Konten dari Pengguna

Rekonstruksi Semangat Juang 1945 Menuju Generasi Indonesia Emas 2045

Rizky Ramadhianto

Rizky Ramadhianto

Alumni Universitas Pertahanan RI

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizky Ramadhianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam upaya untuk menciptakan SDM unggul yang pintar, kreatif, jujur, dan bisa bersaing dalam mencapai visi Indonesia Emas tahun 2045, pemerintah telah menetapkan anggaran pendidikan senilai Rp 660,8 triliun. Foto: Dok. Kemenkeu
zoom-in-whitePerbesar
Dalam upaya untuk menciptakan SDM unggul yang pintar, kreatif, jujur, dan bisa bersaing dalam mencapai visi Indonesia Emas tahun 2045, pemerintah telah menetapkan anggaran pendidikan senilai Rp 660,8 triliun. Foto: Dok. Kemenkeu

Sebuah adagium populer dari seorang pahlawan sekaligus proklamator kemerdekaan yakni Bung Karno yang berbunyi, “beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” nampaknya bukanlah sebuah ucapan belaka. Makna yang tersirat di dalamnya mengandung nilai-nilai luhur bagi para pemuda penerus bangsa untuk senantiasa peduli dan melestarikan semangat perjuangan pahlawan, serta mengimplementasikan nilai-nilai kepahlawanan yang diwariskan guna mengisi kemerdekaan.

Makna Kepahlawanan

Sebelum menjabarkan secara lebih komprehensif mengenai nilai-nilai kepahlawananan yang dapat diimplementasikan oleh pemuda, alangkah baiknya kita menelisik dan memahami terlebih dahulu apa itu arti pahlawan. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pahlawan didefinisikan sebagai kata benda berupa orang yang berjasa karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani. Sementara itu, kepahlawanan dimaknai sebagai kata sifat yang berhubungan dengan pahlawan, seperti keberanian, keperkasaan, kerelaan berkorban, dan kekesatriaan.

Berdasarkan kedua penjelasan tersebut, maka dapat dipahami bahwa peran pahlawan sangat penting terhadap eksistensi sebuah negara guna memperjuangkan hak hidup seluruh elemen bangsa. Terlalu sempit jika mengartikan pahlawan hanya sekadar orang yang gugur di medan pertempuran, lebih dari itu, pahlawan memiliki jasa besar dalam menghasilkan dan melegasikan karya luar biasa yang berdampak nyata bagi kepentingan nasional.

Kontribusi para pahlawan tentunya didorong oleh keinginan luhur dalam hal pengabdian yang didasari oleh niat ikhlas untuk berkorban, disertai rasa tanggung jawab dan kecintaan terhadap tanah air dengan menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi.

Secara implisit pemahaman ini merepresentasikan nilai-nilai dominan yang dimiliki oleh para pahlawan, meskipun begitu, hal yang lebih penting ialah bagaimana mentransformasikan nilai-nilai kepahlawanan tersebut agar dapat dilestarikan demi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara oleh generasi penerus, yakni pemuda.

Kilas Balik Entitas Pahlawan

Berkaca pada sejarah, peradaban negara-negara besar lahir berkat jasa besar para pemuda yang dimilikinya. Sebut saja era Revolusi Inggris dan Prancis, serta masa pemulihan yang dilakukan Jepang pasca penyerangan bom atom, semuanya dipengaruhi oleh peran pemuda dalam perekonstruksian arah dan tujuan bangsa, tak terkecuali di Indonesia.

Pada masa pra kebangkitan nasional hingga pasca proklamasi ‘45, para pemuda Indonesia berhasil dalam menginisiasi dan menyatukan pemikiran seluruh elemen bangsa untuk senantiasa mencurahkan jiwa dan raga bagi kepentingan Indonesia. Nilai-nilai tersebut mencerminkan karakter pahlawan sejati yang senantiasa harus diperjuangkan dalam rangka mendukung visi pemerintah menuju Indonesia Emas 2045.

Permasalahan yang kemudian muncul ialah bagaimana mengimplementasikan nilai-nilai kepahlawanan pada kalangan pemuda guna mencapai visi tersebut?

Pemupukan Kepahlawanan pada Generasi Penerus

Pemuda yang hidup di zaman sekarang dapat dikatakan sebagai generasi digital, generasi yang diasuh oleh keberadaan media sosial. Mayoritas netizen dari kalangan pemuda mengakses platform-platform media sosial yang memuat berbagai konten non-editorialisasi, tanpa proses pemilahan yang mengacu pada referensi-referensi keilmuan sehingga turut membentuk fenomena post-truth. Hal ini diperburuk oleh keberadaan algortima yang mampu mempolarisasi sebuah informasi dengan menghilangkan sentralitas, akibatnya memudarkan intelektualitas dalam berkomunikasi.

Kondisi seperti ini dapat berimplikasi negatif terhadap perubahan cara pandang pemuda dalam merespons kompleksitas ancaman yang semakin cepat dan berakselerasi tinggi. Apabila berlangsung dalam periode lama dengan skala yang lebih luas, maka fenomena tersebut akan berubah menjadi benih-benih disintegrasi bangsa melalui fabrikasi berita hoaks, terlebih dapat memudarkan konsep kenegaraan menjadi terarah pada kepentingan pihak-pihak tertentu.

Di sisi lain, perubahan pola ancaman kontemporer pun turut mengubah pola penguasaan terhadap ruang hidup, sehingga entitas pemuda era digital sebagai generasi penerus bangsa Indonesia tentunya harus mampu menyatukan pemikiran seluruh elemen bangsa dalam merespons dinamika ancaman ke depannya. Penguasaan keterampilan guna memanfaatkan penggunaan teknologi pun mutlak dibutuhkan oleh pemuda, bukan mengubah diri layaknya beroperasi seperti mesin.

Pemuda sepatutnya memiliki rasa senasib dan sepenanggungan yang merefleksikan jiwa gotong-royong, serta bangga terhadap keberagaman bangsa Indonesia mulai dari etnis, agama, ras, dan budaya. Melalui keterpaduan dalam keberagaman, tentunya pemuda akan bersikap patriotis dengan rela mengorbankan harta, pikiran, tenaga, dan waktu yang dimiliki. Guna merealisasikan itu semua, pemuda harus menunjukkan sikap berani dan penuh gairah untuk senantiasa mempertajam skill kepemimpinan yang dimiliki.

Tokoh-tokoh nasional seperti Soekarno dan Moh. Hatta merupakan salah dua dari sekian banyak pahlawan yang memiliki karakter kepemimpinan kharismatik, bertanggung jawab, semangat juang tinggi, hingga rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara.

Model kepemimpinan transformasional serta melayani yang ditunjukkan oleh keduanya dapat menjadi penuntun arah bagi pemuda Indonesia untuk keluar dari berbagai situasi sulit. Keduanya meyakini bahwa perjuangan Indonesia yang sesungguhnya ialah mengisi kemerdekaan dan mempertajam arah kemajuan bangsa dengan disertai pembentukan karakter pemuda yang kuat.

Implementasi Nilai-Nilai Kepahlawanan

Dalam upaya untuk menciptakan SDM unggul yang pintar, kreatif, jujur, dan bisa bersaing dalam mencapai visi Indonesia Emas tahun 2045, pemerintah telah menetapkan anggaran pendidikan senilai Rp 660,8 triliun. Foto: Dok. Kemenkeu

Upaya penguatan peran pemuda dapat dioptimalkan salah satunya melalui program digital campaign dengan memanfaatkan platform seperti media sosial. Tujuannya selain untuk memanfaatkan keberadaan media sosial secara bijaksana dan tidak terjerumus pada dampak negatif yang dihasilkannya, tetapi juga diharapkan dapat berimplikasi terhadap peningkatan kepedulian di lingkungan masyarakat khususnya kalangan pemuda.

Pelaksanaan digital campaign akan lebih baik apabila didukung oleh arsip-arsip kepahlawanan dari masa ke masa, sehingga lebih berdampak pada pemupukan wawasan kebangsaan kepada seluruh elemen bangsa, mulai dari kalangan pemuda seperti influencer, peneliti muda, public figure, tokoh masyarakat, hingga pembuat kebijakan baik di tingkat daerah maupun nasional. Alhasil membuat pemuda berkesempatan untuk mewujudkan kembali nilai-nilai kepahlawanan berdasarkan profesi masing-masing.

Meskipun ruang lingkup profesi di zaman sekarang lebih luas dan kompleks, namun apa yang terjadi kini merupakan buah dari apa yang terjadi pada masa lampau yang telah dilalui oleh para pahlawan. Berdasarkan pemahaman ini, sudah selayaknya setiap warga negara belajar dari para pahlawan yang telah terlebih dahulu menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga diharapkan para pemuda generasi muda mampu melestarikan nilai-nilai kepahlawanan secara berkesinambungan.

Dalam pengimplementasian campaign melalui platform digital, seyogyanya para pemuda pun menjunjung tinggi nilai-nilai kepahlawanan yang bersifat fundamental dengan penuh keikhlasan dan semangat bergelora guna mengembangkan diri. Keberhasilan dalam mewujudkan kembali nilai-nilai kepahlawanan melalui pengabdian pemuda akan berimplikasi pada penciptaan harapan menuju Indonesia yang lebih maju, yang mana bertindak nyata dan ikhlas berjuang merupakan penghubung antara warisan nilai-nilai kepahlawanan dan masa depan pemuda Indonesia yang lebih baik.

Peringatan tahunan seperti Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan dapat dijadikan momentum bagi para pemuda guna menjadi manusia Indonesia sesungguhnya. Apa yang telah dilakukan para pahlawan di masa lampau janganlah terlupakan, yang terbaik dari mereka telah dirasakan saat ini. Maka dari itu, sudah sepatutnya bagi pemuda untuk mencurahkan semua yang terbaik dari dirinya demi kejayaan bangsa dan negara, karena pada intinya bukanlah apa yang dapat diterima, melainkan apa yang mampu diberikan bagi negeri ini.