Konten dari Pengguna

Bisakah Manusia Menangkap Petir? Mari Kenalan dengan Magnetotelurik

Rizky Ramadhan

Rizky Ramadhan

Geologist indonesia

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizky Ramadhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Petir Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Petir Foto: Pixabay

Petir, kilat, atau halilintar adalah gejala alam yang biasanya muncul pada musim hujan saat langit memunculkan kilatan cahaya sesaat yang menyilaukan (wikipedia), tapi kenapa ya bisa terjadi petir? apakah kita bisa memanfaatkannya. secara umum Petir merupakan suatu proses peristiwa di atmosfir berupa pelepasan muatan listrik dari awan bermuatan (Vadreas, 2014). lalu pertanyaannya bagaimana cara memanfaatkannya?sederhananya, energi petir hasil dari ionisasi memiliki energi yang sangat kuat dan cepat. energi tersebut menyambar dan akan menimbulkan gelombang elektromagnetik (EM) dengan frekuensi tinggi > 1 Hz yang terperangkap diantara lapisan ionosfer dan energi tersebut menjalar mengelilingi bumi selama 7 kali.

Kemajuan di bidang ilmu sains kebumian khususnya di bidang eksplorasi atau akrab dengan sebutan geosains, hal ini membuat perubahan yang signifikan, seperti menangkap atau memanfaatkan petir untuk keperluan eksplorasi. Geofisika yang biasanya akrab dengan "cuaca" kini digunakan untuk mencari energi baru terbarukan (EBT) ataupun energi konvensional. Terdapat metode geofisika pasif yang menggunakan energi petir yaitu Magnetotelurik (MT).

Susunan alat MT. Foto: Dok: Schlumberger, 1990, Magnetotelluric Prospecting

Magnetotelurik (MT) merupakan metode geofisika pasif yang mengukur variasi medan listrik magnet alamiah. Metode ini mengukur variasi medan listrik (E) dan medan magnet (H) secara tegak lurus dipermukaan bumi yang berubah terhadap waktu, sehingga diketahui variasi nilai tahanan jenis di bawah permukaan. Gauss (1839) menentukan teknik untuk memisahkan bidang variasi medan magnet berasal dari inti bumi dan luar bumi. Tikhonov (1950) dan Cagniard (1953) menemukan bahwa jika variasi medan listrik dan magnet diukur secara simultan maka rasio kompleks (impedansi) dapat diturunkan yang menggambarkan penetrasi dari medan elektromagnetik ke dalam bumi (Simpson dan Bahr, 2005). Sumber MT bersifat pasif dan memiliki dua karakter yaitu frekuensi tinggi dan rendah dengan frekuensi kurang dari 1 Hz berasal dari interaksi yang kompleks antara solar plasma dengan medan magnet bumi sementara itu, frekuensi tinggi lebih dari 1 Hz berasal dari aktivitas petir (Unsworth, 2007). Sebagai metode yang dapat mencitrakan hingga puluhan kilometer MT memiliki keunggulan dari segi teknis pengambilan data yang bersifat ramah lingkungan dan biaya yang dibutuhkan lebih efektif. (Simpsons dan Bahr, 2005; Xiao, 2004). Metode inilah yang berperan penting dalam eksplorasi panas bumi (EBT).

Eksplorasi panas bumi. Foto: Dok: AAPG explorer
Eksplorasi lapangan migas tidak konvensional. Foto: Dok: Schlumberger, 1990, Magnetotelluric Prospecting
MT menyempurnakan seismik. Foto: Dok: AAPG explorer
Eksplorasi migas konvensional. Foto: Dok: AAPG explorer
Eksplorasi panas bumi. Foto: Dok: AAPG explorer

Sumber terkait:

  1. Vadreas., at all, 2014, Sistem Informasi Petir Dengan Metode Lightning Distrbution (LD) di Wilayah Sumatra Barat, Jurnal Nasional Teknik Elektro, Vol: 3 No. 2 September 2014

  2. Unsworth, 2007, Electromagnetic Exploration Methods, University of Alberta, Canada.

  3. Simpson, F., dan Bahr, K., 2005, Practical Magnetolellurics, Cambridge University Press.

  1. Xiao, Wen., 2004, Magnetotelluric Exploration in the Rocky Mountain Foothills, Department of Physics University, Alberta.

  2. Christopherson. 2001. Magnetotellurics (MT): Technique, Interpretation, and Application. AAPG explorer

  3. Vozoff, K., 1991. The magnetotelluric method, in Electromagnetic methods in applied geophysics, Vol. 2 Application, M.N. Nabighian (ed.), SEG Publishing.

  4. Schlumberger, 1990, Magnetotelluric Prospecting

  5. Wikipedia