbentuk Warak Ngendog diarak keliling kota sebagai simbol akulturasi budaya Tionghoa, Jawa, dan Islam di Semarang.

Tabuh Bedug dan Meriam Khas Dugderan

Puncak acara ditandai dengan tabuhan bedug di Masjid Agung Semarang yang diikuti dentuman meriam. Momen ini menjadi pembuka resmi perayaan dan menandai dimulainya pasar malam Dugderan.

Perkembangan Dugderan sebagai Destinasi Wisata Budaya

Pemerintah Kota Semarang terus mengembangkan Dugderan sebagai produk wisata budaya unggulan. Berbagai inovasi ditambahkan tanpa menghilangkan esensi tradisi, menjadikan acara ini semakin menarik bagi generasi muda dan wisatawan.