Konten dari Pengguna

Lapangan Kasihan, Ruang Publik yang Ramai dan Persoalan Sampah yang Tertinggal

Muhammad Rizky Refaldi

Muhammad Rizky Refaldi

Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi UMY

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Rizky Refaldi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lapangan Kasihan di Kabupaten Bantul selalu ramai menjelang sore. Anak-anak bermain bola, remaja duduk di tepi lapangan, sementara pedagang kaki lima mulai memadati area sekitar. Namun, ketika aktivitas mereda, sampah di ruang publik kerap tertinggal dan menjadi persoalan yang terus berulang di lapangan tersebut.

Lapangan Kasihan di Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, yang di manfaatkan warga sebagai ruang publik untuk berolahraga dan bersantai. Foto: Muhammad Rizky Refaldi/Penulis
zoom-in-whitePerbesar
Lapangan Kasihan di Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, yang di manfaatkan warga sebagai ruang publik untuk berolahraga dan bersantai. Foto: Muhammad Rizky Refaldi/Penulis

Lapangan Kasihan yang berada di Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, setiap sore dipenuhi aktivitas warga. Anak-anak bermain bola, remaja berkumpul di pinggir lapangan, dan pedagang kaki lima berjualan di sekitar area. Lapangan ini menjadi salah satu ruang terbuka yang mudah diakses dan dimanfaatkan oleh berbagai kalangan.

Di sisi lain, persoalan kebersihan kerap muncul setelah aktivitas berakhir. Sampah berupa bungkus makanan, botol plastik, gelas minuman sekali pakai, dan sedotan terlihat tertinggal di berbagai sudut lapangan. Kondisi tersebut terjadi hampir setiap hari, terutama setelah lapangan ramai di kunjungi pada sore hingga malam.

Sampah berupa bungkus makanan dan botol plastik terlihat tertinggal di area Lapangan Kasihan setelah aktivitas pengunjung berakhir. Foto: Muhammad Rizky Refaldi/Penulis

Siti Amilia (45), warga yang tinggal di sekitar Lapangan Kasihan, mengatakan sampah sering terbawa angin hingga ke halaman rumahnya. Menurutnya, kondisi itu bukan hal baru. “Kadang pagi hari halaman sudah kotor. Padahal itu bukan dari rumah kami,” ujarnya.

Warga di sekitar Lapangan Kasihan, Siti Aminah. Foto: Muhammad Rizky Refaldi/Penulis

Persoalan serupa juga dirasakan pedagang di sekitar lapangan. Andi Assad (30), pedagang keliling, menyebut pedagang kerap dianggap sebagai penyumbang sampah. Padahal, ia mengaku selalu membersihkan area lapaknya sendiri. “Sampah pengunjung sering ditinggal begitu saja, sementara tempat sampah juga sering penuh,” katanya.

Pedagang keliling di sekitar Lapangan Kasihan, Andi Assad. Foto: Muhammad Rizky Refaldi/Penulis

Masalah kebersihan ruang publik sebenarnya bukan hanya terjadi di Lapangan Kasihan. Merujuk berita Kumparan sebelumnya menyoroti bahwa persoalan sampah masih menjadi pekerjaan rumah besar di wilayah Yogyakarta, seiring meningkatnya aktivitas masyarakat di ruang publik.

Dalam laporan Kumparan berjudul Ruang Publik–Sampah, PR Yogya Usai Sumbu Filosofi Jadi Warisan Dunia UNESCO, disebutkan bahwa pengelolaan ruang publik dan kesadaran masyarakat menjadi tantangan utama dalam menjaga kebersihan lingkungan.

https://kumparan.com/pandangan-jogja/ruang-publik-sampah-pr-yogya-usai-sumbu-filosofi-jadi-warisan-dunia-unesco-21EMJxAxRIw

Ketua RT 05 Dusun Kasihan, Kalurahan Bangunjiwo, Kapanewon Kasihan, Eko Nurwahyunto (34), mengakui bahwa menjaga kebersihan lapangan bukan perkara mudah. Ia menjelaskan bahwa lapangan digunakan tidak hanya oleh warga sekitar, tetapi juga masyarakat dari luar wilayah. “Sudah ada imbauan dan kerja bakti, tapi belum semua pengunjung merasa punya tanggung jawab,” ujarnya.

Ketua RT 05 Dusun Kasihan, Kalurahan Bangunjiwo, Kapenewon Kasihan, Eko Nurwahyunto. Foto: Muhammad Rizky Refaldi/Penulis

Ketua RT 05 Dusun Kasihan, Kalurahan Bangunjiwo, Kapenewon Kasihan, Eko Nurwahyunto. Foto: Muhammad Rizky Refaldi

Menurut Eko, kebersihan Lapangan Kasihan tidak bisa hanya dibebankan kepada warga sekitar. Ia menilai perlu ada dukungan dari pemerintah setempat, terutama dalam penyediaan fasilitas kebersihan dan sistem pengelolaan sampah yang lebih teratur.

Persoalan sampah di ruang publik tidak bisa dilepaskan dari cara masyarakat memaknai fasilitas bersama. Dalam kajian lingkungan, ruang publik kerap digunakan secara kolektif, tetapi belum selalu dipahami sebagai tanggung jawab kolektif. Ketika rasa memiliki tidak terbentuk, kesadaran untuk menjaga kebersihan pun cenderung rendah. Situasi ini membuat sampah mudah tertinggal setelah aktivitas berakhir dan menjadi persoalan yang berulang dari hari ke hari.

Kondisi tersebut juga sejalan dengan laporan Kumparan mengenai persoalan sampah di DIY yang belum sepenuhnya tertangani. Dalam artikel 5.000 Ton Sampah Menumpuk di Yogya, Pemda DIY Buka Ruang Darurat di TPA Piyungan, Kumparan menyoroti bahwa persoalan sampah membutuhkan penanganan dari hulu ke hilir, termasuk perubahan perilaku masyarakat.

https://kumparan.com/pandangan-jogja/5-000-ton-sampah-menumpuk-di-yogya-pemda-diy-buka-ruang-darurat-di-tpa-piyungan-230kfZP1DEy

Jika kondisi ini terus berulang, sampah tidak hanya mengganggu kenyamanan pengguna lapangan, tetapi juga berpotensi menurunkan kualitas lingkungan. Lapangan Kasihan menunjukkan bahwa keberadaan ruang publik perlu diimbangi dengan sistem pengelolaan yang jelas serta kesadaran bersama agar tetap berfungsi secara optimal.

Penulis:Muhammad Rizky Refaldi, Mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta