Mengungkap Sistem Pertanian Subak Bali pada Masa Kerajaan dan Warisannya

Pengamat tren yang gemar membagikan insight seputar teknologi, hiburan, dan gaya hidup.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rizky Ega Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Jauh sebelum dikenal dunia, sistem pertanian Subak Bali pada masa kerajaan telah menjadi fondasi peradaban agraris di Pulau Dewata. Bukan sekadar irigasi, sistem ini melambangkan tatanan sosial dan spiritual kompleks yang mengatur kehidupan masyarakat Bali. Pengakuan UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia membuktikan betapa luhurnya kearifan lokal ini.
Sejarah Awal dan Bukti Keberadaan Subak di Era Kerajaan
Akar sejarah Subak dapat ditelusuri ribuan tahun lalu melalui peninggalan arkeologis dan catatan kuno. Bukti-bukti ini menunjukkan bahwa sistem irigasi terorganisir telah menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat Bali sejak era kerajaan Hindu-Buddha dan didukung penuh oleh para penguasa pada masanya.
Prasasti Kuno sebagai Titik Terang Sejarah
Jejak tertulis paling awal ditemukan dalam Prasasti Sukawana yang berangka tahun 882 Masehi. Prasati ini menyebut adanya sistem irigasi terorganisir. Menurut buku Mengenal Adat dan Subak di Bali karya I Wayan Widia (1993), istilah ‘subak’ sendiri secara eksplisit baru muncul pada Prasasti Pandak Bandung dari tahun 1071 Masehi.
Peran Kerajaan dalam Pengembangan Irigasi
Pada masa itu, para raja dan pemuka agama memegang peran penting dalam pengembangan Subak. Mereka memberikan izin pembukaan lahan sawah baru dan mendukung pembangunan infrastruktur vital seperti bendungan atau terowongan air yang menembus perbukitan, memastikan kemakmuran bagi rakyatnya.
Filosofi Tri Hita Karana: Jantung Sistem Pertanian Subak
Keberhasilan Subak tidak hanya terletak pada teknis irigasinya, tetapi juga pada filosofi Tri Hita Karana yang menjadi landasannya. Konsep ini menekankan tiga penyebab kebahagiaan, yaitu hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
Harmoni Manusia dengan Tuhan (Parahyangan)
Aspek spiritual atau Parahyangan menjadi jiwa dari Subak. Dalam buku Subak: Kajian Konsep dan Praktik Irigasi Tradisional Bali oleh I Gde Pitana dan I Ketut Puja (2012), disebutkan bahwa setiap Subak memiliki pura khusus bernama Pura Ulun Carik atau Pura Bedugul. Pura ini menjadi pusat ritual untuk memohon restu dan kesuburan kepada Dewi Sri.
Hubungan Antarmanusia yang Adil (Pawongan)
Dimensi sosial atau Pawongan tercermin dalam organisasinya yang demokratis. Buku Sejarah Irigasi dan Kelembagaan Subak di Bali karya Sutawan, dkk. (2001) menjelaskan bahwa Subak memiliki otonomi tinggi. Semua keputusan, mulai dari pembagian air hingga jadwal tanam, diputuskan melalui musyawarah (sangkepan) yang adil untuk mencegah konflik.
Keseimbangan dengan Alam (Palemahan)
Prinsip Palemahan atau hubungan dengan alam diwujudkan melalui pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Masyarakat Subak secara gotong royong memelihara saluran irigasi, menjaga kualitas air, dan memastikan ekosistem sawah tetap seimbang dan lestari.
Struktur Organisasi dan Cara Kerja Subak pada Masa Lalu
Sebagai sebuah organisasi, Subak pada masa kerajaan memiliki struktur yang jelas dan fungsional. Sistem ini memastikan setiap anggota memiliki hak dan kewajiban yang sama, memungkinkan jaringan irigasi berjalan secara efektif untuk mengairi ribuan hektare sawah.
Pembagian Peran dalam Komunitas Subak
Struktur kepemimpinan Subak sangat terorganisir dan efisien, dengan peran utama sebagai berikut:
Pekaseh atau Kelian Subak: Bertindak sebagai pemimpin yang dipilih secara demokratis untuk mengatur sistem irigasi, memimpin ritual, dan menengahi perselisihan.
Krama Subak: Merupakan seluruh anggota petani pemilik sawah yang memiliki hak suara dalam musyawarah dan kewajiban untuk berpartisipasi dalam kegiatan komunal.
Jaringan Irigasi Fisik yang Canggih
Secara teknis, masyarakat telah mampu membangun jaringan irigasi yang kompleks. Buku Perfect Order karya Stephen J. Lansing (2006) menyoroti kecanggihan ini, di mana mereka secara gotong royong membangun bendungan (empelan), terowongan (aungan) yang menembus bukit, serta parit (tembuku) untuk mendistribusikan air secara merata.
Pada akhirnya, sistem pertanian Subak Bali pada masa kerajaan adalah bukti nyata kearifan lokal yang melampaui zaman. Ia bukan hanya tentang cara mengairi sawah, tetapi sebuah warisan budaya luhur yang mengajarkan harmoni, keadilan, dan keberlanjutan yang relevansinya masih terasa kuat hingga hari ini.
