Konten dari Pengguna

Sejarah Perkembangan Bahasa Sansekerta di Kerajaan Nusantara

Rizky Ega Pratama

Rizky Ega Pratama

Pengamat tren yang gemar membagikan insight seputar teknologi, hiburan, dan gaya hidup.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizky Ega Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Yupa yang berisi pahatan tulisan berbahasa Sanskerta peninggalan Kerajaan Kutai Martadipura Foto: Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Yupa yang berisi pahatan tulisan berbahasa Sanskerta peninggalan Kerajaan Kutai Martadipura Foto: Wikimedia Commons

Daftar isi

Masuknya bahasa Sansekerta ke Nusantara mampu mengubah lanskap budaya dan intelektual di sejumlah wilayah. Seiring waktu, bahasa tersebut berkembang di berbagai penjuru kerajaan Nusantara, sehingga jejaknya masih bisa ditemukan hingga kini.

Tidak hanya berbentuk prasasti, bahasa Sansekerta juga diabadikan dalam bentuk kosakata, sastra, hingga semboyan negara. Simak sejarah perkembangan bahasa Sansekerta selengkapnya di sini!

Awal Mula Masuk dan Penggunaan Bahasa Sansekerta di Nusantara

Pengaruh Sansekerta datang bukan melalui penaklukan militer, melainkan interaksi maritim dan pertukaran budaya. Para pedagang dan kaum Brahmana dari India memperkenalkan bahasa ini kepada elite lokal, yang kemudian mengadopsinya untuk berbagai keperluan strategis dalam tatanan sosial dan politik kerajaan.

Peran Jalur Perdagangan dalam Penyebaran Bahasa

Aktivitas perdagangan maritim antara kepulauan Nusantara dan India di awal Masehi menjadi gerbang utama masuknya pengaruh budaya. Melalui jalur ini, tidak hanya barang dagangan yang dipertukarkan, tetapi juga ide, sistem kepercayaan, dan bahasa serta aksara.

Bukti Tertua: Prasasti Yupa Kerajaan Kutai

Menurut Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam buku Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuno (2008), Prasasti Yupa dari Kerajaan Kutai Martadipura, yang diperkirakan berasal dari abad ke-4 Masehi, merupakan bukti epigrafis tertua penggunaan bahasa Sansekerta dan aksara Pallawa di Nusantara. Temuan ini menandai berakhirnya zaman prasejarah dan dimulainya era sejarah di Indonesia.

Sansekerta sebagai Bahasa Kaum Elit dan Keagamaan

George Cœdès dalam karyanya The Indianized States of Southeast Asia (1968) menjelaskan bahwa bahasa Sansekerta diadopsi oleh para penguasa lokal di Nusantara bukan sebagai bahasa komunikasi sehari-hari. Bahasa ini berfungsi sebagai bahasa kaum terpelajar (brahmana), penanda status, legitimasi kekuasaan, dan sebagai bahasa suci dalam ritual keagamaan Hindu-Buddha.

Puncak Pengaruh Sansekerta pada Masa Kerajaan Hindu-Buddha

Di era keemasan kerajaan Hindu Buddha seperti Kutai, Tarumanegara, Mataram Kuno, dan Majapahit, penggunaan Sansekerta mencapai puncaknya. Bahasa ini digunakan dalam administrasi pemerintahan, upacara keagamaan, dan penciptaan karya sastra adiluhung yang membentuk peradaban Nusantara.

Penggunaan dalam Pemerintahan dan Upacara Resmi

Penggunaan Sansekerta dalam ranah formal kerajaan terlihat jelas pada beberapa aspek, yaitu:

  • Kerajaan Kutai dan Tarumanegara menjadi pelopor penggunaan bahasa Sansekerta dalam prasasti-prasasti resmi mereka.

  • Pengaruhnya tampak dalam sistem penamaan raja-raja, seperti Mulawarman dan Purnawarman, yang menyiratkan legitimasi dan status agung.

Sansekerta dalam Sastra dan Kitab Keagamaan

Pengaruhnya dalam dunia literasi juga sangat signifikan meliputi:

  • Adaptasi aksara Pallawa dari India Selatan menjadi aksara lokal seperti Kawi (Jawa Kuno) memungkinkan penulisan karya-karya lokal.

  • Puncak pengaruh Sansekerta dalam kesusastraan terlihat pada genre kakawin, yang menyerap hingga 50% kosakatanya dari bahasa Sansekerta.

Pergeseran Penggunaan dan Warisan Bahasa Sansekerta

Memasuki akhir era kerajaan Hindu-Buddha, penggunaan aktif bahasa Sansekerta mulai surut. Kemunculan bahasa-bahasa lokal yang lebih merakyat dan masuknya pengaruh budaya baru perlahan menggeser posisi Sansekerta, meski warisannya tetap tertanam kuat dalam perbendaharaan kata dan identitas bangsa.

Mulai Ditinggalkannya Bahasa Sansekerta di Akhir Era Kerajaan

Beberapa faktor yang menyebabkan bahasa Sansekerta mulai ditinggalkan yakni:

  • Munculnya penggunaan bahasa Melayu Kuno di Kerajaan Sriwijaya sebagai bahasa komunikasi yang lebih luas dan merakyat (lingua franca).

  • Melemahnya kerajaan Hindu-Buddha dan masuknya pengaruh Islam pada abad ke-14 mengubah fokus budaya dan kebahasaan.

Jejak Sansekerta yang Bertahan Hingga Kini

Meskipun tidak lagi digunakan secara aktif, warisannya tetap abadi. Menurut J. Gonda dalam bukunya Sanskrit in Indonesia (1973), warisan bahasa Sansekerta tetap hidup melalui ribuan kata serapan dalam bahasa Indonesia modern.

  • Ribuan kosakata serapan ditemukan dalam Bahasa Indonesia, seperti bahagia, istana, bencana, dan guru.

  • Penggunaannya bertahan dalam semboyan lembaga negara, contohnya Bhinneka Tunggal Ika dan Jalesveva Jayamahe.