Dari Hanggar ke Siber: Masa Depan Kemitraan Strategis Indonesia–Korea Selatan

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulis opini yang membahas mengenai hal-hal yang berhubungan dengan hubungan internasional dan keamanan global.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rizky Ali Mayqihan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hubungan Indonesia dan Korea Selatan dalam beberapa tahun terakhir mengalami perkembangan yang cukup pesat. Kerja sama yang sebelumnya lebih banyak dikenal melalui sektor ekonomi dan industri kini mulai bergerak ke arah yang lebih luas, termasuk pertahanan, transformasi digital, hingga kecerdasan buatan. Perubahan ini menunjukkan bahwa hubungan kedua negara tidak lagi sekadar hubungan bilateral biasa, tetapi sudah berkembang menjadi kemitraan strategis yang mencoba menyesuaikan diri dengan perubahan dunia yang semakin dipengaruhi oleh teknologi.
Peningkatan status hubungan Indonesia dan Korea Selatan menjadi Special Strategic Partnership menjadi salah satu bukti bahwa kedua negara melihat betapa pentingnya kerja sama jangka panjang. Dalam hubungan internasional, kemitraan strategis biasanya terbentuk karena adanya kepentingan bersama yang ingin dicapai, baik dalam bidang ekonomi, keamanan, maupun politik. Indonesia dan Korea Selatan sama-sama berada pada posisi yang membutuhkan kerja sama yang lebih fleksibel dan saling menguntungkan di tengah situasi global yang semakin tidak pasti.
Hal tersebut semakin terlihat melalui penandatanganan berbagai nota kesepahaman pada tahun 2026 yang mencakup sektor ekonomi, energi, pengembangan digital, hingga kecerdasan buatan. Kerja sama ini menunjukkan bahwa arah hubungan kedua negara mulai bergerak menuju sektor yang lebih modern dan berbasis teknologi. Jika sebelumnya kerja sama lebih banyak berfokus pada perdagangan dan investasi, kini teknologi mulai menjadi bagian penting dalam hubungan Indonesia dan Korea Selatan.
Dalam bidang pertahanan, kerja sama antara kedua negara ini sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Salah satu yang paling dikenal adalah proyek pengembangan pesawat tempur KF-21. Melalui proyek ini, Indonesia tidak hanya membeli atau menggunakan teknologi dari Korea Selatan, tetapi juga ikut terlibat dalam proses pengembangannya. Bagi Indonesia, kerja sama seperti ini penting karena dapat membuka peluang transfer teknologi dan peningkatan kapasitas industri pertahanan nasional. Dalam jangka panjang, kerja sama tersebut diharapkan dapat membantu Indonesia untuk lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan pertahanannya sendiri.
Namun, perkembangan teknologi global perlahan mengubah cara negara melihat konsep pertahanan. Kekuatan militer tidak lagi hanya berkaitan dengan jumlah senjata atau kemampuan tempur konvensional. Saat ini, kemampuan menguasai teknologi, data, dan sistem digital juga menjadi bagian penting dari kekuatan suatu negara. Karena itu, pertahanan modern tidak lagi hanya berbicara tentang apa yang ada di dalam hanggar, tetapi juga tentang bagaimana negara mampu menjaga dan mengelola ruang siber.
Perubahan inilah yang membuat kerja sama di bidang digital dan kecerdasan buatan (AI) menjadi semakin relevan. Indonesia dan Korea Selatan mulai memperluas kerja sama mereka dalam bidang transformasi digital, pengembangan teknologi informasi, hingga pemanfaatan AI dalam berbagai sektor. Kerja sama tersebut menunjukkan bahwa teknologi tidak lagi dipandang hanya sebagai alat pendukung ekonomi, tetapi juga sebagai bagian dari strategi nasional.
Dalam situasi global yang semakin terhubung secara digital, ancaman terhadap keamanan juga ikut berubah. Risiko serangan siber, kebocoran data, hingga gangguan terhadap sistem digital kini menjadi tantangan yang harus dihadapi banyak negara. Oleh karena itu, kemampuan untuk mengembangkan teknologi digital dan memperkuat keamanan siber menjadi semakin penting. Korea Selatan, yang dikenal memiliki perkembangan teknologi yang cukup maju, tentu menjadi mitra yang strategis bagi Indonesia dalam proses tersebut.
Di sisi lain, kerja sama ini juga perlu dilihat secara hati-hati. Ketergantungan terhadap teknologi asing tetap dapat menimbulkan risiko, terutama jika Indonesia tidak mampu mengembangkan kapasitas domestiknya sendiri. Penguasaan teknologi seharusnya tidak berhenti pada tahap penggunaan, tetapi juga perlu diikuti dengan peningkatan kemampuan sumber daya manusia dan pengembangan industri nasional. Jika tidak, kerja sama yang awalnya bertujuan memperkuat kapasitas nasional justru dapat menciptakan ketergantungan baru.
Karena itu, pengembangan sumber daya manusia menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kerja sama teknologi dan pertahanan. Teknologi secanggih apa pun tetap membutuhkan manusia yang mampu mengelola, memahami, dan mengembangkannya. Dalam konteks ini, kerja sama Indonesia dan Korea Selatan sebenarnya tidak hanya membuka peluang dalam bidang industri dan teknologi, tetapi juga dalam pengembangan kualitas sumber daya manusia yang lebih adaptif terhadap perubahan global.
Selain itu, Indonesia juga perlu tetap menjaga keseimbangan dalam kebijakan luar negerinya. Di tengah persaingan global yang semakin kompleks, hubungan kerja sama dengan negara lain perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan ketergantungan politik maupun ekonomi yang berlebihan. Prinsip politik luar negeri bebas aktif tetap menjadi hal penting agar Indonesia dapat menjaga ruang geraknya di tengah dinamika internasional yang terus berubah.
Pada akhirnya, perkembangan hubungan Indonesia dan Korea Selatan menunjukkan bahwa konsep kemitraan strategis terus mengalami perubahan mengikuti perkembangan zaman. Jika sebelumnya kerja sama lebih banyak berpusat pada sektor tradisional, kini teknologi digital dan ruang siber mulai menjadi bagian penting dalam hubungan antarnegara. Pergeseran dari “hanggar” ke “siber” pada dasarnya menggambarkan perubahan cara negara membangun kekuatan dan menjaga kepentingannya di era modern.
Bagi Indonesia, kerja sama ini dapat menjadi peluang yang cukup besar untuk memperkuat kapasitas nasional, baik dalam bidang pertahanan maupun teknologi. Namun, peluang tersebut tetap perlu diiringi dengan kesiapan domestik yang memadai agar kerja sama yang terjalin tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek, tetapi juga mampu mendukung kemandirian Indonesia di masa depan.
