Menguak Sejarah Perlawanan Rakyat Lombok Terhadap Penjajahan Belanda

Pengamat tren yang gemar membagikan insight seputar teknologi, hiburan, dan gaya hidup.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rizky Ega Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah perlawanan rakyat Lombok terhadap penjajahan Belanda, yang puncaknya dikenal sebagai Perang Lombok 1894, merupakan babak penting dalam sejarah anti-kolonialisme di Indonesia. Peristiwa ini dipicu oleh konflik internal yang kompleks dan intervensi Belanda yang oportunistis.
Latar Belakang: Konflik Internal yang Mengundang Belanda
Sebelum campur tangan asing, dinamika internal di Lombok sudah memanas. Ketegangan sosial antara rakyat Sasak dan penguasa dari Kerajaan Mataram-Karangasem (Bali) menjadi pintu masuk bagi Belanda untuk menancapkan pengaruhnya. Kondisi ini menjadi contoh klasik bagaimana perpecahan lokal dimanfaatkan oleh kekuatan kolonial.
Pemberontakan Rakyat Sasak terhadap Kerajaan Mataram-Karangasem
Ketidakpuasan rakyat Sasak atas berbagai kebijakan penguasa Bali di Lombok menjadi pemantik utama konflik. Dalam buku A History of Modern Indonesia since c. 1200, M.C. Ricklefs menjelaskan bahwa ketegangan ini bersifat sosial-religius, di mana rakyat Sasak yang mayoritas Muslim merasa tertekan oleh elite penguasa Hindu-Bali. Puncaknya adalah pemberontakan di Praya yang meluas ke wilayah timur Lombok.
Politik Adu Domba (Devide et Impera) Belanda
Melihat peluang, Belanda menjalankan politik adu domba. Mereka menempatkan diri sebagai pelindung rakyat Sasak dengan menawarkan bantuan untuk melawan kekuasaan Kerajaan Mataram-Karangasem. Namun, bantuan ini sesungguhnya adalah strategi untuk mengintervensi dan pada akhirnya menguasai seluruh sumber daya di Lombok.
Puncak Perlawanan: Meletusnya Perang Lombok 1894
Intervensi yang awalnya didukung sebagian kelompok Sasak justru berujung pada perang besar yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Perang Lombok 1894 menjadi bukti bahwa kehadiran Belanda tidak membawa solusi, melainkan penaklukan total. Pertempuran ini menjadi salah satu episode paling berdarah dalam sejarah perlawanan rakyat Lombok terhadap penjajahan Belanda.
Kronologi dan Jalannya Pertempuran Sengit
Pada pertengahan 1894, pasukan Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL) mendarat di Ampenan dengan dalih membantu rakyat Sasak. Namun, negosiasi dengan pihak kerajaan menemui jalan buntu. Pertempuran pun tak terhindarkan, dengan pasukan kerajaan memberikan perlawanan sengit di berbagai titik strategis.
Serangan Mendadak di Cakranegara dan Tewasnya Jenderal van Ham
Momen paling heroik bagi pasukan Lombok terjadi pada malam 26 Agustus 1894. Mereka melancarkan serangan mendadak ke bivak Belanda di Taman Cakranegara. Menurut catatan Willard A. Hanna dalam buku Bali Chronicles, serangan ini berhasil menewaskan Jenderal P.P.H. van Ham.
Jatuhnya Kerajaan Lombok dan Perang Puputan
Kekalahan tersebut dibalas Belanda dengan mengirimkan ekspedisi militer yang jauh lebih besar. Istana di Cakranegara digempur habis-habisan hingga akhirnya jatuh. Peristiwa ini memicu perang puputan, sebuah perlawanan sampai mati dari keluarga kerajaan dan rakyat yang menolak menyerah.
Tokoh-Tokoh Kunci dalam Perlawanan
Di balik pertempuran besar ini, terdapat tokoh-tokoh yang memainkan peran sentral dari kedua belah pihak. Figur mereka menjadi simbol dari kekuatan yang saling berhadapan, antara semangat mempertahankan kedaulatan dan ambisi kolonial.
Dari Pihak Kerajaan dan Rakyat Lombok
Raja Anak Agung Gde Ngurah Karangasem memimpin perlawanan dari pihak kerajaan dengan gigih. Sementara itu, dari kalangan rakyat Sasak, muncul tokoh perlawanan seperti Guru Bangkol yang turut mengobarkan semangat jihad melawan penjajah.
Dari Pihak Belanda
Di sisi Belanda, Jenderal P.P.H. van Ham adalah komandan ekspedisi pertama yang tewas di Cakranegara. Posisinya kemudian digantikan oleh Jenderal J.A. Vetter yang memimpin ekspedisi balasan.
Dampak dan Akhir Kekuasaan Kerajaan di Lombok
Kekalahan dalam Perang Lombok 1894 membawa konsekuensi besar bagi tatanan sosial dan politik di pulau tersebut. Kemenangan Belanda tidak hanya mengakhiri kedaulatan kerajaan, tetapi juga meninggalkan luka mendalam dalam memori kolektif masyarakat.
Penaklukan Total dan Penjarahan Harta Kerajaan
Dengan jatuhnya kerajaan, Lombok sepenuhnya berada di bawah kendali pemerintah Hindia Belanda. Salah satu dampak paling terkenal adalah perampasan harta pusaka kerajaan, yang dikenal sebagai Harta Karun Lombok. Ini merupakan salah satu jarahan perang terbesar dalam sejarah kolonialisme Belanda.
Warisan Semangat Perjuangan Rakyat Lombok
Meskipun berakhir dengan kekalahan, sejarah perlawanan rakyat Lombok terhadap penjajahan Belanda ini mewariskan semangat patriotisme. Kisah heroik ini menjadi bukti bahwa rakyat Lombok tidak pernah diam menghadapi penindasan dan berjuang hingga titik darah penghabisan untuk mempertahankan martabatnya.
Perang Lombok adalah contoh tragis namun heroik dari perlawanan lokal terhadap kolonialisme, yang meski gagal, tetap menorehkan semangat keberanian yang tak lekang oleh waktu.
