Konten dari Pengguna

Pengaruh Kebijakan Etis terhadap Pendidikan Bumiputra Indonesia

Rizky Ega Pratama

Rizky Ega Pratama

Pengamat tren yang gemar membagikan insight seputar teknologi, hiburan, dan gaya hidup.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizky Ega Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pendidikan bumiputera. Foto: pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pendidikan bumiputera. Foto: pixabay

Membahas kebijakan etis dan pengaruhnya terhadap pendidikan bumiputra berarti melihat bagian sejarah yang penuh kontradiksi. Kebijakan ini memberi kesempatan bagi masyarakat pribumi untuk memperoleh pendidikan yang sebelumnya sulit diakses.

Namun, kebijakan tersebut tetap dibuat untuk mendukung kepentingan kolonial, sehingga meninggalkan warisan yang rumit dan masih diperdebatkan hingga sekarang.

Apa Sebenarnya Kebijakan Etis (Politik Etis) itu?

Kebijakan Etis atau Politik Etis bukanlah sebuah kemurahan hati yang tiba-tiba muncul, melainkan hasil dari tekanan moral dan kritik tajam terhadap eksploitasi kolonial di Hindia Belanda.

Kebijakan ini menandai perubahan paradigma pemerintah Belanda, dari sekadar mengeruk keuntungan menjadi memiliki tanggung jawab moral untuk menyejahterakan rakyat jajahannya. Menganalisis kebijakan etis dan pengaruhnya terhadap pendidikan bumiputra Indonesia harus dimulai dari pemahaman akan latar belakang kelahirannya.

Latar Belakang dan Sejarah Singkat Lahirnya Politik Etis

Politik Etis lahir sebagai respons atas penderitaan rakyat akibat Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel) yang eksploitatif. Dalam buku A History of Modern Indonesia since c. 1200, M.C. Ricklefs (2008) menjelaskan bahwa kesadaran akan "utang kehormatan" (eereschuld) Belanda mendorong Ratu Wilhelmina mengumumkan kebijakan baru pada tahun 1901. Tujuannya adalah membalas budi kepada rakyat Hindia Belanda yang telah memberikan kemakmuran bagi Kerajaan Belanda.

Tiga Program Utama: Irigasi, Emigrasi, dan Edukasi

Kebijakan ini diwujudkan melalui tiga program utama yang dikenal sebagai Trias Van Deventer. Program tersebut adalah irigasi untuk meningkatkan hasil pertanian, emigrasi untuk mengatasi kepadatan penduduk di Jawa, dan edukasi untuk memberikan pendidikan kepada kaum bumiputra. Dari ketiganya, edukasi menjadi program yang paling transformatif dan memiliki dampak jangka panjang.

Dampak Langsung Kebijakan Etis pada Akses Pendidikan Kaum Bumiputra

Program edukasi menjadi pedang bermata dua yang mengubah wajah sosial dan politik Hindia Belanda secara fundamental. Melalui pendidikan, pemerintah kolonial berharap dapat menciptakan tenaga administrasi rendahan yang terampil dan loyal. Namun, dampak langsung kebijakan etis pada akses pendidikan kaum bumiputra justru melahirkan sebuah kekuatan baru yang tidak pernah mereka perhitungkan.

Pendirian Sekolah-sekolah untuk Pribumi: Dari HIS hingga STOVIA

Sebagai realisasi program edukasi, pemerintah kolonial mendirikan berbagai sekolah untuk pribumi. Dalam buku Kekuasaan dan Pendidikan: Suatu Tinjauan dari Perspektif Studi Kultural, H.A.R. Tilaar (2009) merinci pendirian sekolah seperti Hollandsch-Inlandsche School (HIS) untuk kalangan elite hingga sekolah kejuruan seperti School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA). Sekolah-sekolah inilah yang kemudian mencetak generasi intelektual pertama di Indonesia.

Munculnya Golongan Terpelajar sebagai Awal Kebangkitan Nasional

Lulusan dari sekolah-sekolah model Barat ini membentuk sebuah kelas sosial baru, yaitu golongan terpelajar atau priyayi baru. Mereka memiliki akses terhadap pengetahuan modern, ide-ide tentang kemajuan, dan kesadaran politik.

Golongan inilah yang kemudian menjadi motor penggerak organisasi-organisasi pergerakan nasional, seperti Budi Utomo yang lahir dari kalangan mahasiswa STOVIA.

Pengaruh Jangka Panjang dan Warisan Politik Etis bagi Pendidikan Indonesia

Warisan Politik Etis dalam bidang pendidikan terasa begitu ambigu dan berlapis. Di satu sisi, ia membuka jalan bagi modernisasi dan pencerahan, namun di sisi lain ia juga menciptakan jurang sosial baru. Memahami pengaruh jangka panjang dan warisan kebijakan etis dan pengaruhnya terhadap pendidikan bumiputra Indonesia berarti melihat kedua sisi mata uang ini secara berimbang.

Sisi Positif: Terbukanya Wawasan dan Kesadaran Nasional

Tidak dapat dimungkiri, pendidikan yang diperkenalkan era Etis telah membuka wawasan kaum bumiputra terhadap dunia luar. Mereka mulai mengenal konsep nasionalisme, demokrasi, dan hak asasi manusia. Pengetahuan inilah yang menjadi bekal utama dalam perjuangan merebut kemerdekaan dan membangun fondasi negara Indonesia modern.

Kritik dan Sisi Negatif: Pendidikan yang Diskriminatif dan Terbatas

Namun, pendidikan ini tidak pernah ditujukan untuk semua orang. Taufik Abdullah dalam bukunya Schools and Politics: The Kaum Muda Movement in West Sumatra (1927-1933) mengkritisi sifat pendidikan kolonial yang sangat terbatas dan diskriminatif. Akses pendidikan hanya terbuka bagi segelintir kaum elite pribumi dan dirancang hanya untuk menciptakan pegawai rendahan yang setia pada administrasi kolonial.

Apakah Politik Etis Benar-Benar Tulus untuk Bumiputra?

Pada akhirnya, pertanyaan mengenai ketulusan di balik kebijakan etis dan pengaruhnya terhadap pendidikan bumiputra Indonesia tetap relevan. Kebijakan ini jelas dirancang dengan agenda tersembunyi untuk memperkuat cengkeraman kolonialisme melalui cara yang lebih halus. Namun, sejarah menunjukkan bahwa hasil dari sebuah kebijakan seringkali berada di luar kendali perancangnya.

Pramoedya Ananta Toer dalam novel historisnya, Jejak Langkah (1995), secara tajam menggambarkan ambivalensi ini. Melalui kisah di STOVIA, ia menunjukkan bahwa pendidikan Barat menjadi alat kolonial untuk menghasilkan tenaga kerja murah, tetapi di saat yang sama justru menjadi kawah candradimuka yang melahirkan kesadaran akan harga diri dan nasionalisme di kalangan para tokoh pergerakan.