Sesar: Pengertian, Jenis, dan Peranannya

Pengamat tren yang gemar membagikan insight seputar teknologi, hiburan, dan gaya hidup.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rizky Ega Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sesar merupakan salah satu fenomena geologi yang membentuk wajah Bumi dan memengaruhi kehidupan manusia. Melalui pemahaman tentang pengertian, jenis, dan peranannya, Anda dapat mengenali bagaimana pergerakan kerak bumi serta dampaknya terhadap gempa dan bentang alam.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Pengertian Sesar dalam Ilmu Geologi
Sesar menjadi kunci untuk memahami dinamika kerak bumi di Indonesia yang rentan bencana. Menurut R.P. Koesoemadinata dalam buku An Introduction Into The Geology of Indonesia, sesar merupakan bidang rekahan atau retakan di batuan yang menyebabkan dua blok batuan bergeser satu sama lain.
Pergeseran ini bisa berlangsung secara vertikal, horizontal, atau gabungan keduanya. Sesar berbeda dengan lipatan yang hanya membentuk cekungan atau antiklin pada batuan tanpa menyebabkan pemutusan dan perpindahan blok secara nyata.
Sesar terbentuk ketika tekanan di dalam kerak bumi melebihi kekuatan batuan, sehingga terjadilah rekahan dan perpindahan posisi. Proses ini dikenal sebagai deformasi tektonik dan bisa dipicu oleh pergerakan lempeng, tekanan regional, atau aktivitas vulkanik.
Jenis-Jenis Sesar dan Karakteristiknya
Sesar di lapangan dapat dibedakan berdasarkan arah dan sifat pergeserannya. Setiap jenis sesar menunjukkan ciri unik pada bentuk dan struktur permukaan bumi.
Sesar Normal: Jenis ini terbentuk saat kerak bumi mengalami regangan. Blok di atas bidang sesar (hanging wall) bergeser turun relatif pada blok di bawahnya (footwall). Biasanya ditemukan di zona kerak bumi yang sedang mengalami pemanjangan.
Sesar Naik: Sesar ini terjadi jika tekanan horizontal menyebabkan blok di atas bidang sesar bergerak naik dibanding blok bawah. Sering dijumpai di zona penekanan atau pegunungan.
Sesar Mendatar: Pada jenis ini, pergeseran terjadi secara horizontal, sehingga blok batuan bergeser ke samping satu sama lain.
Ciri fisiknya bisa ditemukan di lapangan melalui identifikasi retakan memanjang, perubahan pola aliran sungai, hingga fitur topografi lain seperti tebing terjal atau lembah lurus.
Peranan Sesar dalam Dinamika Geologi
Indonesia berada di jalur Cincin Api Pasifik, sehingga sesar sangat menentukan pola gempa bumi dan topografi wilayah. Energi yang terakumulasi di sepanjang sesar aktif bisa dilepaskan mendadak dalam bentuk gempa bumi.
Sesar aktif seperti Sesar Semangko dan Palu-Koro sangat berpengaruh terhadap pola seismik dan pembentukan cekungan di Indonesia. Sesar juga membentuk bentang alam khas seperti lembah patahan, tebing curam, dan zona lemah batuan yang rawan longsor. Contohnya, banyak sungai di Sumatera membelok tajam atau berbelok di sekitar jalur sesar akibat pergeseran permukaan.
Studi Kasus dan Contoh Sesar di Indonesia
Sejumlah sesar di Indonesia memiliki sejarah aktivitas gempa yang signifikan, berikut beberapa di antaranya:
Sesar Lembang di Jawa Barat aktif dan berada dekat kawasan padat penduduk, sehingga potensi risikonya cukup tinggi jika terjadi pergeseran signifikan.
Sesar Semangko membentang di sepanjang Pulau Sumatera dan sudah beberapa kali menghasilkan gempa besar.
Sesar Palu-Koro di Sulawesi juga menimbulkan kerusakan besar pada wilayah Palu saat gempa dan tsunami 2018.
Upaya Mitigasi Risiko Geologi Akibat Sesar
Untuk meminimalkan dampak bencana sesar, pemerintah dan peneliti perlu melakukan berbagai langkah:
Pemetaan detail jalur sesar aktif agar pembangunan infrastruktur memperhitungkan risikonya.
Edukasi masyarakat tentang cara menghadapi gempa dan potensi bahaya di jalur sesar.
Penerapan standar konstruksi bangunan tahan gempa di zona rawan.
Kesimpulan
Sesar punya peranan vital dalam dinamika geologi dan risiko bencana di Indonesia. Pengetahuan tentang karakteristik, jenis, serta pola persebaran sesar membantu masyarakat dan pemerintah menjalankan strategi mitigasi yang efektif. Kajian sesar perlu terus dikembangkan dalam pendidikan geologi agar perencanaan pembangunan dan pengurangan risiko bencana bisa berjalan optimal.
