Konten dari Pengguna

Sistem Klasifikasi Makhluk Hidup, Cara Ilmuwan Mengelompokkan Jutaan Spesies

Rizky Ega Pratama

Rizky Ega Pratama

Pengamat tren yang gemar membagikan insight seputar teknologi, hiburan, dan gaya hidup.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizky Ega Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi peneliti. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi peneliti. Foto: Shutterstock

Bumi dihuni oleh jutaan jenis makhluk hidup dengan bentuk dan ukuran beragam. Para ilmuwan memperkirakan terdapat 8,7 juta spesies yang tersebar di seluruh planet ini. Menghadapi keanekaragaman hayati yang luar biasa, manusia memerlukan cara sistematis untuk mengenali dan mempelajari setiap organisme.

Daftar isi

Apa itu Sistem Klasifikasi Makhluk Hidup?

Klasifikasi makhluk hidup merupakan upaya manusia mengelompokkan organisme berdasarkan kesamaan ciri tertentu. Proses pengelompokan ini memungkinkan para peneliti mempelajari jutaan spesies tanpa harus mengamati setiap individu secara terpisah.

1. Pengertian Sistem Klasifikasi

Klasifikasi biologis melibatkan pengaturan organisme ke dalam kelompok berdasarkan persamaan struktur tubuh, fungsi organ, dan hubungan kekerabatan evolusioner. Menurut Gembong Tjitrosoepomo dalam buku Taksonomi Umum: Dasar-dasar Taksonomi Tumbuhan, taksonomi mencakup tiga kegiatan utama yaitu identifikasi untuk mengenali ciri organisme, klasifikasi untuk menempatkan organisme dalam kelompok yang tepat, dan tata nama untuk memberi nama ilmiah sesuai aturan internasional. Setiap makhluk hidup mendapat tempat khusus dalam sistem ini berdasarkan karakteristik fisik, genetik, dan perilakunya.

2. Tujuan dan Manfaat Klasifikasi

Sistem klasifikasi mempermudah identifikasi spesies baru yang ditemukan di lapangan. Para ahli biologi dapat memperkirakan sifat suatu organisme dengan melihat kelompok taksonominya.

Tingkatan Taksonomi dalam Sistem Klasifikasi

Taksonomi menggunakan sistem bertingkat yang dimulai dari kelompok besar hingga unit terkecil. Carolus Linnaeus, ahli botani Swedia, mengembangkan sistem hierarki ini pada tahun 1735 yang masih dipakai hingga kini dengan berbagai penyesuaian. Setiap tingkatan memiliki karakteristik yang makin spesifik saat turun ke level bawah.

1. Hierarki Klasifikasi dari Tertinggi ke Terendah

Urutan taksonomi dimulai dari Kingdom, Filum atau Divisi, Kelas, Ordo, Famili, Genus, hingga Spesies. Manusia modern termasuk dalam:

  • Kingdom Animalia (hewan)

  • Filum Chordata (bertulang belakang)

  • Kelas Mammalia (menyusui)

  • Ordo Primata (primata)

  • Famili Hominidae (kera besar)

  • Genus Homo (manusia)

  • Spesies sapiens (manusia modern)

Semakin rendah tingkatannya, semakin mirip ciri antar anggota kelompok tersebut.

2. Sistem Nomenklatur Binomial

Setiap organisme memiliki nama ilmiah yang terdiri dari dua kata Latin. Kata pertama menunjukkan genus dan kata kedua menunjukkan penunjuk spesies.

Penulisan nama ilmiah mengikuti aturan ketat dengan huruf miring, genus diawali huruf besar, dan penunjuk spesies huruf kecil. Padi memiliki nama ilmiah Oryza sativa, sedangkan jagung dinamai Zea mays. Sistem penamaan universal ini memastikan komunikasi ilmiah yang jelas antar negara.

Perkembangan Sistem Klasifikasi Makhluk Hidup

Pemahaman manusia tentang klasifikasi terus berkembang seiring kemajuan teknologi. Mikroskop membuka dunia mikroorganisme yang tak terlihat mata telanjang. Analisis DNA memberikan informasi akurat tentang hubungan kekerabatan antar spesies yang tampak berbeda secara fisik.

1. Sistem Klasifikasi 2 Kingdom hingga 5 Kingdom

Aristoteles membagi makhluk hidup menjadi tumbuhan dan hewan pada abad ke-4 SM. Penemuan mikroskop mendorong Ernst Haeckel menambahkan Kingdom Protista tahun 1866 untuk organisme bersel satu. Robert Whittaker menyempurnakan sistem menjadi 5 Kingdom tahun 1969 dengan memisahkan bakteri sebagai Monera dan jamur sebagai Fungi tersendiri.

2. Sistem Klasifikasi Modern (3 Domain)

Carl Woese merevolusi klasifikasi dengan sistem 3 domain tahun 1990 berdasarkan analisis genetik, yakni:

  • Domain Bacteria mencakup bakteri sejati.

  • Domain Archaea berisi mikroba yang hidup di lingkungan ekstrem seperti sumber air panas.

  • Domain Eukarya meliputi semua organisme dengan sel berinti sejati termasuk tumbuhan, hewan, jamur, dan protista.

Pendekatan molekuler ini mengungkap bahwa Archaea lebih dekat kekerabatannya dengan Eukarya dibanding Bacteria meski keduanya sama-sama prokariotik.