Konten dari Pengguna

Sejarah Pendidikan Desa Era Etis dan Perannya untuk Masyarakat

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizky Ega Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejumlah siswa berjalan melawati jembatan gantung yang rusak di Desa Sukamulya, Pandeglang, Banten, Selasa (30/7/2019). Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah siswa berjalan melawati jembatan gantung yang rusak di Desa Sukamulya, Pandeglang, Banten, Selasa (30/7/2019). Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas

Daftar isi

Sejarah pendidikan desa pada era etis dimulai pada awal abad ke-20 melalui kebijakan Politik Etis atau Politik Balas Budi. Fokus utamanya yaitu program edukasi yang melahirkan sekolah-sekolah untuk kaum pribumi, termasuk di wilayah pedesaan.

Namun, hal ini memunculkan pertanyaan di benak masyarakat awam, apakah pendidikan ini murni untuk kesejahteraan rakyat atau demi kepentingan pemerintah kolonial?

Latar Belakang Lahirnya Sekolah Desa di Era Politik Etis

Kemunculan sekolah untuk rakyat jelata tidak bisa dilepaskan dari perubahan arah kebijakan pemerintah Hindia Belanda. Politik Etis menjadi pintu masuk bagi akses pendidikan, meskipun pelaksanaannya memiliki agenda tersendiri yang menguntungkan pihak kolonial.

Apa Itu Politik Etis dan Program Edukasi?

Politik Etis merupakan kebijakan "hutang kehormatan" Belanda yang dicanangkan melalui program Trias van Deventer, yaitu Irigasi, Emigrasi, dan Edukasi. Secara resmi, tujuan program edukasi adalah untuk mencerdaskan pribumi dan meningkatkan taraf hidup mereka.

Tujuan Tersembunyi di Balik Pendirian Sekolah

Di balik tujuan mulianya, pendirian sekolah desa menyimpan motif lain. Menurut buku Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Kebangkitan Nasional dan Masa Hindia Belanda karya Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto, pemerintah kolonial membutuhkan banyak tenaga kerja terdidik yang murah. Mereka disiapkan untuk menjadi juru tulis, pegawai rendahan, dan mandor di perkebunan.

Wajah Pendidikan Desa: Sekolah Rakyat (Volksschool)

Pendidikan untuk rakyat di pedesaan diwujudkan dalam bentuk Sekolah Rakyat atau Volksschool. Sekolah ini memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan sekolah untuk kaum priyayi dan Eropa, mencerminkan adanya lapisan sosial yang tajam dalam sistem pendidikan kolonial.

Mengenal Sekolah Desa atau Volksschool

Didirikan sekitar tahun 1907, Volksschool adalah sekolah untuk rakyat biasa di desa. Menurut buku Pendidikan di Indonesia dari Jaman ke Jaman karya S. Nasution, masa studinya sangat singkat, yaitu hanya tiga tahun. Kurikulumnya pun sangat dasar, berfokus pada membaca, menulis, dan berhitung (calistung) dengan bahasa pengantar menggunakan bahasa daerah.

Diskriminasi dalam Sistem Pendidikan

Sistem pendidikan di masa itu sangat diskriminatif. Buku Indonesia Abad ke-20: Dari Kebangkitan Nasional sampai Linggarjati karya M.C. Ricklefs menjelaskan adanya dualisme pendidikan. Kualitas, fasilitas, dan kurikulum Volksschool sangat terbatas jika dibandingkan dengan Hollandsch-Inlandsche School (HIS) untuk priyayi atau Europeesche Lagere School (ELS) untuk orang Eropa. Akibatnya, lulusan sekolah desa sulit melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Dampak Ganda Pendidikan Desa bagi Bangsa Indonesia

Meskipun dirancang untuk kepentingan kolonial, kebijakan pendidikan ini secara tidak langsung memberi dampak besar bagi bangsa Indonesia. Lahirnya generasi terpelajar menjadi awal mula dari perubahan besar yang akan datang.

Dampak Positif: Lahirnya Kaum Terdidik

Kehadiran sekolah desa berhasil mengurangi angka buta huruf di kalangan masyarakat. Lebih penting lagi, ia melahirkan generasi baru pribumi yang mengenal pendidikan modern. Menurut buku Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926 karya Takashi Shiraishi, kelompok kecil terpelajar inilah yang kemudian menjadi motor penggerak kesadaran nasional dan pergerakan kemerdekaan.

Kritik dan Realita Pendidikan Era Etis

Pada praktiknya, pendidikan era etis tidak sepenuhnya bertujuan mencerdaskan. Kebijakan ini lebih berfungsi sebagai alat untuk melanggengkan sistem kolonial. Pendidikan hanya diarahkan untuk menghasilkan tenaga kerja murah yang patuh pada pemerintah.

Meski penuh keterbatasan dan agenda tersembunyi, sejarah pendidikan desa pada era etis secara tidak terduga membuka jalan bagi pencerahan. Pendidikan yang awalnya menjadi alat kolonialisme, justru berbalik arah menjadi senjata yang digunakan kaum terpelajar untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.