Konten dari Pengguna

Risk Taking dalam Psikologi Remaja: Memahami Proses, Faktor, dan Dampaknya

Rizky Ega Pratama

Rizky Ega Pratama

Pengamat tren yang gemar membagikan insight seputar teknologi, hiburan, dan gaya hidup.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizky Ega Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi remaja. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi remaja. Foto: Shutterstock

Risk taking sering dibahas dalam psikologi karena jumlah remaja yang suka mengambil risiko cukup tinggi. Sikap ini bisa memunculkan pengalaman baru, namun kadang juga membawa bahaya. Memahami faktor, proses, dan dampaknya sangat membantu orang tua serta guru agar bisa mengarahkan remaja pada pilihan yang sehat.

Daftar isi

Apa itu Risk Taking dalam Psikologi?

Istilah risk taking sering muncul di dunia psikologi untuk menjelaskan keberanian seseorang melakukan hal baru yang belum tentu hasilnya. Banyak ahli sepakat bahwa perilaku ini dipengaruhi oleh keinginan mencari tantangan dan pengalaman yang berbeda.

Definisi Risk Taking

Risk taking adalah kecenderungan melakukan sesuatu dengan kemungkinan gagal atau bahaya, tapi juga ada kemungkinan berhasil dan mendapatkan hal baru. Remaja umumnya tertarik mencoba aktivitas berisiko karena ingin tahu kemampuannya sendiri.

Konteks Risk Taking pada Remaja

Remaja dikenal suka melanggar aturan atau mencoba sesuatu yang belum pernah mereka lakukan. Menurut Sarlito W. Sarwono dalam buku Psikologi Remaja, perilaku risk taking pada usia ini muncul sebagai bagian dari pencarian jati diri dan keinginan menegaskan batas-batas kemampuan pribadi.

Asal Usul dan Perkembangan Perilaku Risk Taking

Perilaku mengambil risiko tidak muncul begitu saja. Ada teori psikologi yang membahas penyebab dan proses berkembangnya perilaku ini pada remaja.

Teori Psikologi tentang Risk Taking

Beberapa teori psikologi menyebut perilaku risk taking sebagai bagian dari perkembangan psikososial. Remaja mencari sensasi sekaligus menguji batasan diri. Ini juga berkaitan dengan perubahan otak yang memengaruhi kontrol emosi dan penilaian risiko.

Perubahan Psikologis di Masa Remaja

Masa remaja ditandai perubahan emosi dan cara berpikir. Remaja sering belum matang dalam menimbang risiko sehingga mudah terdorong melakukan sesuatu yang menantang, meski belum tentu aman atau tepat sasaran.

Faktor yang Mempengaruhi Risk Taking pada Remaja

Banyak faktor bisa membuat remaja melakukan risk taking, mulai dari kepribadian sampai dorongan dari lingkungan sekitar.

Faktor Internal

Keberanian, rasa ingin tahu, serta emosi yang belum stabil bisa mendorong remaja mengambil risiko. Gaya hidup dan kepribadian juga sangat berpengaruh, remaja yang cenderung ekstrover biasanya lebih suka mencoba hal-hal baru. Meski begitu, harus diingat bahwa tidak semua ekstrover suka risiko berbahaya.

Faktor Eksternal

Dorongan dari teman sebaya menjadi salah satu pemicu utama. Di sisi lain, lingkungan keluarga yang kurang perhatian juga bisa membuat anak mencari perhatian lewat perilaku berisiko, seperti bolos sekolah atau mencoba hal ekstrem.

Dampak Positif dan Negatif Perilaku Risk Taking

Perilaku berisiko memang tidak selalu buruk. Namun, perlu dibedakan antara manfaat dan bahaya yang bisa timbul dari risk taking.

Potensi Manfaat Risk Taking bagi Remaja

Jika diarahkan, risk taking bisa memberi pengalaman baru, meningkatkan rasa percaya diri, dan membantu remaja belajar mengambil keputusan. Contohnya, mencoba kegiatan ekstrakurikuler atau lomba inovasi.

Risiko dan Bahaya yang Dapat Timbul

Risk taking tanpa kontrol bisa berujung pada bahaya seperti kecelakaan, kerusakan hubungan dengan keluarga, atau perilaku menyimpang lain yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

Cara Mengelola Perilaku Risk Taking pada Remaja

Mengelola risk taking remaja penting agar berkembang ke arah positif. Orang tua dan sekolah punya peran besar di sini.

Peran Keluarga dan Sekolah

Dukungan dan pengawasan dari keluarga serta guru mampu membantu remaja menyalurkan energinya ke hal yang produktif. Diskusi dan komunikasi aktif membuat remaja merasa didengar serta lebih terbuka menyampaikan pendapat mereka.

Strategi Mengarahkan Risk Taking ke Hal Positif

Dorong remaja ke komunitas yang mendukung, beri ruang untuk mencoba hal baru yang positif, dan terapkan dialog dua arah. Dengan begitu, kecenderungan risk taking bisa diarahkan ke kegiatan yang membangun, bukan merusak.