Tradisi Kuningan Masyarakat Bali: Perayaan Pamit Arwah Leluhur

Pengamat tren yang gemar membagikan insight seputar teknologi, hiburan, dan gaya hidup.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Rizky Ega Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Masyarakat Hindu Bali merayakan Hari Raya Kuningan sebagai penutup rangkaian upacara Galungan. Perayaan yang diadakan setiap 210 hari sekali ini menandai momen sakral ketika arwah leluhur kembali ke alam suci setelah turun ke dunia selama sepuluh hari. Seluruh keluarga berkumpul melakukan persembahyangan dengan berbagai sesajen berwarna kuning yang menjadi ciri khas perayaan ini.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Pengertian dan Makna Kuningan
Nama Kuningan berasal dari dominasi warna kuning pada penjor dan sarana upacara yang digunakan. Warna ini melambangkan kesucian serta kemakmuran dalam filosofi Hindu Bali.
Kuningan jatuh pada hari Saniscara Kliwon Kuningan dalam sistem penanggalan Pawukon, yaitu kalender tradisional Bali yang menggunakan siklus 210 hari, berbeda dari kalender Masehi.
Hubungan dengan Galungan
Kuningan tidak dapat dipisahkan dari Galungan karena keduanya merupakan satu kesatuan perayaan. Galungan menandai kedatangan roh leluhur ke dunia, sementara Kuningan menjadi hari perpisahan. Selama sepuluh hari di antara keduanya, setiap keluarga melakukan berbagai ritual menghormati leluhur dengan memasang penjor di depan rumah dan menyiapkan berbagai persembahan.
Rangkaian Upacara dan Sarana Persembahan
Persiapan dimulai beberapa hari sebelumnya dengan menyiapkan sarana upacara yang meliputi:
Nasi kuning sebagai simbol kemakmuran
Jajan atau kue tradisional berwarna kuning
Bunga kuning seperti kamboja dan sandat
Canang sari dengan hiasan kuning
Tamiang atau perisai dari bambu
Setiap keluarga melaksanakan persembahyangan di sanggah atau pura keluarga pada pagi hari. Menurut I Ketut Wiana dalam buku Makna Upacara Yajna dalam Agama Hindu, upacara ini merupakan wujud bhakti kepada leluhur sekaligus doa agar mendapat berkah dalam kehidupan.
Penjor sebagai Penanda Visual
Penjor dengan tambahan ornamen seperti tamiang menjadi penanda visual yang membedakan Kuningan dari Galungan. Bambu melengkung yang dihias dengan janur kuning dipasang di sisi kanan pintu masuk rumah. Penjor melambangkan gunung sebagai tempat suci sekaligus rasa syukur atas hasil bumi yang diberikan Sang Hyang Widhi.
Filosofi Perayaan Kuningan
Perayaan Kuningan mengingatkan umat Hindu Bali untuk selalu memilih jalan kebenaran dalam menjalani kehidupan. Momen perpisahan dengan arwah leluhur menjadi kesempatan terakhir memohon restu sebelum mereka kembali ke alam spiritual.
Tradisi Kuningan terus dilestarikan sebagai warisan budaya yang menguatkan ikatan keluarga dan menjaga keseimbangan spiritual dalam kehidupan masyarakat Bali.
