kumplus - Mencari Adil Bab 9
3 Juli 2021 17:47
ยท
waktu baca 7 menit

Pencarian Pertama (9)

Komet mematung di depan cermin. Sekali lagi dia memastikan kemeja yang dikenakannya sudah rapi. Kemeja gading itu satu dari dua kemeja kepunyaan Komet yang lunturnya tak berlebih-lebihan, pantaslah kalau dua hari belakangan kemeja itu ikut menemaninya dalam misi pencarian Adil.
Sedetik, Komet merasa penampilannya terlalu formal. Orang yang akan ditemuinya hanya Jauhari, pamannya, keluarga. Cukup sering dia bertandang ke kediaman Jauhari. Kalau gula darah Ma Siah tiba-tiba meninggi, Komet selalu membawanya ke dokter yang tempat praktiknya persis di depan rumah Jauhari. Tentu kedatangannya kali ini bukan untuk mengantar neneknya berobat. Pencarian Komet bermuara padanya. Kedua tangan pemuda berambut jabrik itu menjangkau kancing kemejanya, hendak melepas. Namun, niat itu dibatalkannya. Komet buru-buru keluar kamar.
Ma Siah belum pulang dari mengaji di Selatan. Komet tak akan menunggu dan menjemputnya. Memang biasanya Ma Siah pulang bersama teman-teman sepengajian. Sebelum pergi, Komet sudah memastikan keadaan rumah rapi: tak ada piring kotor, lantai bersih mengilap, dan tentu saja empat ayam kepunyaan Ma Siah sudah kenyang perutnya.
Keuntungan berlangganan kumparan+
  • Ratusan konten premium dari pakar dan kreator terbaik Indonesia
  • Bahasan mendalam dengan kemasan memikat
  • Pengetahuan, hiburan, dan panduan yang solutif untuk hidupmu
Konten Premium kumparan+
Ahmad Komad alias Komet menerima surat tentang Adil, ayahnya, dan memutuskan untuk menemui laki-laki sekarat yang pergi tanpa kabar selama 25 tahun tersebut. Tapi bukan untuk memaafkan kesalahan-kesalahannya. Baca kisah ini hanya di kumparan+