Mengupas Solusi Penangkapan Karbon untuk Lingkungan Indonesia

Pengamat tren yang gemar membagikan insight seputar teknologi, hiburan, dan gaya hidup.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Rizky Ega Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia menghadapi tantangan besar dalam mengatasi emisi karbon dioksida, terutama dari sektor industri, energi, dan transportasi. Salah satu strategi yang mulai diadopsi untuk mengatasi tantangan ini adalah penangkapan karbon, yaitu teknologi yang dirancang untuk mengurangi jumlah karbon dioksida masuk ke atmosfer.
Penangkapan karbon berarti menangkap gas karbon dioksida langsung dari sumber emisi, seperti cerobong pabrik atau pembangkit listrik, sebelum gas tersebut terlepas ke udara. Tujuan utama penangkapan karbon adalah menahan dan mengelola emisi agar tidak memperburuk pemanasan global.
Beberapa teknologi penangkapan karbon yang berkembang meliputi:
Penyerap kimia: Proses ini menggunakan larutan kimia untuk mengikat karbon dioksida dari gas buangan, kemudian melepaskannya kembali (regenerasi).
Teknologi membran: Metode ini memanfaatkan membran khusus yang akan memisahkan karbon dioksida dari aliran gas lainnya.
Adsorpsi: Karbon dioksida dijebak pada permukaan material berpori tertentu, lalu dilepaskan dengan perubahan tekanan atau suhu.
Setelah terkumpul, karbon dioksida bisa disimpan di bawah tanah menggunakan teknik yang disebut penyimpanan geologis atau dimanfaatkan sebagai bahan baku industri yang menghasilkan produk bernilai tambah, seperti bahan bakar sintetis.
Implementasi penangkapan karbon menawarkan berbagai manfaat bagi Indonesia, antara lain:
Menurunnya emisi gas rumah kaca sehingga kualitas udara membaik
Mendukung pencapaian target pengurangan emisi nasional
Membuka peluang pengembangan teknologi lokal dan lapangan kerja baru di bidang lingkungan
Namun, tantangan yang dihadapi Indonesia cukup nyata. Investasi awal untuk pengadaan teknologi canggih masih relatif tinggi, dan infrastruktur pendukung belum merata. Selain itu, masih diperlukan peningkatan literasi masyarakat dan keterampilan tenaga kerja untuk menjalankan teknologi ini.
Selain itu, peran kebijakan pemerintah, insentif ekonomi, serta pembukaan ruang kolaborasi antara industri dan lembaga riset untuk mempercepat adopsi teknologi penangkapan karbon.
Di Indonesia sendiri, PT Pertamina Hulu Energi Jatibarang pernah melakukan pilot project penangkapan, penyimpanan, sekaligus pemanfaatan karbon dioksida pada bidang minyak dan gas. Inisiatif ini menjadi contoh nyata bahwa aplikasi penangkapan karbon tidak sekadar wacana, tetapi mulai dipraktikkan dalam industri.
Agar program penangkapan karbon berjalan optimal, Indonesia perlu melakukan beberapa langkah strategis:
Memperkuat regulasi dan insentif bagi industri yang berinvestasi pada teknologi ini
Mendukung riset untuk menghasilkan inovasi lokal yang efisien dan terjangkau
Melibatkan masyarakat dalam kampanye pengurangan emisi dan pilihan gaya hidup ramah lingkungan
Perlu dipahami bahwa penangkapan karbon memang bukan solusi tunggal, namun dapat menjadi salah satu kunci yang bisa memperlambat laju krisis iklim, dan membawa perubahan positif untuk kesehatan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
